Request Saham LPIN: Analisa Fundamental Saham PT Multi Prima Sejahtera Tbk

Setelah lama libur lebaran, akhirnya ada yang request analisa fundamental saham LPIN – PT Multi Prima Sejahtera Tbk.

Sebenarnya saya pribadi belum pernah beli saham ini. Selain karena sahamnya tidak terkenal, memang karena saham LPIN ini hampir tidak pernah masuk dalam hasil screening saya.

Saya juga belum paham alasan klien yang meminta hasil analisis LPIN ini. Mungkin, bisa jadi karena melihat harga sahamnya yang ‘tampak’ lebih murah setelah stocksplit di tanggal 23 Mei 2019. Tapi belum tentu juga, karena beliau sendiri tidak menjelaskannya.

Dan perlu juga saya sampaikan bahwa stocksplit sama sekali tidak menurunkan nilai saham. Kalau nominalnya memang iya, tapi secara valuasi sama saja dengan sebelumnya.

Jika melihat profil perusahaan, LPIN yang sudah hampir 5 kali berganti nama merupakan perusahaan yang bergerak di bidang produksi Busi kendaraan dengan merek ‘Champion’. Pemegang saham yang memegang lebih dari 5% sahamnya di antaranya adalah Pacific Asia Holdings Limited, Cook Islands. Tapi ini baru profilnya, mari kita bahas lebih lanjut dari sisi finansialnya.

Kembali ke ‘Laptop’!

Analisa Fundamental Saham LPIN – PT Multi Prima Sejahtera Tbk.

Biar tidak bingung, berikut saya tampilkan rekapan data laporan keuangan dari LPIN untuk kuartal 1 2019 dan juga perbandingannya dengan kuartal yang sama di tiga tahun sebelumnya mulai dari 2016-2018.

Annulized EPS=Net Income/Share Listed BV=TotalEquity/Share Listed
Quarter/year 1st Quarter 2019 1st Quarter 2018 1st Quarter 2017 1st Quarter 2016
Total Sales 18.018.366.969 23.040.693.451 48.143.386.181 29.339.036.645
Cost of Good Sold -13.873.171.817 -17.161.358.604 -27.823.582.635 -18.575.624.062
Gross Profit 4.145.195.152 5.879.334.847 20.319.803.546 10.763.412.583
Operation Expenses -3.059.870.373 -1.147.784.908 -34.288.361.814 -22.178.722.610
EBIT 1.085.324.779 -13.968.558.268 -13.968.558.268 -11.415.310.027
Other Income/Expenses 7.088.920.710 3.796.553.746 -3.949.889.643 -9.195.697.475
Earning Before Tax 8.174.245.489 8.528.103.685 -17.918.447.911 -20.611.007.502
Net Income After Tax 7.891.443.304 8.020.626.050 -13.338.358.090 -16.479.078.320
Minority Interest -38.106.793 0 3.474.538.152 2.286.739.126
Net Income(NI) 7.853.336.511 8.020.626.050 -9.863.819.938 -14.192.339.194
Earning Per Share(EPS) 74 75 -464 -674
Book Value Per Share(BV) 2.576 2.256 2.641 4.936
Close Price 224 730 6.000 1.255
PER(Colse Price/EPS*) 0,8 2,4 -3,2 -0,4
PBV(Close Price/BV) + 0,1 0,3 2,3 0,3

Rasionya:

                              Rasio Q119 Q118 Q117 Q116
PER (X) (ClostPrice/EPS*)   0,8
   2,4
  -3,2 -0,4
PBV (X) (ClosePrice/BV) 0,1 0,3 2,3 0,3
DER (X) (T.Liab/T.Eq) 0,1 0,0 7,0 3,0
ROA (X) (NI*/T.Assrts) 10,4 12,0 -8,9 -14,9
ROE (X) (NI*/T.Equity) 11,5 13,4 -70,2 -54,6
Op.Margin (%) (EBIT/Sales) 6,0 21,0 -28,9 -38,9

Mengenai pertanyaan beliau mengapa EBITDA nya bisa lebih rendah dari net profitnya, sepertinya sudah dijawab di atas. Kurang lebih seperti ini dari pertanyaan beliau ‘Kenapa EBITDA-nya lebih kecil dari Net Income-nya?’ Ya, karena ada ‘other income’ atau penghasilan lain. Tepatnya, ‘laba bersih perusahaan asosiasi’. Dan karena ini pula, EBT nya sampai Rp8,174 milyar.

Perusahaan asosiasi yang dimaksud di atas adalah di antaranya:

  1. PT Walsin Lippo Industrie
  2. PT Walsin Lippo Kabel
  3. PT Bintang Sinar Fortuna
  4. PT Walsin Lippo Kabel

Nah, dari situlah other income LPIN dihasilkan. Hanya saja, dalam catatan laporan keuangannya, hasil dari Rp7.092.482.244 itu hanya dihasilkan dari PT Walsin Lippo Industrie.

Selanjutnya, sebelum masuk ke analisa secara umum terkait model bisnis dan prospek perusahaan kedepan. Mari kita analisis dulu dari sisi angka-angka kinerja yang tertera di atas.

Kita mulai dari total salesnya. Jika mengamati, mulai dari tahun 2016 sampai 2019, pada periode yang sama, yakni di kuartal 1, maka dapat penulis simpulkan bahwa secara kasat mata penjualan LPIN turun dari waktu ke waktu. Dan bagi saya pribadi, penjualan yang turun karena faktor strategi manajemen, bukan karena daya beli yang turun, maka bisa kita katakan itu tidak baik karena menunjukkan kegagalan perusahaan dalam membangun model bisnis usahanya.

Dan faktanya, berdasarkan konfirmasi langsung dari Direktur Multi Prima Sejahtera, Made Seputra Djaya. Beliau menyampaikan bahwa salah satu penyebab menurunnya kinerja LPIN pada tahun lalu lantaran nilai tukar rupiah yang melemah atas dolar Amerika Serikat. Ya memang sih di tahun 2018 rupiah sedikit ada goncangan.

Dan soal rasio NPM (Net Profit Margin)nya, karena ini adalah salah satu tolak ukur penting juga dalam menganalisa profitabilitas sebuah saham, setelah menghitung hasilnya berada di angka 43,59%. Kalau sesuai standar yang saya buat dalam Kalkulator Saham Excel, ini masuk standar baik karena berada di kisaran antara 20%-50%. Ini artinya, perusahaan masih tergolong baik dalam manajemen cost-nya.

Hanya saja, jangan salah karena hasil NPM di atas dikarenakan ada suntikan pemasukan dari PT Walsin Lippo Industrie. Jadi, jika seandainya LPIN itu dinilai secara mandiri maka sebenarnya gross margin-nya hanya 29,88% dan net income-nya kurang lebih hanya 6% lebih saja. Tapi, bila melihat LPIN secara keseluruhan dan semua anak perusahaannya sebagai satu kesatuan maka sisi penilaian ini dikesampingkan saja. Ya, kita gunakan pertimbangan di paragraf sebelumnya saja.

Hanya satu hal yang pasti, margin operasi emiten ini turun dari 21% menjadi 6% lebih saja. Ini jelas tidak baik karena menunjukkan bahwa manajemen cost dari emiten kurang baik.

Selanjutnya mari kita bahas rasionya. Dan saya kira ini hal terpenting dalam menilai kinerja emiten.

Dari sisi ROE, di bagian yang penulis anggap sangat urgent ini, ternyata tampak turun juga hingga 16,5% dari angka 13,4 menjadi 11,5. Dan perlu teman-teman ketahui bahwa tidak hanya trader beraliran value investing yang tidak senang dengan saham seperti ini, tapi juga trader growth investing. Bagi mereka, ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak layak invest untuk periode saat ini karena growth juga merupakan salah satu sisi penilaian mereka.

Di samping itu, standar ROE yang baik minimal 15% atau di atas deposito bank. Tapi ini tidak serta merta bisa disamaratakan karena perlu juga dilakukan komparasi dengan perusahaan sejenis. Hanya saja, penulis belum punya data emiten apa saja yang juga memproduksi produk Busi seperti LPIN ini. Yang ada hanya DAJK yang salah satu kliennya adalah Denso Corp yang merupakan pesaing berat dari LPIN sendiri.

Berikutnya mari kita lihat sisi valuasi LPIN ini…

Kita mulai dari PBVnya dulu. Dari nilai buku perusahaan, sebagaimana data di atas, terlihat bahwa BV (book value) LPIN adalah sebesar Rp2.576. Inilah harga wajar dari LPIN. Dengan harga pasar yang berada di level Rp274 per lembarnya, maka PBVnya saat ini hanya 0,4 saja.

Kemudian, bagaimana dengan PERnya.  Ternyata PER LPIN dengan harga yang sama seperti di atas, hanya 3,8 kali saja.

Nah, dengan menilai valuasi dari PBV dan PER tersebut, sepintas bisa kita katakan bahwa valuasi LPIN cukup murah.

Hanya saja, kalau mau lebih realistis, lihat histori valuasinya beberapa tahun sebelumnya. Dan benar saja, rata-rata valuasi LPIN antara 1,0 s/d 4,9 kali dalam 3 tahun terakhir, yakni 2015-2017.

Kalau teman2 mau pakai standar umum bahwa PER di bawah 10 kali dan PBV di bawah 1,0 kali itu murah maka saham LPIN ini layak kita katakan murah, ditambah memang histori valuasinya selama ini di atas 1,0 kali.

Menurut hemat saya, jika memang betul kalau penurunan penjualan LPIN (sebesar 21,8%) ini hanya karena faktor nilai tukar rupiah saja, maka besar kemungkinan, bila rupiah bisa stabil di tahun 2019 ini dan target emiten meningkatkan penjualannya minimal 10% di tahun ini, plus ekspansi penjualan ke luar pulau Jawa, maka laba LPIN juga tentu akan naik.

Sekarang mari lihat sisi kekuatan brand LPIN bagaimana?

Faktanya, LPIN bukan produsen utama dalam hal pemasok busi untuk produsen mobil maupun motor terkenal. Sebut saja, Toyota dan Daihatsu mereka mengambil dari Denso. Dan disebut-sebut juga bahwa PT SGMW Motor Indonesia (Wuling Motors) dan Mitsubishi telah menjadi klien Denso.analisa fundamental saham lpin

Dan bila melihat langsung profil Denso ini, ternyata sebagian besar perusahaan otomotif sudah menjadi kliennya, seperti Kawasaki, Kubota, Nissan Motor, Suzuki Indomobil Motor, Yamaha Indonesai Motor Manufacturing dan lain sebagainya. Dan dari data disebutkan bahwa PT. Denso Indonesia ini merupakan salah satu anak perusahaan dari perusahaan terbuka juga, yaitu anak perusahaan dari ASII.

Dan selain itu, deretan produk ini: Honda New CBR250RR, Suzuki GSXR 150, Daihatsu Sigra, Yamaha New R15, Honda Brio, BR-V, HRV, Mobilio, dan Suzuki New Ertiga, yang mana mereka merupakan produk baru dan laris di dunia otomotif ternyata kebutuhan businya dipasok oleh PT NGK Busi Indonesia, bukan LPIN.

Dan dari data yang penulis dapat, LPIN hanya menjadi pemasok busi dari Nissan Grand Livina. Sebenarnya keren juga sih, hanya ini belum cukup untuk kita katakan sebagai leader di bidangnya.

Dengan kata lain, LPIN bukan merupakan pemain utama yang mendominasi dalam dunia per-busi-an. Sehingga, jika kita mengacu pada salah satu tips investasi saham yang baik, yaitu memilih perusahaan yang merupakan leader di bidangnya, maka LPIN ini tidak terlalu direkomendasikan untuk pilihan investasi saham Anda, apalagi untuk investasi jangka panjang. Tapi itu juga bila sisi penilaiannya hanya soal busi, bukan terkait potensi laba secara keseluruhan dari anak usahanya.

Sebenarnya, kalau saya disuruh menganalisis secara detail semua bagian keuangannya dan sisi negatif dan positif semua perusahaan ini bisa saja, tapi apa gunanya kalau ternyata nantinya tidak menguntungkan anda sebagai investor. Jadi cukup itu saja analisisnya. Kita ambil yang penting-penting saja.

Dan sebagai gambaran umum dari analisis ini. Berikut saya mau memberikan pernyataan closing saja.

Secara angka-angka laporan keuangannya, memang saham LPIN kurang menarik untuk periode ini karena nyatanya penjualan bersihnya memang turun. Tapi dari sisi valuasinya terlihat sangat murah, ya tentu ini karena faktor net income yang turun sehingga banyak investor yang memilih melepas atau tidak membeli sahamnya.

Hanya saja, kalau mau menggunakan strategi investasi beberapa investor beraliran value investing, biasanya mereka malah membeli saham yang kinerjanya sedikit agak turun (asalkan bukan karena masalah serius, seperti akan bangkrut dan sebagainya). Kenapa? Ya, karena dalam kondisi seperti inilah saham tertentu akan turun dan mulai menarik dikoleksi.

Tapi bagi trader beraliran growth investing, yang umumnya membandingkan dengan kinerja di periode yang sama dengan tahun sebelumnya, sudah pasti menjauhi saham seperti ini.

Kalau mau lebih fair, kondisi LPIN saat ini bisa dibilang hanya mengalami penurunan kinerja sesaat saja. Kalau perbaikan kinerja yang ia janjikan ternyata terwujud maka sahamnya pasti mau tidak mau akan naik, minimal sama dengan valuasi PBV di tahun-tahun sebelumnya di kisaran 1-4 kali.. Tapi kapan itu terjadi, apakah periode selanjutnya atau selanjutnya lagi, kita tidak tahu!

Over all, LPIN memang bukan leader dibidangnya, walau begitu bukan jadi penyebab juga labanya gak bisa naik. Sahamnya tidak terlalu likuid, tapi kebetulan baru saja stockplit, jadi ini juga jadi faktor pemicu pergerakan sahamnya nanti, dst….!

Mohon maaf, kebiasaan baru yang saya buat, di analisa fundamental saham LPIN ini saya tidak memberikan rekomendasi beli atau pun jual. Yang jelas, kedepannya mungkin LPIN punya prospek. Hanya saja untuk saat ini kinerjanya masih sedang turun sehingga sahamnya agak dijauhi. Ya, menangnya mungkin hanya dari sisi valuasinya saja yang bisa dibilang murah. Tapi valuasi pun sebelumnya sempat turun hingga 0,1 saja.

So, semua keputusan soal Multi Prima Sejahtera Tbk saya serahkan pada teman-teman semua. Jadikan analisis LPIN di atas sebagai tambahan pertimbangan Anda dan selebihnya menggunakan naluri investor anda sendiri. Dan, selalu perhatikan manajemen resiko investasi saham yang pernah saya publikasikan. Sekian!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *