Dalam Akuntansi Saham Dibedakan Menjadi Beberapa Jenis

Jenis-jenis saham dalam akuntansi ini merupakan lanjutan dari artikel yang sama sebelumnya. Lebih lengkapnya lihat di sini: Jenis-jenis Saham PT menurut Para Ahli dalam Akuntansi.

Secara umum, saham dibedakan menjadi dua macam saham yaitu saham biasa dan preferen. Namun dalam prakteknya, jenisnya kemudian dapat lebih beragam lagi sesuai dengan karakter dari saham itu sendiri.

Perlu diketahui, dalam praktek trading saham, ada banyak trader atau investor yang fokus berinvestasi pada jenis saham tertentu saja. Misalnya, ada yang dalam portofolionya hanya terdapat penny stock, yaitu saham-saham kecil yang memiliki potensi untuk tumbuh.

Kalau di luar negeri soal fokus pada penny stock ini, contohnya Tim Grittani yang sukses mengembangkan dananya dari $1500 jadi $1 juta. Mungkin anda tertarik? Silahkan saja, tapi resiko ditanggung sendiri. Kerena model saham ini masuk kategori high risk.

Ada juga yang biasanya fokus pada saham blue chip saja. Alasannya, karena jenis saham ini cenderung lebih aman dan dalam jangka panjang bisa terus naik harganya. Dan masih banyak lagi tipe investor dan gaya investasi yang pernah dipraktekkan yang sukses mengukir kisah sukses mereka.

Jenis-jenis Saham dalam Akuntansi Menurut Para Ahli

Sebelumnya, sudah dibahas 10 jenis saham. Nah, sekarang lanjut pada jenis yang ke-11 dan seterusnya.

11. Defensive stock

Defensive stock adalah saham yang secara konstan membagi dividen dan mampu stabil menghasilkan kinerja yang baik secara terus menerus. Karena itu karakternya cenderung tidak terpengaruh oleh situasi ekonomi yang berubah-ubah.

Di antara contoh perusahaan yang sahamnya defensif adalah dari perusahaan yang memproduksi bahan baku barang komsumsi, seperti obat-obatan, makanan, dan minuman. Atau bisa juga pada perusahaan yang fokus pada keperluan publik yang barang atau jasanya dibutuhkan secara terus menerus.

Untuk memperoleh capital gain dari saham ini maka tidak perlu menunggu hingga ekonomi membaik. Biasanya dalam segala kondisi sahamnya bisa terus tumbuh.

12. Junk Stock

Inilah tipe saham yang wajib dihindari oleh semua investor.

Di bursa efek Indonesia banyak sekali karakter saham yang bisa kita temui. Di antaranya, ada saham yang fundamentalnya selalu bagus dan diikuti dengan harga sahamnya yang juga terus meningkat.

Ada juga yang selain kinerjanya tidak baik, sahamnya tidak likuid atau jarang ditransaksikan, biasanya juga jarang bagi dividen. Ya, tentu saja, apa yang mau dibagi kalau untung saja jarang?

Bahkan, terkadang ada yang bukannya kinerjanya membaik dari waktu ke waktu, bahkan malah semakin lama semakin turun. Nah, dalam istilah pasar modal, inilah yang kita sebut dengan saham ‘sampah’ atau junk stock.

Sampah maksudnya bahwa saham ini sangat tidak layak invest karena tidak memiliki nilai investasi dan lebih layak dijauhi.

Biasanya, saham gorengan bisa kita kategorikan dalam jenis ini. Walau harganya bisa saja bergerak naik sewaktu-waktu, tapi pada dasarnya pergerakannya itu bukan karena dipengaruhi oleh kondisi fundamentalnya, tapi cenderung karena ‘dimainkan’ oleh pihak tertentu.

Selanjutnya, setelah di artikel sebelumnya membahas 3 kategori saham (berdasarkan kepemilikannya, karakternya, dan peralihan haknya), nah sekarang terkait  D. Kategori Saham berdasarkan Kapitalisasi Pasarnya.

Kapitalisasi pasar atau istilahnya Market-cap adalah besarnya nilai saham di pasar yang dihitung dari mengalikan jumlah total saham beredar dengan harga saham terbaru.

Berikut adalah jenis yang dimaksud:jenis jenis saham dalam akuntansi

  • First Liner = Blue Chip (> 10 T)
  • Second Liner (500 M – 10 T)
  • Third Liner (< 500 M)

Nah, itulah 3 jenis saham berdasarkan kapitalisasinya. Tapi untuk lebih jelasnya mari kita bahas satu per satu.

13. First Liner

Maksud dari first liner adalah saham lapis pertama. Maksudnya adalah saham unggulan yang punya kapitalisasi besar di pasar saham.

Sesuai dengan keterangan di atas bahwa saham ini lebih cocok disamakan dengan saham blue chip karena selain kapitalisasinya yang besar, juga punya sifat lain yaitu likuiditasnya yang tinggi dan kemampuannya mecatatkan kinerja yang cemerlang dari waktu ke waktu.

10 T artinya kapitalisasinya di atas 10 triliun. Ya, tinggal cari saja, saham-saham yang punya market cap seperti itu. Caranya, tinggal kalikan saja jumlah saham dan harga sahamnya saat ini.

Yang masuk dalam kategori ini sebut saja saham PT Telkom – TLKM. Atau contoh lainnya seperti saham Indofood, yaitu INDF, dan masih banyak lagi contoh lainnya.

Secara praktek, saham yang punya kapitalisasi besar biasanya dari perusahaan besar juga karena harga sahamnya yang terus naik. Selain itu, biasanya saham ini cenderung lebih likuid sehingga mudah untuk dibeli dan dijual setiap harinya.

14. Second Liner

Atau dalam bahasa Indonesia-nya kita sebut saham lapis kedua. Kapitalisasinya antara 500 milyar sampai 10 triliun.

Banyak juga trader yang memilih berinvestasi saham hanya pada saham-saham seperti ini. Walau sahamnya tidak terlalu likuid, tapi imbal hasil yang diberikan cukup tinggi.

Karena, sekali saham second liner ini bergerak, maka biasanya pergerakannya dalam sehari bahkan bisa sampai ARA atau Auto Reject atas.

Tapi, ya itu dia. Kalau kamu orangnya kurang sabar dan tidak senang melihat saham yang kadang berhari-hari tidak ada gerakan sama sekali, maka mungkin tidak cocok membeli saham seperti ini. mungkin lebih tepat pada jenis saham yang ke 13 di atas.

Mengenai ulasan lengkap soal ini sudah saya bahas di artikel sebelumnya. Silahkan baca di sini: Kriteria dan Defenisi Saham Secon Liner.

Selain itu, Anda juga bisa membaca artikel lainnya yang masih dalam pembahasan yang sama: Contoh dan Daftar Saham Second Liner.

15. Third Liner

Kapitalisasi saham lapis ketiga cukup kecil, yaitu dibawah 500 milyar. Biasanya bisa juga karena sahamnya masih baru atau baru terdaftar di bursa efek.

Bisa saja saham ini masuk dalam kategori saham buruk jika sudah lama listing dan harga sahamnya tidak pernah naik secara signifikan. Tapi, bisa juga termasuk saham baik kalau memang baru listing dan belum menunjukkan kinerjanya yang sebetulnya.

Mengenai apakah saham ini layak dibeli atau tidak maka itu kembali lagi ke analisa fundamental yang teman-teman Analis lakukan. Jika memang hasilnya menunjukkan kalua sahamnya layak invest maka tidak masalah dipilih, selama tetap menjalankan manajemen resiko investasi yang pernah saya tulis sebelumnya.

Sebenarnya, selain yang disebutkan di atas, masih ada lagi jenis saham lainnya, seperti saham kosong, saham berdasarkan sektornya, dan lain sebagainya.

Saham kosong sendiri maksudnya saham yang diberikan tanpa harus dibeli sebagai penghargaan kepada pihak tertentu atas kesepakatan pemegang saham lain.

Tapi sekalipun begitu, saham ini punya beberapa kelemahan. Misalnya, seperti sahamnya tidak memiliki nilai nominal yang tertulis pada lembar sahamnya, sehingga haknya untuk mendapat dividen saja. Selain itu, tidak berhak hadir pada RUPS serta bisa dihapuskan sewaktu waktu.

Di samping itu, banyak dari ulama kontenporer yang tidak membolehkan penerbitan saham ini karena alasan berpotensi menimbulkan suap serta tidak jelas nilai nominalnya.

Mungkin ini saja pembahasan saya soal jenis-jenis saham dalam akuntansi menurut para ahli, semoga bisa membantu dan menjadi referensi yang bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *