Rumus & Analisis Debt To Equity Ratio (DER) + Pengertian Dan Contoh Soal Rasio Hutang Yang Baik

Dari beberapa jenis rasio solvabilitas/leverage yang ada, analisis Debt to Equity ratio atau rumus rasio DER adalah yang paling patut diperhitungkan dalam analisa fundamental saham. Tapi kali ini Analis.co.id akan membahas lengkap dengan pengertian dan contoh soal debt to equity ratio, atau yang sering kita sebut dengan rasio hutang ini.

Dibandingkan dengan rasio DAR atau debt to asset ratio, rasio DER ini bisa dibilang lebih akurat karena dasar perbandingannya adalah dari ekuitas, atau modal dari emiten, bukan dari total asset yang di dalamnya juga terdapat utang dari perusahaan pada pihak lain.

Itulah sebabnya, mengapa dalam kalkulator saham excel yang saya buat menandai rasio debt to equity ratio ini sebagai rasio yang wajib dianalisa.

Hal terpenting dari penilaian rasio utang jangka panjang terhadap modal adalah berapa persentase wajar untuk tiap sektor atau industry yang sudah disepakati.

Dan itu artinya, bila kurang dari batas DER yang normal adalah baik, dan bila melebihi ambang batas yang telah ditetapkan maka itu artinya negatif.

Sederhananya, rasio leverage yang satu ini khusus untuk membahas struktur permodalan suatu perusahaan, apakah standar jumlah hutang yang baik sudah diterapkan atau tidak.

Pengertian Debt To Equity Ratio Menurut Para Ahli

Untuk bisa memahami dengan baik apa defenisi dari rasio hutang DER ini, maka penulis merujuk pada beberapa pendapat dari ahli atau pakar di bidang keuangan, salah satunya Kasmir.

Menurut Kasmir:

Debt to equity ratio (DER) merupakan rasio yang dipakai untuk mengukur utang dengan ekuitas. Rasio ini dihitung dengan cara membandingkan antara seluruh utang, termasuk utang lancar, dengan seluruh ekuitas perusahaan. (Kasmir (2013:151))

(Prio Galih Raga Prakoso, Skripsi: Analisis Pengaruh Current Ratio, Size, Debt To Equity Ratio, Dan Total Asset Turnover…, Semarang: Universitas Diponegoro, 2016)

Menurut Diah Andarini (2007):

Rasio yang dipakai untuk menilai tingkat penggunaan utang atas total shareholder’s equity yang dimiliki perusahaan.analisis debt to equity ratio

Menurut Riyanto (2001:32):

Rasio utang dimaksudkan untuk menilai kemampuan suatu perusahaan dalam membayar semua utang-utangnya (baik hutang jangka pendek atau pun hutang jangka panjang).

Menurut Harahap (2007)

“Rasio yang menggunakan hutang dan modal untuk mengukur besarnya rasio.” (makalah Unila.co.id)

Dari beberapa pengertian di atas, dapat kita simpulkan bahwa debt to equity ratio adalah rasio untuk membandingkan berapa besar porsi utang dari total ekuitas yang dimiliki perusahaan.

Rumus Debt To Equity Ratio

Berdasarkan yang dikemukakan oleh Harahap (2007), maka formula untuk perbandingan ini adalah:

DER = Total Utang / Total Modal x 100%

Sebenarnya, jika menggunakan Excel seperti pada rumus 35 rasio keuangan yang ditampilkan dalam kalkulator saham yang saya buat, pengalian 100 tidak diperlukan.

Cara untuk merubah jumlah sekian kali menjadi persen dengan excel cukup klik kanan pada kolom tersebut, kemudian klik ‘Format Cells’ lalu pilih ‘Percentage’.

Kecuali mungkin jika menggunakan kalkulator secara manual maka tentu harus dikali 100 lagi agar didapat jumlah persentasenya.

Tapi, kalau misalnya tidak dikali 100 lagi, juga tidak bisa dikatakan salah karena yang berbeda hanya cara membacanya saja. Kalau bukan dalam bentuk persen maka dibaca ‘sekian kali’.

Contoh, misalnya utangnya 9 sedangkan modalnya 10, maka setelah 9 dibagi 10 hasilnya adalah 0,9 atau dibaca ‘nol koma sembilan kali’ jumlah utang atas modalnya. Paham kan?

Letak utang dalam laporan keuangan sendiri, umumnya ada di halaman setelah halaman laporan aset perusahaan, yaitu digabung bersama ekuitas. Tapi, disini bahasanya bukan utang tapi ‘LIABILITAS’.

Adapun total modal yang dimaksud adalah ‘TOTAL EKUITAS’. Jadi teman-teman Analis harus bisa membedakannya.

Sehingga, bentuk rumusnya jika kita sesuaikan dengan istilah dalam laporan keuangan dan pemahaman soal persentase di atas adalah:

DER = Total Liabilitas / Total Ekuitas

Atau dalam bahasa Inggris sebagaimana publikasi Investopedia:

Debt/Equity Ratio = Total Liabilities / Shareholders’ Equity

Jadi, formula di atas kita asumsikan dihitung menggunakan excel jadi tanpa dikali 100 lagi dan cara bacanya adalah ‘sekian kali’.

Contoh Soal Debt To Equity Ratio

Untuk bisa memahami bagaimana cara perhitungan rasio DER maka perlu penulis tampilkan contoh soal cara menghitungnya.

Dan kebetulan karena di akhir bulan oktober ini adalah musimnya para emiten merilis laporan keuangan terbarunya untuk periode atau kuartal III 2018, jadi saya mau mengambil dari contoh laporan keuangan real dari salah satu emiten di BEI.

Dan karena PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (kode sahamnya: TLKM) baru saja merilis laporan keuangan terbarunya, jadi kita pilih TLKM saja sebagai objek untuk contoh cara menghitung rasio DER ini.

Diketahui:

Pada 29 October 2018, TLKM merilis LK Kuartal III 2018 sebagai laporan kinerja terbarunya. Dalam laporan keuangan tersebut tertulis total Liabilitas atau utang TLKM adalah Rp98.606, sedangkan modal atau Ekuitasnya berjumlah Rp106.287.

Pertanyaan:

Jika pembulatan yang digunakan dalam penyajian laporan keuangan TLKM adalah milyaran rupiah, berapakah nilai Debt To Equity Ratio TLKM pada kuartal III 2018?

Jawaban: Rasio DER TLKM adalah…

= Total Liabilitas / Total Ekuitas

= Rp98,606 triliun / Rp106,287 triliun

= 0,93 kali atau 92,77%

Jadi, kalau berdasarkan penilaian standar rasio hutang yang baik, maka bisa dibilang kalau DER TLKM sebesar 0,93 kali tergolong tidak aman dan beresiko. Ya, karena jumlah utangnya hampir mendekati jumlah modalnya.

Hanya saja, angka pastinya soal Debt Ratio Yang Baik tidak saya sampaikan di artikel ini karena sudah ada keterangannya di dalam file kalkulator saham yang saya buat. Miliki saja toolsnya (lihat di sidebar blog ini).

Dan soal pembulatan di atas, karena disebutkan dalam finansial statement Telkom menggunakan pembulatan milyaran rupiah, jadi Rp98,606 kita baca Rp.98.606.000.000.000 (atau Rp98,606 triliun rupiah).

Analisis Debt To Equity Ratio / Rasio Hutang

Dari pemahaman di atas juga dapat kita katakan bahwa semakin tinggi nilai rasio Debt To Equity maka akan semakin beresiko perusahaan tersebut, apa lagi bila lebih dari ambang batas normalnya.

Di sini saya tidak mau menganalisis langsung saham TLKM di atas, tapi soal apa saja yang dilakukan untuk bisa mengetahui gambaran yang tepat soal rasio hutang dari suatu perusahaan yang terdaftar di IDX.

Di antara yang harus dilihat adalah:

  1. Perhatikan angka yang ditampilkan pada rasio saham itu sendiri, apakah melebihi batasnya atau tidak. (sudah dijelaskan di atas)
  2. Cek track record dari rasio DER perusahaan tersebut. Lakukan 2 cara, yaitu bandingkan dengan rasio DERnya pada periode yang sama di tahun lalu, apakah semakin meningkat atau tidak, serta cek nilai rasionya selama 5 tahun terakhir.
  3. Terakhir, bandingkan dengan saham atau perusahaan lain yang masih dalam sector atau bidang usaha yang sama.

Cara terbaik untuk yang bagian terakhir di atas adalah dengan mengetahui berapa rata-rata rasio debt to equity dari semua perusahaan sejenis yang listing di BEI.

Caranya, tentu harus menghitung satu per satu dulu rasio DER perusahaan-perusahaan tersebut kemudian cari rata-ratanya dengan menjumlahkan lalu membagi sesuai jumlah perusahaannya.

Nah, dengan melakukan 3 cara analisis di atas maka akan diketahui berapa nilai yang baik untuk rasio leverage ini. Tapi tentu lebih baik lagi kalau sudah paham angka pasti standarnya yang disebut dalam kalkulator saham.

Dan perlu diketahui, untuk perusahaan seperti bank, asuransi dan sejenisnya yang di bawah pengawasan penuh pemerintah Indonesia, atau negara pada umumnya, maka rasio yang digunakan adalah rasio CAR (Capital Adequacy Ratio).

Adapun rumusnya:

CAR = Stockholders Equity / Total Risk Weighted Assets

Untuk Total Risk Weighted Assets sendiri sering juga menggunakan penamaan lain, yaitu ATMR atau Aktiva Tertimbang Menurut Resiko.

Oleh Bank Indonesia (BI) sendiri memberi batas minimum sebesar 8%. Jika kurang dari angka tersebut akan dilikuidasi.

Masih banyak lagi yang akan dibahas, termasuk soal pajak dan lainnya, tapi artikelnya sudah kepanjangan. Mungkin kalau ini makalah atau skripsi dalam bentuk PDF akan lebih panjang lagi, he he!

Baca juga:

  1. Rasio Profitabilitas
  2. Rasio Likuiditas
  3. Rasio Aktivitas
  4. Rasio Solvabilitas
  5. Rasio Valuasi atau Harga Pasar

Sampai di sini, apakah sudah paham analisis dan rumus Debt To Equity Ratio (DER)? Atau mungkin  pengertian dan contoh soal debt to equity ratio yang baik. Silahkan ditanyakan selama terkait rasio hutang di atas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *