4 Cara Menilai Perusahaan yang Sehat dari Kinerja Laporan Keuangannya. Bagaimana?

Bagi seorang Investor, sebelum memutuskan membeli saham dari perusahaan tertentu maka ia sudah harus mengetahui kinerja laporan keuangan perusahaan. Dalam hal ini bagaimana cara menilai perusahaan yang sehat. Kira-kira kesehatan keuangannya seperti apa? bagaimana manajemen usahanya dan karyawannya?  dan lain sebagainya.

Artikel Analis.co.id kali ini akan menjawab berberapa pertanyaan seputar bagaimana contoh emiten yang baik, bagaimana cara investor menilai kinerja perusahaan, cara mengetahui kesehatan keuangan perusahaan, dan lain sebagainya yang terkait dengan analisa laporan keuangan dasar yang perlu diketahui bagi seorang trader.

Ada yang bilang, kalau penilaian dasar dari semua pertanyaan di atas didasarkan pada manajemen perusahaannya, apakah punya budaya kerja baik, jujur dan pekerja keras.

Tapi, menurut hemat saya, kita tidak bisa menilai hanya sebatas itu saja, karena bisa saja perusahaan yang memiliki kriteria atau ciri tersebut malah berbanding terbalik dengan kinerjanya, berdasarkan hitung-hitungan angka pada laporan keuangannya.

Artinya apa?

Jadi, untuk bisa mengetahui secara pasti dan terhindar dari salah analisa dalam bermain saham, maka seorang investor harus bisa menilai dari segala sisi.

Dan menurut saya pribadi, penilaian tersebut harus bisa menyasar pada semua aspek yang terkait dengan perusahaan tersebut, dalam hal ini adalah dari sisi perusahaan itu sendiri dan dari servis yang ia berikan pada konsumennya.

Mengapa layanan pada konsumen harus jadi penilaian juga? Ya, karena value dari perusahaan itu sendiri lebih mudah diukur dari bagaimana output dari usaha atau bisnis yang ia lakukan.

Tidak ada artinya berbangga-bangga dengan manajemen yang bersatandar ISO, punya mesin yang canggih, dan lain sebagainya kalau nyatanya produknya tidak diminati banyak orang.bagaimana cara menilai perusahaan yang sehat

Sebaliknya, perusahaan yang mampu menunjukkan kualitas produknya dan segala nilai yang diperlukan untuk sebuah produk yang memenuhi standar, maka dipaksakan atau tidak, laporan keuangan yang ditampilkan oleh perusahaan akan tampak memuaskan juga.

Dan hasil ini pula kemudian akan menunjukkan bagaimana laba usahanya, kemampuan perusahaan dalam mengelola aset, dan lain sebagainya.

Oke, kita sudahi prolognya. Di atas hanya gambaran singkat saja bagaimana cara investor menilai perusahaan Tbk. yang memiliki kinerja yang baik. Sekarang mari masuk ke materi inti.

Baca juga: Apa Pengertian Value Investing

Apa dan Bagaimana Cara Menilai Perusahaan yang Sehat? Apa saja Kriterianya?

Apa yang kita bahas di artikel ini adalah kurang lebih sama dengan pertanyaan ‘Bagaimana Cara Menilai Kinerja Perusahaan yang Baik dan tidak Sehat?’. Apa saja ciri-cirinya!

Ulasan ini juga adalah bagian dari cara membaca laporan keuangan perusahaan tbk, hanya saja dalam lingkup yang umum. Jadi belum spesifik ke nilai-nilai yang dihasilkan dan rasio keuangan perusahaan.

Jadi, menilai perusahaan yang sehat dan memiliki kinerja yang baik, maka berdasarkan hasil bacaan dan cara yang penulis tempuh selama ini dalam melakukan analisa fundamental emiten.

Secara umum dibagi dalam 2 indikator atau aspek penilaian, yaitu pada:

  1. Kinerja Laporan Keuangan
  2. Konsumen = Produk

Dua poin di atas baru pembagiannya secara umum saja. Saya yakin teman2 Analis belum bisa paham dengan baik kalau belum diuraikan satu per satu bagiannnya.

Nah, kalau begitu, mari kita ulas satu per satu:

A. Kinerja Laporan Keuangan

Pada sisi pemilik perusahaan ini maka seorang analis umumnya akan merujuk pada kinerja laporan keuangan perusahaan. Dan dalam hal ini ada 4 hal yang bisa kita nilai, yaitu:

  1. Laba
  2. Kas
  3. Keberlanjutan
  4. Pertumbuhan

Dan biar lebih jelas bagaimana maksud dari masing masing penilaian di atas.

1. Laba

Sesuatu yang sudah kita sepakati bersama bahwa bisnis itu suatu proses berulang yang seharusnya menghasilkan pendapatan bagi pemilik usaha, tentunya dengan menjual produk atau jasa kepada konsumennya.

Dan kebalikan dari mendapatkan laba adalah rugi atau kehilangan uang.

Atau dalam kondisi diluar dari kemampuan perusahaan menangani masalah keuangannya maka ujungnya adalah bisa berujung pada kebangkrutan.

Nah, dari sini banyak ahli keuangan merumuskan bahwa:

Tidak ada laba dalam periode berkelanjutan = bangkrut.

Mengenai ini, sangat tepat kalau kita mengutip uangkapan dari Stephen Covey bahwa “No Margin, No Mission“. Artinya, tanpa laba maka tidak ada misi.

Sederhananya, bilamana Anda mengetahui suatu perusahaan dalam beberapa periode (dalam 5 tahun terakhir – biasanya dalam analisa fundamental) ternyata selalu gagal menghasilkan laba – bahkan selalu saja rugi. Dan kalau pun untung, mungkin hanya sekali dalam 5 tahun tersebut, maka sangat disarankan untuk menjauhi sahamnya.

Dari sini juga saya mau memberi sedikit wejangan.

Jadi, kalau kamu sering gabung di forum saham online, maka pasti sering membaca postingan para trader. Terkadang ada yang bilang begini: ‘Saham ABCD katanya akan bangun pabrik dengan kapasitas produksi sekian… sekian… waktunya koleksi sahamnya nih!”

Dari ungkapan di atas saya sengaja menggaris bawahi kata ‘katanya akan’. Kenapa? karena kata-kata seperti itu sebenarnya lebih cocok kalau kita katakan ‘hanya prospek saja‘.

Jadi kata-kata tersebut bukan nilai dari perusahaan yang sebenarnya.

Ya, kalau perusahaanya jadi bangun pabrik, tapi kalau tidak, bagaimana? Dan kalaupun jadi juga kan belum tentu labanya akan langsung naik? masih banyak faktor lain yang bisa menghabat perusahaan mewujudkan targetnya.

Kata-kata seperti di atas bukan saja banyak bermunculan dari para trader tapi juga dari media online dan admin dari grup yang dikelola oleh perusahaan sekuritas.

Mereka seolah-olah mau berkata bahwa inilah cara menilai kinerja perusahaan yang sehat. Tujuannya apa? Ya apalagi kalau bukan karena untuk meningkatkan jumlah transaksi nasabahnya yang mana mereka akan mendapat untung lebih banyak dari fee trading transaksi tersebut.

Jadi apa yang sebaiknya dilakukan master?

Saran saya, jangan pernah menilai kinerja perusahaan dari prospeknya saja, tapi fokuslah pada nilai yang dihasilkan perusahaan, yakni laba yang dihasilkan.

Dan kalau memang tujuannya untuk investasi jangka panjang, maka lihat bagaimana kinerjanya dalam minimal 5 tahun terakhir.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana kalau dalam 4 tahun sebelumnya rugi terus tapi 1 tahun terakhir ternyata menunjukkan kinerjanya yang baik, bahkan bisa dibilang cemerlang?

Kalau begitu kenyataannya maka jangan buru-buru bilang kalau sahamnya tetap tidak bagus dikoleksi. Perhatikan lagi, faktor apa yang membuat perusahaan bisa menghasilkan laba yang signifikan?

Jika itu hanya karena menjual aset saja, keuntungan dari nilai tukar mata uang asing, atau lain sebagainya yang bukan dari faktor kinerja perusahaan langsung, maka bisa kita katakan kalau sahamnya belum layak dikoleksi.

Tapi, bila kenaikan laba itu karena memang perusahaan berhasil memperbaiki kinerjanya yang buruk sebelumnya, seperti dengan memperbaiki produknya, harga jual produknya yang meningkat, melakukan inovasi yang cemerlang sehingga produknya laris di pasaran dan lainnya, maka sekalipun beberapa tahun sebelumnya perusahaan tersebut rugi, khusus periode tersebut sahamnya bisa saja dipertimbangkan untuk masuk dalam portofolio Anda.

Terus, berapa jumlah laba minimal yang bagus bagi perusahaan?

Sebenarnya, masing-masing analis punya persepsi sendiri-sendiri. Ada yang bilang minimal nilainya di atas nilai deposito bank.

Alasannya, kalau tidak bisa di atas itu, katanya ngapain bisnis? mending depostiokan saja uangnya terus ditinggal tidur.

Saya pribadi, dan mungkin banyak analis saham juga, bagusnya kalau labanya antara 15-20% dari total ekuitasnya.

Dalam ilmu ekonomi ini disebut juga dengan ROE (Return of Equity).

2. Kriteria Kas

Pengertian kas adalah seluruh dari alat pembayaran yang dapat digunakan perusahaan dengan segera dalam operasinya, seperti uang kertas maupun logam dan saldo rekening giro atau tabungan di bank.

Nah, bagian dari neraca keuangan ini juga menjadi penilaian untuk syarat sebuah perusahaan bisa dikatakan sehat.

Antara laba dan kas adalah dua elemen yang berbeda dalam laporan keuangan perusahaan.

Bahkan, perusahaan yang menguntungkan sekalipun bisa saja kehabisan dana kas. Dan bila ini terjadi maka bisa saja perusahaan dipaksa menghentikan seluruh operasi bisnisnya karena tidak mampu membayar pemasok bahan bakunya, kreditor dari bank, dan atau pun membayar gaji karyawan yang mungkin jumlahnya ratusan.

Jadi harus hati-hati juga, karena dalam ilmu bisnis diketahui bahwa:

Tanpa kas = bisnis berhenti

Walau tidak separah efeknya jika perusahaan tidak bisa konsisten menghasilkan laba, dimana bisa berujung pada kebangkrutan, tapi jika kas terus bermasalah maka bisa saja lambat laun bisnisnya akan tutup juga.

Adapun manfaat dari arus kas pada laporan keuangan adalah:

  • Untuk menilai seberapa besar kemampuan perusahaan dalam membayar dividen pada pemilik saham dan juga dalam memenuhi kewajibannya, seperti membayar kereditor dan gaji karyawan.
  • Dengan adanya laporan arus kas masuk dan keluar, maka laba bersih dari perusahaan dapat diketahui dan pada akhirnya kita juga bisa mengukur dengan jelas keberhasilan perusahaan pada periode akan datang.
  • Untuk mengukur kemampuan ensitas perusahaan dalam menghasilkan arus kas kedepannya.

Lalu seperti apa rasio kas yang cukup bagi perusahaan sehingga bisa dikatakan aman dalam beroperasi?

Saya berikan contoh dulu:

Diketahui perusahaan ABCD memiliki Kas dan Setara Kas = Rp. 50 juta (Kas Rp. 30 juta + Setara kas Rp. 20 juta)
Hutang lancar = Rp. 80 juta
Nah, berapa Rasio Kasnya = ?

Jawabannya:

Rasio Kas = (Kas + Setara Kas) / Hutang Lancar
Rasio Kas = Rp. 50 juta / Rp. 80 juta
Rasio Kas = 0,63 kali

Jadi, Rasio Kas dari perusahaan PT. ABCD adalah sebesar 0,63 kali. Maksudnya, perusahaan tersebut hanya memiliki kas dan setara kas untuk membayar 63% dari kewajiban lancarnya.

Apakah jumlah rasio kas di atas sudah cukup dan bagus? Sederhananya bisa kita jawab sudah bagus.

Memang sih tidak ada batasan baku untuk nilai rasio kas ini, tapi di beberapa negara dengan nilai 0,2 kali saja sudah bisa dianggap cukup.

Oleh Georgi Tsvetanov, mengklasifikasikan rasio kas bahwa

  • antara 0 hingga 0,5 kali adalah beresiko
  • antara 0,5 hingga 1 kali adalah aman, dan
  • antara 1 sampai 5 kali adalah terlalu aman (tidak dianjurkan)

Dan kalau pun terlalu tinggi, anggaplah di atas 1 kali seperti di atas, maka itu juga tidak bagus karena investor akan menilai kalau perusahaan tidak maksimal dalam mengelola aset yang ia miliki karena memegang cash terlalu banyak. Tentunya ini akan berpengaruh juga pada perolehan laba perusahaan kedepannya.

Jika anda ingin tau rumus dan cara menghitung hingga 35 rasio keuangan dan menilai kinerja perusahaan, maka boleh membeli KALKULATOR SAHAM berbentuk file excel dari saya. Hubungi di halaman kontak.

3. Indikator Keberlanjutan

Sekalipun perusahaannya menguntungkan, kalau manajemennya selalu mengambil keputusan yang mengorbankan visi jangka panjang perusahaan demi untuk kepentingan jangka pendek, maka ini bisa jadi pertanda bahwa perusahaan menerapkan manajemen perusahaan yang tidak safety untuk menjaga keberlanjutan bisnisnya.

Banyak disimpulkan oleh ahli keuangan bahwa:

Tidak adanya keberlanjutan = kerentanan

Contoh sederhana, misalnya saja provider pulsa seluler Fren yang waktu itu hanya fokus pada layanan jaringan telepon CDMA yang sama sekali tidak mempertimbangkan efek jangka panjangnya.

Nyatanya, setelah beberapa tahun, saat telepon seluler CDMA tidak lagi diminati, akhirnya perusahaan pun harus berhenti sejenak (dan bersamaan dengan itu sahamnya juga anjlok hingga Rp50 per lembar) dan baru pada tahun 2018 ini iklan usahanya mulai bermunculan lagi di berbagai media.

Tapi, karena lazimnya, pendatang baru tidak selalu mudah bersaing dengan pemain lama, jadinya Fren saat ini tidak lagi se-booming saat promo CDMAnya.

Contoh lainnya, seperti Nokia yang karena merasa perusahaan yang besar menganggap remeh kehadiran Android dan memutuskan tidak akan menggunakan operating system smartphone tersebut.

Dan akhirnya, begitu Android booming dan orang beramai-ramai beralih ke ponsel smartphone, akhirnya Nokia pun kehilangan jutaan pelanggannya.

Sekalipun sekarang Nokia sudah memperbaiki kesalahannya dan mulai menggunakan Android, tapi sayang sekali karena telat maka jadilah brand tersebut tidak lagi seterkenal dulu.

Mungkin contoh di atas tidak 100% bisa dikatakan kesalahan, tapi ketidakmampuan membaca peluang jangka panjang saat ini, bisa jadi masalah besar di masa akan datang.

Dan di antara contoh yang baik adalah seperti PT. Telkom Indonesia. Jika bukan karena perusahaan jeli melihat perkembangan teknologi jaringan seluler dengan mendirikan Telkomsel di waktu yang tepat, maka bisa jadi sekarang Telkom sudah tidak ada. Karena bisa dibilang orang yang menggunakan telepon rumah saat ini bisa dihitung jari.

Selain itu, perusahaan yang hobi utang kesana-kemari tanpa mempertimbangkan rasio utang usahanya juga masuk dalam kategori ini.

Rasio utang yang bisa kita anggap bagus adalah kalau tidak lebih dari 1 kali atau kurang dari 1 kali.

Istilahnya dalam ilmu analisis/analisa fundamental atau laporan keuangan adalah DER atau Debt to Equity Ratio, artinya rasio jumlah utang terhadap jumlah ekuitas.

Sebagai contoh, mari kita lihat laporan keuangan PTBA tahun 2017 untuk setahun penuh.

Diketahui bahwa total liabilitasnya adalah 8,18 triliun, sedang total ekuitasnya adalah 13,79 trilun.

Sehingga, DERnya adalah Rp8,18 dibagi Rp13,79 maka hasilnya adalah 0,59 kali. Sehingga, bisa kita katakan kalau rasio hutang (DER) dari PTBA ini masih tergolong aman.

Mengenai analisa dari PTBA ini dapat anda baca di halaman : Analisa Fundamental Saham PTBA.

4. Pertumbuhan

Bisnis yang berhasil dan bisa bertahan sangat bisa kita nilai dari kemampuannya untuk berubah, berinovasi, dan terus bertumbuh.

Tanpa 3 hal tersebut maka perusahaan akan kalah bersaing dengan perusahaan lain karena faktor kehendak konsumen dan persaingan yang dinamis. Dan ini pula yang bisa mencerminkan aktifitas bisnis perusahaan yang bisa dikatakan sehat.

Kalau 3 yang di atas lebih cenderung sebagai indikator keamanan keberlangsungan bisnis dari perusahaan, sedang sub bab soal ‘pertumbuhan’ atau growth ini lebih tepat sebagai cara mengukur perusahaan yang bagus.

Contoh sederhana dari ini, saya punya contoh yang paling nyata, seperti produk pembersih kamar mandi dengan brand ‘Porstex’.

Saat saya masih kecil, bisa dibilang produk ini yang selalu ada di setiap kamar mandi orang Indonesia, tapi karena kegagalan perusahaan berkembang akhirnya sekarang hampir semua orang beralih ke merek lain seperti Vixal dan Wipol.

Sebenarnya masalahnya sepeleh, yaitu dari desain kemasannya yang tidak berkembang.

Dari dulu bentuk botol plastik yang digunakan Porstex begitu-begitu saja. Kalau mau menggunakan kita harus menuang dulu cairannya di tutupnya baru dituang ke lantai, dan karena seperti itu, jadi kita harus pakai pelindung tangan biar tidak terkena cairannya.

Nah, bedanya dengan produk lain yang baru bermunculan, botol atau kemasannya sudah didesain lebih mudah digunakan. Jadi cukup semprot saja cairannya sudah bisa diaplikasikan di lantai dan dinding kamar mandi, jadi tidak perlu pakai pelindung tangan segala.

Dan nyatanya, sekarang, siapa yang masih pakai Porstex? Saya saja sudah beralih ke Vixal yang lebih simpel.

Selain makna di atas, perusahaan yang bertumbuh juga bisa dinilai dari nilai yang ia hasilkan, di antaranya adalah modal, aset, ekuitas, dan atau laba yang bertumbuh dari waktu ke waktu atau minimal lebih tinggi dari periode sebebelumnya.

Akan semakin bagus lagi kalau pertumbuhannya konsisten dan terus meningkat dari masa ke masa berdasarkan aktivitas bisnis perusahaan tersebut.

Jika Anda bisa menemukan perusahaan seperti itu, contohnya saham UNTR yang earning-nya terus naik dari 1,5 triliun di tahun 2007 hingga 5,1 triluun di tahun 2016, maka itu bisa jadi sinyal beli untuk long term, tentunya dengan analisa lanjutan yang lebih mendalam.

Sekali lagi, jika anda ingin melakukan analisa kinerja keuangan sendiri maka saran saya, beli KALKULATOR SAHAM yang sudah saya buat.

Baca juga: Apa Itu Pengertian Growth Investing

B. Layanan Konsumen = Produk

Mengenai ini, silahkan baca selanjutnya: 6 Prinsip Produk dari Manajemen Perusahaan yang Baik

Nah, pembahasan kita mengenai faktor pemilik perusahaan, pada artikel soal bagaimana cara menilai perusahaan yang sehat dari kinerja laporan keuangannya ini, saya anggap sudah selesai. Selanjutnya akan kita bahas dari sisi layanan perusahaan pada konsumennya. Jadi teman analis Zulbiadi Latief terus berkunjung ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *