Lanjutan Contoh Diversifikasi Portofolio (Part 2)

Di artikel sebelumnya sudah dibahas 5 dari 8 contoh diversifikasi portofolio saham, nah sekarang kita lanjut membahas cara diversifikasi portofolio yang ke-6 hingga ke-8.

Untuk lebih jelasnya, baca: 8 Cara Diversifikasi Portofolio Investasi

Manfaat dari melakukan penganekaragaman investasi sebenarnya tujuannya untuk memperoleh keamanan berinvestasi dan juga sekaligus pertumbuhan nilai aset yang terus meningkat dalam jangka panjang.

Contoh Diversifikasi Portofolio Saham atau Reksadana

Berikut ini sudah masuk soal manajemen akun sekuritas. Sebaiknya diapakan dan apa saja standarnya?

Jika belum paham 5 jenis lainnya silahkan baca lagi dari tautan di atas.

6. Kontrol jumlah saham dalam portofoliomu

Banyak yang bilang kalau semakin banyak saham yang dibeli dan dihold dalam satu waktu maka resikonya akan semakin kecil!

Ya, memang betul demikian.

Tapi kalau terlalu banyak, dampaknya adalah return yang diperoleh juga sedikit.

Karena, kalau misalnya dalam portofolio saham yang dikelola ada 30 saham lebih, maka jika seandainya ada 2-3 saham yang bisa untung hingga 50%, hasilnya tetap sedikit karena nilai 50% tersebut hanya dari 2-3 saham yang totalnya ada 30 saham lebih.contoh diversifikasi saham

Atau dengan kata lain, kalau tiap saham alokasinya hanya sekitar 3% lebih (karena 100% dibagi 30%) dari total modal investasi, maka kalaupun untung hingga 50% maka itu sama dengan 1,5% saja dari total nilai investasi anda. Paham kan maksudnya?

Terus ada yang bilang, kan Warren Buffett sendiri melakukan diversifikasi hingga 40 saham dalam satu waktu?

Ya, betul sekali.

Tapi, 40 saham dengan modal ratusan triliun itu wajar.

Kan gak mungkin juga uang sebanyak itu dipakai beli 3-5 saham saja sedangkan nilai total saham dari satu perusahaan saja tidak sebanyak dari modal pak WB tersebut.

Selain itu, terlalu banyak saham yang dibeli dalam satu waktu maka kekurangannya adalah kita akan sulit mengontrol semua fundamental saham tersebut. Kan tiap kuartal kita harus cek satu per satu kondisi fundamentalnya?

Jangan sampai ada 40 saham dalam portofolio anda dan sebagian besar sudah harus dijual karena perusahaannya sedang bermasalah, tapi malah tetap di-hold.

Nah, kalau begitu bukannya dengan melakukan diversifikasi resikonya jadi kecil, malah potensi resikonya semakin besar.

Saya pribadi paling membatasi hingga 10 saham saja.

Minimalnya, ya antara 3-5 saham. Tapi paling baik minimal 5 saham dan saya kira itu sudah standar banget.

7. Atur alokasi dana cadangan

Ini juga masuk dalam cara diversifikasi saham dalam portofolio.

Artinya, mendiversifikasi antara modal yang digunakan membeli saham dan modal yang disimpan untuk jaga-jaga.

Jadi begini contohnya…

Misal kita punya uang 100 juta yang sudah didepositkan ke dalam akun sekuritas. Nah, biar bisa lebih aman dan punya kesempatan melakukan averagedown saat terjadi penurunan harga saham, maka tidak semua modal tersebut dibelikan saham.

Caranya bagaimana?

Ya, teman-teman bisa menyisihkan antara 10%-30% dari total dana tersebut dengan tetap membiarkannya berada dalam akun deposit.

Terus ada yang bilang begini:

“Kan kalau uangnya dipakai semua untuk membeli saham bukannya untungnya lebih banyak?”

Ya, betul demikian.

Tapi kan ini investasi saham, bukan properti atau instrument investasi lainnya yang mana bisa sewaktu-waktu turun.

Sekali lagi saya ulangi bahwa jika rata-rata saham dalam portofolio turun, dengan adanya dana cadangan maka averagedown yang dilakukan memberikan kesempatan untuk memperoleh harga tengah dan mempercepat cuan jika harga saham kembali naik.

Bila belum paham juga maksudnya, silahkan baca lagi prolog dari tulisan ini.

8. Evaluasi dan Rutin Melakukan Rebalancing

Rebalancing merupakan proses di mana si trader menyelaraskan atau menyeimbangkan bobot aset yang diinvestasikan dalam portofolio yang dimilikinya.

Dalam hal saham misalnya, rebalancing dapat merujuk pada kegiatan yang melibatkan aktivitas membeli atau menjual aset dalam portofolio untuk menjaga porsi alokasi aset sesuai yang diinginkan.

Jadi begini…

Ada banyak juga dari teman Analis yang bertanya:

“Kalau keuntungan 15%-30% per tahun dari saham, memang banyak saham yang bisa memberikan keuntungan seperti itu dalam setahunnya?

Ini perlu juga dipahami dengan baik.

Bahwa, maksud 15%-30% itu bukan dari beli 1-2 saham saja kemudian ditinggal tidur dan setelah setahun baru dicek kembali.

Jadi bukan begitu maksudnya bro!

Nilai keuntungan sebanyak itu sebenarnya didapat dari strategi manajemen portofolio yang dilakukan, atau kalau yang penulis bahasakan di atas adalah rebalancing.

Contoh pelaksanaannya seperti ini:

Misal di bulan Januari kamu mulai beli 5-10 saham. Kemudian, pada bulan April ternyata ada 3 saham yang sudah naik banyak dan harganya sudah mahal. Nah, saham tersebut lalu dijual.

Di satu sisi, ada juga beberapa saham yang sudah naik banyak tapi harganya masih murah jadi diputuskan tetap dihold, lainnya lagi ada yang rugi dan fundamentalnya memang buruk jadi harus dijual, dan kondisi lainnya.

Jika demikian, dimana ada saham yang dijual dan ditahan, maka dibulan April tersebut jumlah saham dalam portofoliomu kan berkurang?

Langkah yang diambil selanjutnya adalah mecari saham murah dan fundamentalnya bagus lagi untuk kemudian dibeli. Jika tidak ketemu, boleh juga untuk tidak membeli saham dulu sehingga jumlah saham yang dimiliki tidak lagi 10 saham.

Jadi, begitu seterusnya hingga akhir tahun. Akan terjadi jual beli saham berkali-kali dan juga penyesuaian formasi saham yang dimiliki. Hasil dari manajemen portofolio tersebutlah yang kemudian kita hitung di akhir tahun, apakah untung atau rugi.

So, maksud dari nilai keuntungan 15%-30% tersebut bukan dari 1-2 saham saja, tapi dari beberapa kali melakukan transaksi. Sudah paham kan?

Jika ada pertanyaan terkait manfaat, cara dan contoh diversifikasi portofolio saham, silahkan ajukan pertanyaan melalui kolom komentar di bawah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *