Analisa Saham LPPF Langsung ke Lapangan, Biar Tau Prospek dan Harga Wajarnya

Tema sebenarnya dari pembahasan Analis saat ini bukan hanya bagaimana analisa saham LPPF milik PT Matahari Departement Store Tbk, prospek saham LPPF 2018 dan juga harga wajar LPPF, tapi lebih ke penekanan soal cara analisa sederhana untuk saham yang lagi downtrend. Namun, info dasar yang anda cari tetap diulas juga.

Kalau mau menilai baik tidaknya prospek perusahaan kedepan, selain dari analisa fundamental pada laporan keuangannya langsung, sebenarnya bisa dilakukan dengan inspeksi langsung bisnis emiten tersebut di lapangan, di antaranya yang bisa kita nilai adalah tanggapan pasar/masyarakat secara umum pada bisnisnya, antusias pelanggan menggunakan produknya, inovasi produknya, pesaingnya, kondisi tempat usahanya, kualitas produknya dan lain sebagainya.

Cara yang saya maksud di atas adalah dengan melihat langsung bisnisnya dijalankan… ya tentu dengan datang dan melihat langsung toko atau perusahaannya.

Cara ini sering penulis lakukan juga, misalnya saat harga saham LPPF, saham milik Matahari, turun di bawah 10ribu per lembar, waktu itu saya juga agak tertarik mengoleksi sahamnya.

Tapi, ternyata setelah penulis kroscek langsung di lapangan dan melihat langsung kondisi bisnisnya ternyata muncul pandangan berbeda terhadap bisnis LPPF ini.

Waktu itu, saya sempat jalan-jalan ke salah satu Mall besar di Semarang pada saat hari kerja, dan sesuatu yang sangat mengherankan karena ternyata mall yang saat pertama kali saya kunjungi saat baru pindah dari Makassar tak lagi seramai dulu.

Kalau dulu, mau masuk saja harus berdesak-desakan. Sekarang, jangankan berdesak-desakan, masuk bersamaan/berpapasan dengan orang lain saja jarang terjadi karena begitu sepinya.

Dan sudah pasti, kalau mall nya secara keseluruhan sunyi, otomatis toko-toko di dalamnya juga demikian. Dan betul saja, saat saya menyempatkan lewat depan stan/toko Matahari , yang ada didalam lebih dominan SPGnya saja, bukannya calon costumer yang akan berbelanja.

Bukan cuma itu, bahkan di dalam mall tersebut banyak toko yang sudah tutup. Sebagian juga ada yang masih dalam proses sedang ditawarkan untuk dijual atau disewakan.

Fakta lainnya, PT Matahari Department Store Tbk juga mulai menutup beberapa gerainya, pernah juga dikabarkan kalau LPPF ini berencana menutup gerai tokonya di Pasaraya Manggarai dan Pasaraya Blok M (saya belum cek sudah terlaksana atau tidak), di tambah pusat perbelanjaan Taman Anggrek, Jakarta Barat, dan Lombok City Center, Nusa Tenggara Barat, masing-masing per 3 Desember 2017 dan 31 Desember 2017 yang juga bernasib sama.

Teman-teman semua pasti sudah tau salah satu alasan kuatnya mengapa toko-toko offline mulai banyak yang berjatuhan, bahkan banyak yang mulai gulung tikar. Ya, apalagi kalau bukan karena faktor persaingan dari toko online yang kian hari kian tak terbendung.

Terlebih, karena saat ini hampir semua pengguna ponsel sudah menggunakan smartphone yang bisa dengan mudah melakukan order barang dari HPnya langsung.analisa saham lppf

Memang betul kalau Matahari juga sedang berusaha ‘bertarung’ dalam persaingan toko online, dengan gencar membangun dan mempromosikan situs Mataharimall.com miliknya, tapi kenyataan berkata lain. Toko online yang dipromosikan LPPF tersebut tak seberhasil pesaing besar lainnya, seperti Bukalapak, Tokopedia, dan Shopee.

Tidak usah kita buat penelitian muluk-muluk deh, coba teman-teman cek HPnya masing-masing, kira-kira siapa yang diantara teman2 yang sudah menginstall aplikasi toko online Matahari? Kalau saya sih jelas tidak, karena di benak saya sudah tertanam kalau ‘baju dari Matahari itu muahal-muahal…”, jadi gak mungkin tertarik pasang aplikasinya. Belum lagi, di luar sana ada banyak toko online yang harganya bikin ngiler.

Dari kasus penutupan gerai satu per satu di atas di tambah dengan promosi toko online MatahariMall.com yang kian gencar, penulis menilai ada usaha keras dari pihak manajemen Matahari untuk ‘banting stir’ ke bisnis penjualan baju yang lebih trend saat ini, yaitu melalui online shop. Sebab, dalam banyak kasus, toko offline tidak mungkin menutup gerainya kalau bukan karena tokonya mulai ditinggal pelanggannya atau kalah bersaing dengan ‘rumput tetangga yang lebih hijau’.

Hanya saja, buat yang sering bertanya bagaimana prospek saham LPPF 2018?, kalau saya dikasih pilihan, apakah memilih berinvestasi di saham yang tampak mulai menurun kinerjanya dan baru mulai membuka ‘lapak baru’ atau  berinvestasi di perusahaan yang masih tetap dan terus tumbuh kinerjanya, maka sudah tentu saya memilih pilihan kedua. Dan kalau seandainya Bukalapak atau Tokopedia juga listing, saya mungkin lebih memilih berinvestasi disitu. Ya jelas, lha wong lapaknya sudah ramai. Betul nggak?

Dari kroscek lapangan langsung yang sudah penulis lakukan, ditambah fakta nyata dari tutupnya satu per satu gerai Matahari, maka sebenarnya sudah bisa ditarik kesimpulan awal bahwa saham Matahari untuk jangka panjang sangat tidak prospek untuk kemudian dikoleksi, apalagi masuk dalam portofolio nabung saham kita.

Dan bila ada yang bilang, kan kita belum lihat valuasinya dan kinerjanya secara keseluruhan dalam laporan keuangannya? Ya betul. Tapi, penulis punya standar sendiri soal ini bahwa fakta lapangan terkadang harus lebih dipertimbangkan dari pada angka-angka dalam laporan keuangan emiten. Ya, karena fakta lapangan tidak bisa dimanipulasi dan lebih mudah bagi kita memprediksi kondisi yang mungkin terjadi di masa akan datang.

Dan kalau saya katakan bahwa fakta lapangan bisa lebih dipertimbangkan dari pada fakta hitam di atas putih, dalam hal ini laporan keuangan, sebenarnya bukan sekededar pernyataan kosong belaka. Saya berikan contoh dari saham batubara, kalau misalnya teman2 Analis hanya fokus pada laba, ROE, dan sebagainya kemudian memutuskan membeli sahamnya, sedangkan di lapangan harga batubara mulai turun perlahan, maka saya yakin Anda pasti akan mengalami kerugian yang besar.

Ini karena salah satu karakter saham pertambangan seringkali harga sahamnya naik atau turun bukan karena kinerjanya lagi baik atau jelek, tapi karena dipengaruhi dari harga maupun prediksi harga kedepannya. Baca Analisa Fundamental Saham PTBA

Kasus soal ini pernah terjadi antara tahun 2012-2013 dimana waktu itu harga batubara mulai tampak turun sedang sebagian emiten masih menunjukkan angka-angka laporan keuangannya yang tampak menarik. Tapi kenyataannya, setelah itu, bukannya sahamnya tambah naik, malah berangsur-angsur turun semua. Ya, ini karena kebanyakan trader lebih cenderung melihat pergerakan harganya dari pada kinerjanya saat ini.

Kembali ke soal Analisa Saham LPPF…

Dan benar saja, saham LPPF yang tadinya sudah jatuh di bawah level Rp10ribu per lembar (padahal sudah turun dalam dari level Rp21.500 dari pertengahan Juli 2016), sekarang ini sudah nyungsep di level Rp6.575 per lembar.

Seandainya mungkin karena valuasi sahamnya saja yang penulis pertimbangkan waktu itu dan langsung membeli saham LPPF, maka rugi 40% bahkan lebih mungkin sudah saya alami sekarang. Tapi untungnya, cara analisa klasik ini masih saya lakukan.

Dari sini kita bisa mengambil hikmah bahwa apa yang diajarkan para master saham seperti Warren Buffett dan lainnya adalah sesuatu yang tidak bisa kita anggap remeh.

Jadi, pelajaran apa yang bisa kita petik dari kasus ini? Ya, dalam melakukan analisa saham kita tidak bisa hanya fokus pada data-data dalam laporan keuangan emiten, apalagi kalau teman2 sampai menjadikan berita rumor dari media online sebagai data sumber utama analisis teman2.

Kalau memang tidak bisa melihat langsung bisnisnya, paling tidak kroscek testimoni pelanggan-pelanggannya, siapa tau kita bisa dapat informasi banyak dari sana.

Lalu, Berapa Harga Wajar Saham LPPF?

Kalau kita merujuk ke harga saham terbaru LPPF yang di level Rp6.550 per lembar dan jumlah saham beredarnya sebanyak 2.917.918.080 (2,9 milyar lembar), serta laba bersihnya yang sebesar Rp1,345 triliun, maka PER LPPF saat ini adalah 14 kali dari harga sahamnya. Ya, masih tergolong murahlah kalau teman2 Analis mau ikut dengan standar saya di postingan ini: Rumus Price Earning Ratio

Nah, kalau nilai buku dan PBV LPPF berapa?

Berdasarkan laporan keuangan LPPF untuk kuartal II 2018 diketahui bahwa Ekuitas LPPF sebesar Rp2,337 triliun, sehingga harga wajar LPPF saat ini adalah Rp801 per lembar. Jadi kalau anda membeli saham LPPF di harganya sekarang, yaitu Rp6.550 per lembar maka itu artinya kamu membeli sahamnya di harga 8 kali dari harga wajarnya, Karena dengan book value Rp801 maka PBV LPPF adalah 8 kali harga sahamnya.

Kalau belum tau rumus PBV, silahkan baca Cara Menghitung PBV Saham.

Dan kalau bicara soal analisa growth saham Matahari Departement Store ini, saya kurang bisa bicara banyak karena laba bersih untuk periode yang sama sebelumnya, yaitu kuartal II 2017, tidak ditampilkan di laporan keuangannya. Saya juga sih gak mau ambil pusing soalnya kurang tertarik dengan saham ini.

Katanya sih naik 0,5% dibanding semester I 2018. Tapi, di press release-nya juga kurang teliti karena seharusnya triliun nyebutnya malah milyar. Karena, kalau laba bersihnya disebut Rp1,345 milyar saja di press release tersebut dan di LKnya ditulis Rp1.344.808 (padahal pembulatan yang digunakan Jutaan), maka kalau di LKnya disebut total asetnya Rp6.711.376, berarti total aset Matahari cuma 6 milyar dong, kan gak mungkin perusahaan sebesar itu asetnya hanya secuil.

Saya sudah konfirmasi terkait press release tersebut tapi belum ada balasan dari pihak manajemen Matahari.

Tapi perlu dipahami teman2, kalau analisa yang saya ulas di atas bukan untuk menilai atau prediksi LPPF dalam jangka pendek, tapi untuk jangka panjang. Jadi, bisa jadi saham LPPF ini akan naik lagi di atas 10ribu per lembar nantinya karena faktor rilis laporan keuangan terbarunya yang menunjukkan kinerja yang lebih baik.

Alasannya kuatnya lebih karena melihat bisnis penjualan online yang kian hari kian membuat banyak pebisnis offline mengeluh. Terlebih, karena bisnis dari Matahari adalah penjualan baju, yang notabene merupakan kategori bisnis offline yang paling terdampak oleh perkembangan bisnis online shop.

Kenapa saya katakan demikian? Ya, karena jenis bisnis yang paling tinggi tingkat penjualannya secara online adalah penjualan baju ini. Kenyataannya, saat ini hampir semua ibu-ibu yang sudah menggunakan smartphone dan punya akun WA tidak mau ketinggalan ikut berjualan busana online juga.

Dan parahnya, mereka bahkan tak butuh dana sepeserpun untuk memulai usaha sampingannya tersebut karena adanya sistem penjualan Dropship dimana para mama-mama tersebut tak perlu stock barang. Begitu ada yang mau beli langsung suruh transfer saja dan barang dari produsen dikirim langsung ke rumah pembeli, tanpa lewat si penjual dropship tersebut dan dengan menggunakan namanya sebagai pengirimnya, bukan nama dari produsennnya.

Gimana gak merusak bisnis perusahaan besar seperti Matahari dan lainnya kalau semua orang sekarang sudah bisa jualan sendiri tanpa modal?

Dan kalau pun kita masih bisa melihat orang-orang yang masih menggunakan Matahari sebagai solusi belanjanya, dari pada belanja online yang super gampang dan cepat, menurut hemat penulis, itu hanya karena masih menyisakan orang-orang yang masih ragu berbelanja online atau mungkin karena dari golongan generasi gaptek yang kurang paham penggunaan android dan sejenisnya.

Tapi saya yakin, lambat laun seiring dengan makin berkembangnya jaman ini, ditambah kebijakan-kebijakan pemerintah yang berpihak pada peningkatan lapangan kerja, atau pun peningkatan penggunaan uang elektronik yang santer diberitakan berbagai media, maka cepat atau lambat toko online akan menjadi solusi belanja yang lebih utama dibanding belanja offline yang harus datang ke tokonya langsung.

Lalu, setelah itu bagaimana nasib toko baju offline yang masih aktif saat ini, khususnya Matahari?

Menurut pandangan penulis, tergantung manajemennya.

Kalau Matahari bisa meniru manajemen PT. Telkom, maka pasti bisa keluar dari masalah tantangan zaman ini. Sebab, kalau kita berkaca pada perusahaan Telkom ini, seandainya di awal-awal kemunculan telpon seluler pihak manajemen Telkom tidak bekerja pintar dan langsung mengambil langkah antisipasi dengan membuat divisi usaha dan produk baru, yaitu Flexi dan Telkomsel, maka bisa dipastikan Telkom saat ini sudah gulung tikar.

Dan untungnya lagi, saat itu Telkom langsung membuat dua alternatif, bukan cuma Flexi untuk CDMA saja. Jadi sekalipun produk CDMA mulai ditinggalkan, Telkomsel bisa tetap terus berjaya, dan bahkan menjadi leader di bidangnya.

Dan satu langkah pintar lagi yang diambil Telkom saat ini, yang menurut hemat penulis sebagai pelajaran penting bagi LPPF, dimana mulai tahun 2018 ini bisnisnya mulai difokuskan pada bisnis online, bahkan hampir totalitas ke arah bisnis online.

Pertanyaannya, apakah LPPF melakukan seperti yang dilakukan TLKM?

Ya, hanya saja. MatahariMall.com yang diluncurkan oleh pihak Matahari tidak berhasil booming dan menjadi toko online idola masyarakat Indonesia saat ini.

Faktanya, dari 100 orang teman penulis sendiri, hampir tidak ada yang membahas apalagi menginstall aplikasi MatahariMall di HPnya. Berbeda dengan Tokopedia, Bukalapak, atau Shopee yang katanya bebas ongkir, malah paling sering diperbincangkan dan hampir setiap orang punya aplikasinya.

Dari analisa penulis sendiri, sebagai orang yang punya pengalaman banyak soal SEO dan pembuatan web juga (bukan hanya analis saham saja), letak kesalahannya sebenarnya terletak pada penggunaan kata Matahari di domain tokonya.

Kalau saya sih, mending buat brand toko online baru tanpa embel-embel Matahari lagi, dengan tambahan fitur yang lebih menggiurkan dari ketiga marketplace di atas. Sekalipun mungkin kita tidak bisa menyamakan ketiga marketplace tersebut dengan toko onlinenya Matahari karena MatahariMall sendiri bukan marketplace, tapi toko online dari usaha tunggal yang suppliernya diatur oleh Matahari sendiri.

Dan, bila Matahari ternyata tidak bisa meniru model bisnis Telkom yang selalu melakukan lompatan setiap kali arah bisnis dan zaman berubah, anggaplah seperti taksi offline yang biayanya lebih mahal dari taksi online yang beroperasi 24 jam (tapi untungnya Blue Bird bisa nebeng dengan Go-Jek), maka tidak berlebihan kalau saya katakan bahwa Matahari lambat laun akan semakin ditinggalkan.

Analisanya sederhana sekali, jika penjualan makin hari makin merosot, sementara biaya untuk membuka atau sewa toko sebesar Matahari di Mall terkenal tidak kecil, ditambah biaya membayar karyawan yang jumlahnya tidak sedikit dan harus UMR semua, maka di periode-periode selanjutnya dari tahun ke tahun pasti akan terlihat jelas penurunan perolehan labanya.

Kasusnya kurang lebih sama dengan bisnis Koran saat ini. Sekarang memang masih ada saja yang membeli atau membaca Koran, tapi perlu diketahui bahwa itu bisa seperti itu karena memang masih banyak bapak-bapak yang berumur di atas 45 tahun bahkan di atas 50 tahun yang masih senang baca Koran, entah karena masih sesuai dengan zamannya atau karena tidak paham penggunaan smartphone.

Faktanya (wah saya nyebut fakta terus! tapi ini benar fakta bro), saat saya menghadiri suatu pertemuan yang dihadiri lebih dari 100 orang yang rata-rata umurnya di bawah 30 tahun semua dan kebetulan waktu itu pematerinya berkata, “Siapa yang baca Koran sebelum datang ke sini (pertemuan maksudnya)?” Terus, para peserta ramai-ramai menjawab, “tidak ada… sudah kuno! Bacanya dari hp langsung pak!”.

Nah, dari sini bisa ditarik kesimpulan bahwa seberapa pun besarnya suatu bisnis kalau zaman sudah berubah maka lambat laun usahanya juga akan ditinggal orang.

Mungkin itu yang bisa saya share hari ini soal bagaimana analisa saham LPPF – PT Matahari Departeman Store Tbk. Selanjutnya, kalau anda bertanya bagaimana prospek saham LPPF 2018 dan kedepannya serta harga wajarnya maka baca artikel ini bisa memberikan sedikit gambaran.

Buat yang masih pemula, belajar Cara Membeli Saham Perushaan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *