Kenapa Saham Murah Masih Bisa Turun, bahkan Lebih Dalam Lagi?

Ini pertanyaan klasik dari trader saham pemula. Pertanyaannya, “Kenapa Saham Murah Masih Bisa Turun, bahkan Lebih Dalam Lagi?”

Padahal, dengan PBV 1 kali bahkan kurang, kan sudah sangat murah? Apalagi kalau saham tersebut punya histori misalnya PBVnya selalu di atas 2 kali. Tentu ini jadi pertanyaan besar?

Tapi sebelum itu, saya mau cerita sedikit dulu.

Sebenarnya main saham dengan investasi di instrumen lain seperti emas, properti dan lainnya sangat berbeda. Kalau properti, beli hari ini setelah itu ditinggal tidur dan beberapa tahun kemudian harganya bisa naik, asalkan lokasinya memang bagus. Tapi kalau saham tidak bisa seperti itu, karena ada namanya waktu rilis laporan keuangan yang mana itu sangat mempengaruhi pergerakan harga saham. Apalagi kalau kinerjanya turun atau naik signifikan, tentu ini akan menjadi pemicu yang kuat.

Dulu saat pertama kali beli saham, karena baca artikel kalau saham itu bisa naik hingga 35% dalam sehari, saya juga sangat bersemangat sekali trading. Dan karena belum punya dasar analisis sama sekali, dan waktu itu main hajar saja, maka saya pun sempat rugi waktu itu. Walau tidak terlalu besar, tapi paling tidak jadi pelajaran berharga buat saya.

Dari situ saya mulai sadar kalau main saham itu harus tenang, detail analisisnya, tidak serakah dan apalah itu… Yang jelas, investasi ini pokoknya beda deh. Gak bisa asal besar mulut saja, karena siapa pun bisa bangkrut dari saham. Entah itu sudah berpengalaman atau tidak, kalau tidak hati-hati akan jatuh juga.

Oke, kembali ke materi inti kita!

Kenapa Saham Murah Masih Bisa Turun, bahkan Turunnya Lebih Tinggi dari Sebelumnya?

Seperti penulis sampaikan di atas bahwa investasi saham ini berbeda dengan investasi lainnya. Harus ada ilmunya, plus pengalaman yang memadai untuk bisa cuan konsisten dari saham.

Dan berikut ini adalah beberapa alasan sebuah saham bisa turun walau sudah sangat murah:

1. Faktor Laporan Keuangan

Bisa dibilang ini jadi faktor utama yang menyebabkan sebuah saham bisa turun walau sudah murah.

Akan lebih parah lagi, bila kinerja keuangannya turun drastis bahkan sampai rugi di periode terbarunya. Dan bila ini terjadi, maka investor yang sudah lebih dulu meng-hold sahamnya juga akan ramai-ramai menjual sahamnya.

Dan pengalaman, laporan keuangan yang jatuh karena bisnis dari perusahaan tersebut bermasalah maka jatuhnya bisa lebih dalam. Misalnya, bisnisnya harus berhenti karena dampak kebijakan pemerintah, seperti perusahana kantong plastik yang labanya anjlok karena kebijakan larangan penggunaan plastik. Nah, kalau masalahnya seperti ini dan ditambah blowup dari media, maka besar kemungkinan walau sahamnya sudah pernah jatuh dan sudah sangat murah bisa saja tetap turun.

Berbeda kasusnya kalau laporan keuangannya tampak tidak memuaskan hanya karena daya beli masyarakat yang turun karena perekenomian yang lagi lesu, nah kalau ini bisa saja trader mengambil langkah sebaliknya. Apa itu? Ya, bisa saja kita membeli saham tersebut untuk kemudian dijual kembali kalau harganya sudah naik. Tapi, tetap harus hati-hati juga, kalau posisinya masih dalam kondisi downtrend sebaiknya dihindari dulu.

2. Sentimen negatif yang kuat.

Tidak peduli saham dari perusahaan besar atau kecil, harga sahamnya sudah sangat murah bahkan PBV di bawah 1 kali, kalau sentimen negatifnya cukup kuat maka sahamnya bisa berlanjut turun juga.

Contoh kongkritnya pada saham LPCK. Pada saat itu, harga sahamnya dihargai dengan PBV 0,5 kali saja. Tapi, karena mendapat sentimen negatif dan hampir semua media online memberikan pemberitaan yang sama, waktu itu terkait suap ijin proyek Meikarta, maka mau tidak mau ‘memaksa’ banyak investor untuk melepas sahamnya. Sehingga hukum bisnis pun berlaku, karena jumlah orang yang akan menjual saham LPCK lebih tinggi dibanding yang akan membelinya, maka jadilah sahamnya anjlok cukup dalam.penyebab saham anjlok

Tapi yang namanya sentimen, berbeda dengan kinerja. Kalau kinerja, selama tidak ada perbaikan, maka sahamnya juga akan tetap tidur. Berbeda dengan sentimen, setelah sentimennya hilang maka sahamnya akan mudah balik lagi ke posisi sebelumnya, bahkan bisa lebih tinggi karena sentimennya yang berbalik menjadi positif.

3. Trader jenuh

Walau tanpa sentimen negatif dan kinerja baik, ada saja saham-saham tertentu yang bisa terus turun sahamnya. di antaranya adalah saham yang punya siklus pergerakan dan kinerja, di antaranya saham konstruksi dan properti serta saham pertambangan.

Terkadang, saham seperti ini, kalau tidak lagi gilirannya unjuk gigi maka ia tidak akan bergerak sama sekali, walau kinerjanya bisa dibilang cemerlang.

Dan bila saham-saham seperti ini terlalu lama tidak bergerak, maka trader-trader yang mulai jenuh tidak bisa menghasilkan keuntungan maka secara perlahan satu per satu akan melepas sahamnya. Nah, saat kondisi seperti ini terjadi maka pasar pun secara otomatis akan ‘mengerek’ harga saham tersebut untuk turun secara perlahan hingga ke harga terendahnya, bahkan bisa lebih rendah dari biasanya.

Contoh saham WSKT dan ADHI yang pada saat booming PBVnya bisa sampai 4 kali, tapi karena masanya sudah berakhir dan jarang lagi ditransaksikan di bursa maka mau tidak mau para trader akan bosan juga meng-hold sahamnya.

4. Isu Politik

Bisa dibilang ini kurang lebih sama dengan poin 2 di atas, bedanya ini lebih spesifik ke soal politik.

Jadi, dalam analisis saham itu banyak sekali jenisnya, salah satunya adalah analisis berita. Berita politik yang terlalu trending alias menjadi headline dimana-mana, apalagi kalau itu soal isu yang mempengaruhi stabilitas negara maka pasar saham pasti akan mendapat dampaknya juga.

Sebut saja di isu politik di jaman Presiden Suharto dimana banyak saham yang anjlok, bahkan saham yang fundamentalnya terbaik sekalipun ikut mengalami nasib yang sama. Hal ini karena adanya kepanikan pada para trader sehingga mengakibatkan ‘banjir panic selling’. Dan kalau sudah seperti ini, tidak ada lagi istilah saham murah atau mahal. Kata mereka, “Pokoknya aman dulu, soal untung belakangan!”

Ini dikarenakan, jika IHSG jatuh maka saham secara umum akan ikut jatuh juga, termasuk saham bagus yang bisa kita katakan sudah sangat murah.

Kurang lebih seperti itu alasannya Kenapa Saham Murah Masih Bisa Turun, bahkan Lebih Dalam Lagi?. Ada pertanyaan komentar ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *