8 Cara Diversifikasi Portofolio Saham serta Contoh, Manfaat dan Kelemahannya

Jika anda bertanya bagaimana cara diversifikasi portofolio saham yang baik dan benar, atau contoh diversifikasi portofolio yang seharusnya dalam pembentukan portofolio itu seperti apa?

Nah, Analis.co.id kali ini mau fokus membahas semua pertanyaan tentang diversifikasi portofolio, termasuk manfaat, kekurangan dan kelebihannya.

Sebenarnya, banyak yang juga bertanya, untungnya kan jadi sedikit kalau kita melakukan penganekaragaman jenis saham?

Betul. Memang demikian, dan inilah saya kira salah satu kekurangan dari teknik ini.

Kenapa demikian?

Ya, karena jika misalnya kita punya 10 saham dalam akun trading yang dikelola kemudian anggaplah 7 dari 10 saham tersebut ternyata untung masing-masing rata-rata 10%, tapi 3 saham lainnya ternyata rugi 10% juga, maka cuan yang didapat tentu tidak sampai 10% lagi karena dikurangi dari kerugian 3 saham lainnya.

Sedangkan, jika misalnya kita tidak melakukan diversifikasi sama sekali karena tujuan investasi jangka panjang mislanya, maka jika satu saham saja yang kita hold lalu saham tersebut kemudian naik 10% maka sudah pasti untung kita kurang lebih segitu, setelah dikurangi fee trading-nya.

Pertanyaan yang muncul kemudian, bagaimana kalau kita tidak melakukan diversifikasi dan ternyata saham ‘semata wayang’ yang kita miliki ternyata anjlok? Bagaimana mengatasinya?

Nah, itu pertanyaan yang sangat sulit. Bahkan investor kawakan sekelas Warren Buffett mungkin akan sulit juga menjawabnya.

Terlebih lagi, akan semakin parah dampaknya jika kita mengabaikan manajemen resiko investasi yang seharusnya dilakukan, seperti menyisihkan 10%-30% dana cadangan untuk jaga-jaga.

Anggaplah kita beli satu saham saja dan saham tersebut turun hingga 50%. Maka sudah pasti kita tidak bisa melakukan average down dan strategi manajemen resiko lainnya kan?.

Dan kalau pun bisa melakukan averagedown, kita juga tentunya sudah hilang kesempatan untung dari saham lain, yang jika seandainya dilakukan diversifikasi maka bisa jadi untung dari saham tersebut bisa menutup kerugian dari saham lain.

Dan yang pasti juga, kalau tanpa diversifikasi portofolio maka kalau ruginya 50% maka sudah tentu nilai aset investasi kita berkurang sebanyak itu juga.

Berbeda kalau dengan diversifikasi saham, misal ada satu yang rugi hingga 50%, sedang yang lain untung maka tentunya tidak akan sebesar itu ruginya, apalagi kalau ada minimal 10 saham dalam portofolio teman2 Analis yang kenaikan dan penurunannya beragam.

Intinya, saya mau mengatakan bahwa investasi saham tanpa diversifikasi merupakan hal yang sangat beresiko. Karena sebenarnya tujuan utama berinvestasi adalah untuk mengamankan aset kita agar tidak tergerus oleh penjahat finansial anti hukum, yaitu inflasi. Adapun keuntungannya, anggaplah itu bonus dari investasi saham yang dilakukan.

Sudah ya prolognya! Mari lanjut ke materi intinya.

Pengertian Diversifikasi adalah…

Sebelum lanjut lebih jauh soal apa itu defenisi diversifikasi, saya ingin menjelaskan dulu soal apa itu portofolio.

Menurut Suad Husnan (2001: 54), portofolio adalah ‘sekumpulan kesempatan investasi’.

Menurut  Thomas E. Copeland dan J. Fred Weston sebagaimana disebutkan dalam buku ‘Manajemen Investasi Fundamental, Teknikal, Perilaku Investor dan Return Saham’ (hal. 366)yang disusun oleh Dr. Musdalifah Azis, S.E., M.Si., Prof. Dr. Sri Mintarti, M.Si., Maryam Nadir, S.E., M.Si. menyebutkan bahwa:

“Teori portofolio adalah merupakan teori modern mengenai pengambilan keputusan dalam situasi ketidakpastian. Tujuannya adalah untuk memilih kombinasi yang optimal dari saham-saham yang dipegang (portofolio efisien).

Tujuannya adalah untuk memperoleh hasil tertinggi yang diharapkan dari setiap tingkat resiko atau pun tingkat resiko terendah yang mungkin bagi setiap hasil yang diharapkan.

Adapun pengertian diversifikasi adalah sebagaimana disebutkan dalam KBBI, yaitu

  1. penganekaragaman;
  2. penganekaan usaha untuk menghindari ketergantungan pada ketunggalan kegiatan, produk, jasa, atau investasi;

Dengan demikian kita bisa memahami bahwa diversifikasi merupakan salah satu metode mengelola portofolio saham dengan membeli saham yang beragam dalam satu waktu agar terhindar dari resiko kerugian signifikan.

Atau dalam bahasa sederhanya, ini mirip dengan ungkapan “Jangan letakkan semua telur dalam satu keranjang.”

Artinya apa? Jadi dengan tidak membeli saham dalam satu macam atau pun satu saham saja maka kita berusaha melakukan metode investasi yang aman dan menguntungkan dalam jangka panjang.

Cara dan Contoh Diversifikasi Portofolio

Diversifikasi pembentukan portofolio sebenarnya salah satu usaha dari investor saham dalam meminimalisir kerugian, sekaligus untuk memperoleh imbal hasil investasi yang tinggi tiap tahunnya.

Ada banya cara yang bisa dan saya kira sebaiknya semua dilakukan untuk memantapkan keamanan aset investasi.

Di antara cara mendiversifikasi portofolio adalah sebagai berikut:

1. Diversifikasi Instrumen Investasi

Yang dimaksud disini adalah melakukan penganekaragaman investasi pada beberapa instrumen investasi, jadi tidak hanya berinvestasi di saham saja.

Contohnya, jika memiliki modal hingga Rp100 juta maka bisa dibagi menjadi tiga bagian, contohnya 30% untuk investasi saham, 30% untuk reksadana, dan 30% lagi untuk aset bebas resiko seperti deposito dan sebagainya.

Adapun sisanya, 10% yang belum digunakan maka bisa dibuat sebagai jaga-jaga saja kalau misalnya dari investasi saham yang dilakukan ada beberapa saham yang turun dan harus dilakukan average down.

Dengan melakukan teknik di atas, jika seandainya fokus utama teman-teman pada investasi saham dan kebetulan terjadi koreksi pasar besar-besaran yang mengakibatkan IHSG dan portofolio ‘merah’ (turun atau rugi) seperti pada tahun 2008, maka kerugian yang akan diderita tidak akan separah dibandingkan jika hanya berinvestasi pada saham saja.

Kenapa demikian? Ya, karena investasi pada aset bebas resiko kita masih aman-aman saja, dan kemungkinan masih bisa menghasilkan dan menutup nilai kerugian dari saham tersebut.

Di samping itu, kalau kita mau melakukan average down untuk tujuan memperoleh ‘harga tengah’ dari penurunan harga saham saat itu, maka dananya bisa diambil dari menjual nilai investasi dari reksadana maupun dari aset bebas resiko tersebut.

Sekalipun demikian, sekalipun torgolong aman dari resiko kerugian besar, teknik ini hasilnya mungkin tidak akan setinggi kalau si investor fokus pada saham saja karena imbal hasil investasi tertinggi ada pada saham.

2. Diversifikasi pada sektor

Perbedaan dari cara diversifikasi portofolio saham yang pertama di atas, di sini diversifikasinya dilakukan dalam satu instrumen investasi.

Akan lebih kecil resikonya jika cara penyeragaman investasi yang pertama dan kedua dilakukan bersamaan. Sekalipun keuntungannya tidak terlalu tinggi, tapi dalam jangka panjang investasi Anda akan aman dan cenderung meningkat.

Dengan melakukan penyeragaman investasi pada jenis saham berdasarkan sektornya, maka resiko kegagalan investasi bisa lebih diminimalisir.

Sebab, jika misalnya seseorang hanya fokus pada satu sektor saja, anggaplah pada sektor pertambangan batubara saja, maka jika harga batubara anjlok dan kinerja serta harga sahamnya juga demikian, maka besar kemungkinan portofolio trader tersebut akan mengalami kerugian yang masif.

Di samping itu, kalaupun saham yang turun tersebut akhirnya bisa kembali naik lagi seperti sebelumnya, tapi kerugian dan perlambatan pertumbuhan aset investasi tetap akan dialami.

Saya berikan contoh, misalnya seorang trader saham tidak melakukan diversifikasi sektor pada portofolionya, anggaplah dia hanya membeli saham batubara seperti PTBA, KKGI, dan BUMI secara bersamaan kemudian kita anggap juga masing-masing harganya turun hingga 20%.

Nah, bila harga saham di atas ternyata balik lagi ke harganya semula setelah 6 bulan kedepan atau lebih, maka selama itu juga si trader tersebut harus menunggu tanpa melakukan apa-apa.

Padahal, bisa jadi ada banyak saham lain di sektor lain yang disaat bersamaan sangat prospek dan kenaikannya juga sangat tinggi.

Sehingga, kalau memang terjadi seperti itu, dan dalam praktek investasi saham memang selalu terjadi kejadian seperti itu, maka inilah yang dinamakan perlambatan pertumbuhan investasi.

Selain itu, sekalipun saham-saham disektor tersebut bisa kembali ke harganya semula (dari penurunan 20% tersebut) maka sebenarnya tetap saja rugi namanya.

Karena, jika seandainya dilakukan diversifikasi portofolio pada sektor lain maka saham dari sektor lain tersebut bisa dijual untuk melakukan average down (membeli kembali saham yang sama yang sedang turun), sehingga saat kembali ke harganya semula kita bukannya memperoleh harga yang sama lagi, tapi sudah untung.

Kenapa bisa begitu?

Ya, karena dengan melakukan averagedown kita bisa dapat harga tengahnya atau lebih rendah dari harga beli semula.

Contohnya, saham PGAS dibeli seharga Rp2.200 dengan modal Rp10 juta, kemudian karena gejolak pasar akhirnya turan menjadi Rp2.000 per lembar.

Nah, bila kita punya cadangan dana dari menjual saham di sektor lain yang sama atau sejumlah dengan pembelian awal PGAS, yaitu Rp10 juta juga, kemudian dipakai membeli saham PGAS lagi yang sedang turun. Maka, harga saham PGAS yang tercatat di portofolio teman-teman tidak lagi Rp2.000 per lembar, tapi akan jadi Rp2.100 per lembar.

Sehingga, bila saham PGAS tersebut kembali ke harga awalnya, yaitu Rp2.200 per lembar maka si trader tersebut sudah akan untung Rp100 per lembarnya.

Jika begitu, diversifikasi ini sebenarnya terlihat tidak terlalu menguntungkan karena banyaknya saham yang harus di-hold dengan hasil yang beragam.

Tapi di sisi lain, jika IHSG mengalami koreksi kita juga akan diuntungkan melalui averagedown tersebut.

Lalu pertanyaannya, berapakah sektor yang sebaiknya dipilih untuk sekali investasi?

Kalau saya sih, 3 sektor cukup dan sudah tergolong aman. Tapi, bila ada yang mau lebih, misalnya sampai 5 sektor juga tak masalah, asalkan jumlah saham dalam portofolio tidak terlalu banyak.

3. Berinvestasi pada Perusahaan sekuritas yang Berbeda-berbeda

Ini mungkin lebih tepat kalau dikaitkan dengan pribahasa “Jangan letakkan semua telur dalam satu keranjang.”

Ya, cara mendiversifikasi portofolio saham yang satu ini tergolong hampir sama dengan yang pertama.

Hanya, disini tujuannya bukan untuk resiko kerugian dari penurunan nilai investasi, tapi untuk antisipasi resiko kecurangan dan kegagalan sistem.

Maksudnya, kalau kita berinvestasi saham minimal di dua perusahaan sekuritas, maka jika seandainya salah satu perusahaan sekuritas curang atau sistemnya rusak, maka dana tidak akan hilang seluruhnya.

Atau pun, bisa juga terhindar dari resiko terhenti melakukan investasi dan kehilangan kesempatan trading beberapa hari karena sistem yang error.

Ini jarang dibahas, tapi cara ini saya lakukan sendiri dan hasilnya lumayan baik.

Karena pernah suatu waktu sistem di perusahaan sekuritas tempat saya berinvestasi sedang bermasalah, jadi saya bisa langsung mengalihkan aktifitas trading saya seketika itu juga pada akun trading satunya lagi.

Contoh mendiversifikasi portofolio lainnya adalah diversifikasi portofolio internasional. Maksudnya disini, anda berinvestasi bukan hanya di satu negara saja.

Jadi, bila di suatu negara kondisi indeks sahamnya lagi bermasalah, maka alokasi investasi di negara lain bisa tetap aman-aman saja.

Hanya saja, kekurangan dari cara ini dimana waktu untuk mengontrolnya juga dibutuhkan perhatian ekstra. Kecuali kalau manajemennya diserahkan pada orang lain, mungkin bisa.

4. Diversifikasi melalui jenis dan karakter saham

Cara diversifikasi portofolio saham yang keempat ini lebih cenderung pada upaya percepatan peningkatan keuntungan dari investasi saham yang dilakukan.

Untuk melakukan cara ini maka cukup tau jenis-jenis saham yang ada di bursa efek Indonesia.

Secara umum, menurut hemat penulis, ada dua penggolongan jenis saham secara umum, yaitu:

A. Jenis saham berdasarkan kapitalisasi pasarnyacontoh diversifikasi portofolio

  • First liner (kapitalisasi 10 triliun lebih)
  • Saham second liner (kapitalisasi 500 M – 10 T)
  • Third liner (kapitalisasi lebih kecil dari 500 milyar)

Ketiga jenis saham di atas memiliki karakternya masing-maisng.

Bagi saham first liner atau yang bisa kita anggap sama dengan blue chip, umumnya pergerakan sahamnya lambat, walau sangat likuid. Karena, tingkat transaksi hariannya yang cukup tinggi dan dengan volume transaksi yang cukup besar juga.

Di samping kekurangannya tersebut, saham blue chip ini punya kelebihan dimana ia cenderung aman dihold karena umumnya dari perusahaan bonafid yang sudah lama beroperasi dan mampu membukukan laba secara konsisten.

Adapun untuk jenis second liner dan third liner sifatnya kurang likuid karena nilai transaksi hariannya yang sedikit. Hanya saja, sekali saham ini bergerak dan mulai ramai ditransaksikan maka pergerakannya bisa tinggi sekali dalam sehari, bahkan sering sampai ARA.

Sedangkan kekurangan jenis saham lapis kedua dan ketiga, resikonya cenderung tinggi karena umumnya sahamnya dari perusahaan-perusahaan kecil yang baru berkembang.

Nah, dalam hal manajemen pembentukan diversifikasi portofolio, dari 3 pilihan kapitalisasi pasar di atas anda bisa memilih 3 jenis tersebut.

Bukan cuma 3 jenis di atas, masih ada jenis saham lainnya yang bisa dipilih untuk melakukan diversifikasi. Silahkan simak di artikel: Jenis-jenis Saham

5. Penganekaragaman dengan persentase alokasi portofolio

Di atas sudah diajarkan cara diversifikasinya, nah sekarang soal berapa persentase yang harus dialokasikan pada setiap porsi saham tersebut?

Tentunya, karena manfaat diversifikasi investasi ini agar aset investasi trader bisa tetap aman dan terus bertumbuh dalam jangka panjang, maka hal yang paling disarankan adalah:

dengan membeli saham blue chip lebih banyak dari saham yang tidak likuid atau yang dari perusahaan kecil.

Alasan utamanya karena perusahaan yang sudah mapan resikonya lebih kecil, baik itu resiko bangkrut, gagal bayar utang, manajemen dan lainnya.

Dibanding perusahaan yang masih kecil, apalagi yang masih baru, umumnya belum stabil dan rentan dengan resiko bisnis.

Sebaiknya, porsi untuk saham first liner dibuat lebih banyak, antara 50%-70%, sisanya baru dibagi-bagi ke saham jenis ke-2 dan ke-3.

Sekalipun begitu, angka-angka persentase dari porsi diversifikasi di atas bukanlah angka yang pasti dan harus seperti itu. Setiap trader punya cirinya sendiri dan bisa menentukan sendiri alokasinya, selama tetap aman saja.

Selanjutnya baca: Part II soal cara diversifikasi ke-6 hingga ke-8.

Sekalipun di atas membahas terkait saham, tapi ulasannya juga bisa diimplementasikan untuk investasi reksadana dan instrumen lainnya.

Demikian artikel panjang soal contoh diversifikasi portofolio serta manfaat dan cara mendiversifikasi portofolio dalam investasi saham. Semoga pertanyaan tentang pembahasan ini bisa terjawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *