Jenis-jenis Harga Saham. Cara Menghitung Valuasi Saham yang Sesungguhnya!

Terkait soal jenis-jenis harga saham atau macam-macam penamaan valuasi saham di bursa ternyata masih banyak yang bingung. Khususnya pemula dalam trading saham masih belum bisa membedakannya.

Atau kalau ada yang bertanya bagaimana menghitung valuasi saham yang sesungguhnya? maka inilah jawabannya.

Nah, di artikel kita kali ini saya mau menjelaskan berbagai jenis valuasi saham yang ada. Dan setelah ini, saya yakin teman Analis semua sudah bisa membedakan mana saham mahal dan mana saham murah. Tinggal ditambah dengan kalkulator saham excel dan kalkulator nilai intrinsic yang akan dibagikan gratis nantinya.

Tapi sebelum itu, saya mau kasi prolog dulu.

Saya juga mau sampaikan kalau ini adalah artikel lanjutan dari pembahasan soal Tahap Analisis Fundamental Saham.

Jadi begini, pada saat perusahaan ingin melakukan IPO dan setelah semua persiapannya selesai, selanjutnya perusahaan akan menginformasikan info keuangannya di prospectus, nah dari situ investor bisa menilai berapa harga sebenarnya dari saham ABCD dibanding harga rata-rata saham yang akan ditawarkan.

Book value adalah dasar utama dalam menilai valuasi saham. Dari sini kemudian bisa diketahui bahwa harga saham dibursa sedang mahal atau murah. Tentunya ini punya rumus tersendiri. Tapi tidak usah khawatir karena akan diulas juga di artikel ini.

Yang jelas, valuasi itu tidak satu. Ada beragam valuasi saham yang harus dipahami. Dari data laporan keuangan ada valuasinya, di bursa juga ada, dan dengan membandingkan dengan intangible atau nilai abstrak perusahaan juga ada harga tersendirinya.

Jadi jangan salah brow soal valuasi ini! Dan biar tidak salah baca hingga selesai artikelnya.

Jenis valuasi saham di bursa

Dari pengalaman dan ilmu sebelum turun gungung (kayak pendekar saja hi hi….!), maka ada 3 valuasi saham yang berbeda-beda, yaitu:

  1. Harga sebenarnya

Yang dimaksud adalah nilai buku atau book value dan juga EPS (earning per share). Inilah harga saham sebenarnya dari perusahaan sebelum sahamnya dilepas ke public.

Mengapa saya menamakan kalau book value dan earning per share adalah harga sebenarnya. Ya, karena nilai dari penghitungan keduanya hanya diambil dari data dalam laporan keuangan. Sama sekali tidak dihubungkan dengan harga pasarnya. Berbeda dengan kedua jenis harga di bawah.

Adapun rumus book value adalah dengan membagi ekuitas dengan jumlah saham yang beredar, sedangkan EPS diperoleh dengan membagi laba bersih dengan jumlah saham yang beredar juga. Maksudnya ‘beredar’ adalah yang sudah dilepas ke public dan diperdagangkan di bursa.

Jadi BV dan EPS itulah sebenarnya valuasi real harga saham perusahaan.

Hanya saja, ini baru valuasi secara data keuangan, belum yang lainnya, seperti valuasi dari goodwillnya dan lain sebagainya.

  1. Harga Pasar

Ini adalah harga yang tertera di bursa yang berubah setiap saat yang dipengaruhi oleh aktivitas pasar dan hukum ekonomi itu sendiri, yaitu demand and supply. Jadi naik turunnya harganya tergantung bagaimana para trader memasang harga jual dan belinya.

Dan dengan membandingkan harga pasar dan harga sebenarnya pada poin pertama di atas maka diketahuilah apakah saham tersebut murah atau mahal. Tentunya butuh analisis yang lebih mendalam lagi.

Rasio yang digunakan untuk menilai harga pasar ini adalah rasio PBV dan rasio PER. Sebenarnya ada banyak rasio untuk menilai valuasi saham, hanya saja oleh investor besar seperti Warren Buffett sekalipun hanya menggunakan 2 rasio ini.

Rumus menghitung PBV adalah dengan membagi harga saham dengan book value yang disebut di poin pertama di atas, sedangkan PER rumusnya adalah harga saham dibagi dengan EPS yang sudah disebut di atas.jenis jenis harga saham

Secara teori, saham dengan PBV 1,0 kali dianggap murah karena itu artinya antara harga pasar dengan nilai bukunya sama, dan bila kurang bisa dikatakan murah dan bila lebih dari 1,0 kali bisa dikatakan mahal.

Kenapa saya katakana ‘bisa’, kayak gak yakin gitu? Ya, karena valuasi PBV maupun PER tidak mesti harus dipahami seperti itu. Bisa saja PBV di atas 1 kali masih bisa dikatakan murah kalau histori nilai PBVnya memang biasa dihargai pasar lebih dari 1 kali. Contohnya saja saham consumer bahkan ada yang PBVnya selalu di atas 8 kali dan bahkan saat terjadi crash pada IHSG tetap seperti itu. Dan ini menandakan bahwa PBV di atas 1 kali tidak serta merta bisa dikatakan mahal. Untuk lebih lengkapnya, baca jenis harga saham yang ketiga di bawah.

Baik PBV maupun PER umumnya dinamakan juga dengan valuasi relatif karena keduanya tidak punya standar baku dan juga bukan final dari penilaian valuasi saham.

  1. Harga seharusnya

Ini biasa juga disebut dengan nilai intrinsic. Kalau pembahasan ini tentu akan sangat panjang ulasannya. Tapi kalau mau yang sederhana, cukup cari rata-rata dari histori valuasinya sebelumnya.

Histori valuasi maksudnya membandingkan valuasi saat ini dengan valuasi di beberapa tahun sebelumnya. Jumlahkan semua nilai valuasinya terus cari rata-ratanya maka akan tau berapa nilai seharusnya dari saham tersebut.

Contohnya, kita gunakan analisis valuasi untuk laporan keuangan tahunan. Anggap saja, deretan PBVnya seperti ini:

  • 2019 2 kali
  • 2018 1,5 kali
  • 2017 2,1 kali
  • 2016 1,8 kali
  • 2015 2,1 kali

Nah, kalau kita jumlahkan semua PBV di atas kemudian membagi sesuai jumlah tahunnya, maka hasilnya adalah 1,9 kali. Jadi rata-rata valuasi saham (anggaplah ini PBV saham LPIN, walau sebenarnya hanya karangan saja) tersebut adalah 1,9 kali dalam kurun waktu 5 tahun. Nah, ini bisa kita nilai sebagai patokan harga seharusnya dari LPIN.

Jadi pada tahap ini, kita tidak bisa bilang kalau PBV di atas 1 kali itu mahal dan di bawah 1 kali itu murah, atau PER di atas 10 itu mahal dan di bawah 10 kali murah. Jadi kalau dengan teori analisis histori valuasinya, maka bisa saja valuasi murah atau mahalnya PBV dan PER tiap saham berbeda-beda.

Selain itu, cara simpel lainnya menilai ‘harga seharusnya’ dari saham adalah dengan melakukan komparasi valuasi dengan saham lainnya di sektor yang sama. Ada yang bilang ini istilahnya ‘bench marking’, tapi sebenarnya kata ini untuk makna perbandingan satu perusahaan dengan perusahaan sejenis yang kapitalisasinya sebanding.

Contohnya mari lihat dari beberapa PBV saham dari beberapa saham berikut yang masih dalam sektor atau bidang usaha yang sama dan dalam periode yang sama : (kita gunakan PBV per 12 Juli 2019)

  • PTBA : 1,9
  • KKGI : 0,9
  • BUMI : -3,7
  • ADRO : 0,8

Dari menjumlahkan semua angka PBV dari 5 perusahaan berbeda di atas kemudian membaginya dengan 5 (sesuai jumlah saham yang dibandingkan), maka hasilnya adalah sekian-sekian.

Tapi kalau melihat data di atas, dimana BUMI memiliki PBV minus, yakni -3,7, maka sebaiknya jangan dimasukkan dalam perbandingan tersebut. Ada baiknya gunakan saham yang lain karena PBV minus biasanya perusahaannya jelek dan dijauhi oleh investor.

Dengan demikian, kita bisa tau kalau valuasi saham pertambangan batubara, khususnya pada PBVnya, seharusnya berada di rata-rata …. Maka saham yang terlalu jauh atau tinggi dari rata-rata di atas bisa kita katakan mahal, dan yang terlalu rendah dari hasil rata-rata di atas bisa kita bilang murah atau sangat murah.

Tapi perlu diketahui, paragraf di atas juga belum serta merta bisa diikuti seperti itu. Karena, masih ada analisis lanjutan yang harus dilakukan, terutama pada sisi goodwill perusahaan.

Goodwill sebenarnya nilai yang muncul dari perusahaan pada saat ingin dibeli oleh perusahaan lain. Biasanya ini dimasukkan juga dalam laporan keuangan. Hanya saja, bagi investor saham, goodwill yang kita nilai di sini adalah nilai perusahaan diluar nilai keuangannya, istilahnya nilai abstrak dari perusahaan.

Nilai yang dimaksud adalah seperti merek, nama besar perusahaan, hak cipta, lisensi, lokasi perusahaan yang strategis dan lainnya. Nah, secara angka mungkin saja ini tidak tertera di laporan keuangan, tapi faktanya harga saham perusahaan di pasar bisa sangat mahal karena dipengaruhi faktor nilai abstrak ini.

Contohnya, ruko A dan B sama-sama dibangun dengan biaya yang sama, anggaplah masing-masing menghabiskan dana Rp500 juta. Tapi ruko A letaknya di pinggir jalan persis dan ramai, sedangkan ruko B di dalam lorong. Nah, dari sini tentunya walau nilai keduanya sama secara hitung-hitungan keuangan, tapi karena lokasi ruko A lebih strategis, maka pada saat ruko A dijual tentu harganya akan lebih mahal dari ruko B. Belum lagi, kalau produk yang dijual di ruko A lebih berkualitas dan disukai banyak orang, tentu akan jadi nilai tambah lagi.

Gambaran di atas kurang lebih sama dalam dunia saham. Itulah kenapa banyak saham yang bisa dihargai dengan PBV sampai 4 kali, bahkan lebih. Ya, karena alasan seperti di atas tadi.

Jadi, sekalipun valuasi saham dari PBVnya bisa kita nilai dari rata-rata PBV saham dalam sektor yang sama, tapi tetap saja kita juga harus menganalisis secara personal goodwill dari masing-masing perusahaannya.

Dengan melakukan perbandingan valuasi dan goodwill-nya maka akan diketahui bahwa rata-rata valuasi saham di sektor yang sama adalah sekian dan sekian. Sehingga, kalau sudah melakukan cara perbandingan valuasi ini maka barulah bisa menimbang mana saham yang mahal dan mana yang saham murah.

Cara simpel kedua di atas bisa juga digunakan untuk memilih dari beberapa saham yang ada yang masih dalam sektor yang sama.

Sebagai kesimpulannya, membandingkan antara hasil perhitungan rasio dari harga pasar (PER dan PBV) dengan harga sebenarnya (BV dan EPS), maka secara sepintas kita bisa tau saham itu murah atau mahal. Akan tetapi, pada tahap ini bisasanya masih bisa salah, harus dilanjutkan pada tahap analisis ‘harga seharusnya’ lagi. Barulah setelah tahap ini maka akan diketahui dengan pasti di harga berapa saham seharusnya dibeli atau dijual.

Dan belum cukup sampai disitu, jika tujuannya untuk jangka panjang maka sebaiknya lakukan analisis dengan menilai nilai intrinsiknya. Dan bila nilai intrinsik ini juga sudah dianalisis maka barulah bisa menentukan bahwa nilai sekian adalah HARGA WAJARnya. Nah, khusus untuk ini akan dibahas di artikel selanjutnya. Terus berkunjung biar tidak sampai ketinggalan ilmunya brow….!

Jadi kurang lebih seperti itulah jenis-jenis harga saham atau cara menghitung valuasi saham yang sesungghnya. Untuk ilmu yang lebih lengkap lagi soal cara analisa fundamental, silahkan miliki video tutorial lengkapnya. Hubungi halaman kontak di atas atau di bagian footer blog ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *