Jenis-jenis Rasio Profitabilitas Menurut Para Ahli Terdiri Dari… (Contoh Analisis dan Defenisinya)

Dari 5 jenis rasio keuangan, sekarang Analis.co.id khusus membahas rasio profitabilitas. Mulai dari apa itu pengertian dan jenis-jenis rasio profitabilitas menurut para ahli terdiri dari rasio apa saja, serta contoh analisisnya dari laporan keuangan emiten langsung.

Dalam prakteknya, rasio rentabilitas (nama lainnya) ini dijadikan acuan oleh berbagai kepentingan dan pihak.

Bagi bank (kreditur) misalnya, mereka menggunakan rasio ini untuk menilai kesehatan suatu bisnis yang akan didanainya, sedang bagi manajer perusahaan menggunakan rasio ini sebagai evaluasi untuk meningkatkan kinerja usahanya agar menjadi lebih baik.

Adapun khusus bagi trader saham, rasio ini mereka gunakan dalam analisisnya guna mengetahui sejauh mana tingkat kesuksesan perusahaan dalam menghasilkan laba dalam perbandingannya dengan aset, ekuitas atau pun penjualannya.

Perusahaan baru akan dikatakan baik kalau mampu mengembangkan produktifitasnya dari waktu ke waktu.

Dan produktifitas akan dinilai baik jika mampu menerapkan 3 prinsip penting di dalamnya, yaitu Efektifitas, Efisiensi, dan Kualitas (disingkat EEK…, tapi jangan jorok pikirannya, he he!)

Baca juga : Cara Menilai Perusahaan yang Sehat Dari Kinerjanya

Dan mengenai rasio finansial itu sendiri, termasuk 5 jenis rasio berikut:

  1. Rasio Profitabilitas
  2. Rasio Likuiditas
  3. Rasio Aktivitas
  4. Rasio Solvabilitas
  5. Rasio Valuasi

Tolak ukur baik tidaknya dari semua jenis rasio di atas, yakni pada salah satu atau semua penilaian berikut:

1. Nilai dari rasio itu sendiri.

Maksudnya pada saat menghitung nilai rasio tertentu dan didapatkan hasil sekian persen atau sekian kali, maka trader bisa menilai bahwa nilai sekian dianggap burruk atau baik. Terlebih jika telah ada standar nilai rasio yang ditetapkan sebelumnya.

Misalnya rasio PER (sekalipun tidak termasuk dalam kelompok rasio yang kita bahas) umumnya akan dikatakan mahal bila lebih dari 15 kali atau murah jika bisa di bawah 10 kali. Dan ketika ada satu saham yang ternyata PERnya hanya 5 kali maka sepintas bisa kita katakan kalau PERnya sangat murah.

2. Pertumbuhan nilai dari rasio sebelumnya.

Misalnya saja saham LPCK ROEnya di periode yang lalu mencapai 20% (ini contoh saja), tapi saat dilakukan perhitungan pada periode saat ini ternyata turun, hanya 7%.

Nah, dari penurunan tersebut kita bisa nilai kalau perusahaan ini tidak sedang bertumbuh dan kurang baik untuk dijadikan sebagai objek investasi saat ini.

3. Perbandingan dengan rasio emiten lainnya dalam sektor yang sama.

Contoh, saham WSKT memiliki ROA 10%, sedang saham konstruksi lainnya, anggap saja ADHI, ternyata ROAnya sampai 15%. Nah, dengan ini secara sepintas kita bisa bilang kalau ROA ADHI lebih baik dari ROA WSKT.

Jika fokus analisis kita memang pada rasio tersebut, maka bisa saja diputuskan membeli saham yang ROAnya lebih tinggi.

Hanya saja, sering kali keputusannya tidak bisa dari pertimbangan 1 rasio saja, tapi secara menyeluruh, termsuk valuasi dan solvabilitas dari emiten tersebut.

Baca : 35 Rasio Keuangan Terlengkap

Jenis-jenis Rasio Profitabilitas Menurut Para Ahli

Para ahli sering kali berbeda pendapat soal jenis-jenis rasio dalam kelompok rasio tertentu, termasuk dalam rasio profitabilitas ini.

Oleh Investopedia, mengelompokkan profitability ratio ke dalam 3 jenis rasio, yaitu: Profit Margin, di dalamnya termasuk rasio net profit margin (NPM), gross profit margin (GPM), dan operating profit margin (OPM). Dan selanjutnya adalah Return On Assets (ROA) dan Return on Equity (ROE).

Sebagian lagi membuat versi sendiri dimana ada juga yang memasukkan EPS sebagai rasio profitabilitas karena menilai profit yang dihasilkan dari tiap lembar saham emiten.

Ada juga yang bahkan memasukkan PER dalam rasio ini, sekalipun lebih banyak yang menilainaya sebagai rasio valuasi atau harga pasar saham.

Menurut Kasmir (2014: 115), kurang lebih hampir sama dengan publikasi Investopedia, hanya saja yang berbeda adalah beliau memasukkan Laba per Lembar Saham atau EPS di dalamnya dan juga menyebut ROI salah satunya, bukan ROA.

Sebenarnya ROI dan ROA sama saja kalau dalam investasi saham. Tapi kalau ROI dalam investasi secara umum maka rumusnya tidak menyebut aset, yakni keuntungan dari dana yang diinvestasikan dibagi dengan total investasinya semula.

Adapun oleh Agus Sartono (2010: 113), menyebutkan jenis profitability ratio sama dengan versi Investopedia.

Sedangkan Irham Fahmi (2013: 80) sendiri hanya menyebut 4 macam saja, tanpa memasukkan rasio margin keuntungan operasi atau Operating Profit Margin.

Yang jelas, semua punya alasan yang kuat dalam menentukan mana saja rasio yang termasuk dalam jenis rasio profitabilitas ini.

Dan sebagai jalan tengahnya, dan berdasarkan pendapat dari para pakar di atas, maka jenis rasio profitabilitas adalah sebagai berikut:

1. Net Profit Margin (NPM)

Rasio ini adalah rasio paling konservatif dimana hampir tidak pernah diabaikan dalam dalam setiap analisis saham para trader.

Sederhananya, sebenarnya jenis rasio profitabilitas ini untuk mengukur sejauh mana selisih antara laba bersih dengan penjualan yang dihasilkan.

Jika selisihnya tidak terlalu jauh, maka itu artinya emiten mampu menekan biaya atau beban operasionalnya, termasuk strategi ‘pengurangan’ efek beban bunga dan pajaknya.

Itu artinya semakin tinggi nilai rasio ini akan semakin baik.

Adapun rumusnya:

NPM = Laba bersih / Penjualan

Penjualan yang dimaksud adalah penjualan bersih. Sering juga disebut pendapatan. Atau dalam bahasa Inggris dibahasakan dengan ‘revenues’ atau pun ‘net sales’.

Sedangkan laba bersih adalah laba yang telah dikurangi HPP / COGS, depresiasi & amortisas, bunga, dan pajak.

Selain menilai nilai rasio langsung, bandingkan juga dengan NPM emiten lain di sektor yang sama.

Baca selengkapnya: Contoh Soal dan Teori Cara Meningkatkan Net Profit Margin

2. Operating Profit Margin (OPM) atau Return on Sales (ROS)

Hampir sama dengan rasio sebelumnya, hanya saja rasio operating profit margin ini membandingkan antara laba operasi dengan penjualan.

Dalam ilmu akuntansi keuangan, laba operasi sering juga disebut dengan EBIT (Earnings before Interest and Tax), yaitu laba sebelum (dipotong) bunga dan pajak.

Rumusnya:

OPM = Laba Operasi / Penjualan (Pendapatan)

Semakin tinggi nilai profitability ratio dari operating profit, maka semakin baik perusahaan dalam menekan biaya pada gross profitnya, seperti beban umum & administrasi, penjualan & pemasaran, dan lainnya.

Sudah pasti, jika rasio ini bisa ditingkatkan maka rasio laba bersih di atas juga akan semakin meningkat.

Hanya saja, dalam melakukan usaha meminimalkan beban ini tidaklah mudah dan butuh waktu yang panjang. Terlebih kualitas produk harus terus dijaga agar tetap laris di pasaran.

Simak lanjutannya : Rumus, Pengertian dan Contoh Soal Operating Profit Margin

3. Gross Profit Margin (GPM)

Jadi kalau dalam laporan keuangan perusahaan terbuka, umumnya laba kotor ini letaknya setelah penjualan dan beban/harga pokok penjualan (HPP / COGS).

Mudah sekali memahami tujuan dari penghitungan rasio laba kotor/bruto ini, yaitu untuk mengetahui seberapa efisienkah usaha yang dilakukan manajemen dalam menekan HPP atau COGS (Cost of Goods Sold) ini.

Makin rendah biaya HPP nya maka makin tinggi nilai rasionya, dan makin baik juga dimata investor maupun kreditor.jenis-jenis rasio profitabilitas menurut para ahli

Rumus rasio laba bruto adalah

GPM = Laba kotor / Penjualan

Tapi perlu diketahui juga bahwa beberapa perusahaan, seperti perusahaan jasa, terkadang tidak mencantumkan bagian COGS ini dalam laporan keuangannya.

Ya, alasannya karena terkadang perusahaan macam ini cenderung tidak memiliki biaya tersebut.

Selengkapnya: Analisis Rasio Gross Profit Margin + Rumus & Contoh Soal

4. Return on Assets (ROA) / ROI

Rasio profitabilitas dari membandingkan laba terhadap aset ini menghitung berapa jumlah laba yang bisa dihasilkan perusahaan dari total aset yang ia miliki.

Jika dikatakan total aset maka mencakup semua, termasuk modal dan utang perusahaan. Sehingga, nilai dari rasio ini cenderung lebih kecil dari ROE.

Adapun formulanya:

ROA = Laba Bersih / Total Aset

Selengkapnya: Komponen ROA dan dan Penjelasan Lengkapnya

Semakin tinggi nilai ROA maka akan semakin bagus karena itu berarti pihak manajemen mampun meminimalisir semua beban dalam proses bisnisnya dengan baik.

Hal ini juga berarti bahwa perusahaan adalah perusahaan yang menguntungkan karena mampu mendayagunakan semua potensi yang dimiliki, termasuk utangnya, untuk menghasilkan keuntungan bersih yang setingi-tingginya.

Setiap industri menggunakan porsi aset yang berbeda.

Mislanya, perusahaan jasa mampu mencetak laba yang lebih banyak dengan hanya menggunakan aset yang lebih sedikit, dibandingkan dengan perusahaan manufaktur.

Inilah alasannya mengapa menilai ROA yang bagus harus dibandingkan dengan perusahaan dari industri yang sama.

Oleh salah seorang pakar ilmu finansial dan akuntansi telah membuat klasifikasi berapa besar nilai ROA yang baik untuk setiap sektor usaha. Mislanya, ritel 15%, utilitas 3%, dan sebagainya. Jika ingin memperoleh data lengkap ini silahkan Download Kalkulator Saham Excel Terlengkap, di dalamnya sudah tersedia penjelasan tersebut.

5. Return on Equity (ROE)

Bagi trader/investor saham, rasio laba atas ekuitas adalah rasio yang paling penting diamati karena inilah rasio yang mampu menunjukkan keuntungan yang sebenarnya dari investasi yang mereka lakukan.

Ya, karena salah satu komponen (selain laba ditahan) dalam ekuitas adalah modal saham (termasuk modal dasar dan ditempatkan & disetor) yang merupakan nilai yang mewakili kepemilikan investor.

Nah, modal ditempatkan dan disetor tersebutlah yang yang sekian persennya yang dimiliki investor.

Rumus ROE adalah

ROE = Laba Bersih / Ekuitas

Sebagian ahli sering menggunakan ROE sebagai acuan dalam menilai PBV (salah satu rasio valuasi saham). Jika PBV satu maka minimal ROEnya harus 10%, bila PBV 2 kali maka ROEnya minimal 20% dan seterusnya.

Tentunya hitung-hitungan tersebut hanya dasarnya saja dan perlu dilakukan analisis yang lebih mendalam lagi.

Baca fullnya : Ilmu soal ROE Lengkap

Dari 5 jenis rasio profitabilitas di atas, ada 2 rasio yang paling penting dan tidak boleh diabaikan setiap kali melakukan analisis saham atau pun untuk tujuan analisis pembiayaan dan manajemen perusahaan sendiri.

Kedua rasio tersebut adalah rasio net profit margin (NPM) dan return on equity (ROE).

Kenapa demikian? Ya, karena NPM merupakan rasio yang paling layak dijadikan acuan dalam menilai profitabilitas suatu usaha. Karena dasar perbandingannya adalah dari laba bersih dengan pendapatan, yang mana laba bersih tersebut telah bebas dari semua beban maupun biaya depresiasi, amortisasi dan lainnya.

Demikian halnya dalam ROE dimana dasar perbandingannya adalah dari laba bersih dengan ekuitas yang mana ekuitas merupakan bagian dari aset yang tidak terkait dengan utang perusahaan lagi.

Berbeda dengan ROA karena perbandingan labanya dengan total aset yang mana mencakup keseluruhan milik perusahaan, termasuk utangnya.

Baca: 2 Cara Menilai Saham Murah atau Mahal

Sepertinya hampir semua sudah dibahas, termasuk jenis-jenis rasio profitabilitas menurut para ahli, rasio profitabilitas terdiri dari rasio apa saja, serta bagaimana pengertian dan contoh rasio rentabilitas ini. Selebihnya silahkan dibaca sendiri dan dipraktekkan cara perhitungannya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *