9 Metode Analisisis Fundamental dan Teknikal. Begini Tahapannya!

Buat yang pemula wajib tau Metode Analisisis Fundamental dan Teknikal saham. Karena, dengan bigitu ia bisa paham tahap analisa fundamental saham yang benar.

Kalau ditanya, apa saja yang dianalisa dalam menilai fundamental saham, maka jawabannya sederhana sekali. Ya, cukup lihat laporan keuangannya.

Terus kalau analisis teknikal apanya yang dinilai?

Jawabannya simpel juga. Apalagi kalau bukan harga sahamnya. Ya, yang diamati hanya pergerakan sahamnya kemudian diputuskan kapan akan membelinya.

Jadi, sebenarnya antara keduanya memiliki dua perbedaan yang mencolok. Kalau fundamental tujuannya untuk memilih saham yang tepat, sedangkan teknikal untuk mengetahui timing atau waktu kapan sebaiknya mulai membeli saham tertentu.

Sampai disini sudah mulai paham kan. Nah tinggil menjawab pertanyaah di bawah.

Apa saja 9 Metode Analisisis Fundamental dan Teknikal?

Sebelumnya saya sudah membahas artikel yang berjudul “Yang Harus Diperhatikan dalam Analisa Fundamental Saham“. Ulasannya kurang lebih sama dengan artikel ini, jadi silahkan dikunjungi karena saya tidak menjelaskan panjang lebar lagi di sini.

  1. Memilih arah analisis
  2. Menilai Manajemen
  3. Mengukur profitabilitas perusahaan
  4. Seberapa besar penjualannya atau tepatnya ‘tingkat dan pertumbuhan penjualannya’
  5. Lancarkah likuiditasnya?
  6. Menimbang rasio hutangnya. Amankah?
  7. Bagaimana aktifitas usahanya dijalankan?
  8. Menaksir valuasi / harga saham emiten
  9. Menentukan timing beli saham yang tepat

Nah, biar sedikit ada gambaran dan sebelum masuk ke artikel penjelasannya Disini, saya akan jelaskan secara singkat satu per satu tahap analisis di atas.

tahap analisis fundamental dan teknikal

#Pertama, memilih arah analisis.

Arah di sini maksudnya mau mulai dari mana analisanya dilakukan. Apakah dari fundamental bisnisnya dulu atau fundamental secara global.

Jika mulai dari emitennya, maka itu disebut dengan Bottom-Up Analysis. Jadi metodenya seperti ini: Emiten >> Sektor >> Makroekonomi.

Maksudnya di atas, setelah melakukan analisis perusahaan dari laporan keuangannya, maka metode yang selanjutnya dilakukan oleh trader adalah dengan menganalisa sektor dari emiten tersebut. Dan barulah setelah itu menilai secara global kondisi fundamental yang terkait dengan saham tersebut.

Adapun jika analisisnya dimulai dari yang sifatnya global, maka namanya Top-Down Analysis. Caranya, ya sebalinya dari yang di atas dimana kita mulai tahap analisa fundamental dari makroekonominya dulu.

#Memilih berdasarkan manajemennya.

Manajemen yang baik bisa kita nilai dari beberapa aspek, di antaranya adalah dari kepribadiannya, kemampuannya, dan langkah bisnis yang ia ambil.

Kepribadian yang baik dan paling utama adalah kejujuran. Jika secara umun manajemen sebuah perusahaan dikelola oleh orang yang jujur, terutama dari manajer dan direksinya, maka bisnisnya bisa lebih meyakinkan dan mudah berkembang.

Sedangkan soal kemampuan, ini kembali lagi ke soal kemampuan bisnis dari manajer dan pihak pengendali dari perusahaan tersebut.

Umumnya, manajer yang berpengalaman dan punya track record bisnis yang baik yang cenderung lebih berhasil dan mampu dipercaya mengelola dan mengembangkan bisnisnya.

Dan terakhir, soal keputusan bisnis. Nah, ini juga sangat menentukan prospek dari sebuah perusahaan. Jika salah mengambil keputusan, maka akibatnya akan fatal. Bahkan perusahaan bisa saja gulung tikar karena masalah ini.

Contoh sederhana, soal FREN yang waktu itu memutuskan untuk fokus saja di layanan provider pulsa CDMA. Akhirnya, karena orang-orang mulai meninggalkan CDMA dan beralih ke GSM saja, maka mau tidak mau bisnisnya pun harus terhenti sementara. Walau demikian, FREN sudah merubah keputusannya dan kini fokus di layanan GSM.

#Ketiga, Mengukur Profitabilitas

Bicara soal untung rugi perusahaan, maka yang pas dilakukan dalam metode analisa fundamentla ini adalah dengan menilai rasio profitabilitas perusahaan.

Dalam kalkulator saham excel yang sudah saya buat, ada beberapa rasio yang masuk dalam kelompok rasio yang juga sering disebut rasio rentabilitas ini, di antaranya:

Kebetulan sekali, semua artikel soal rasio di atas sudah ditulis, jadi tinggal kunjungi saja satu per satu artikelnya.

Dari rasio-rasio finansial tersebut, Anda akan tau dan paham bagaimana menilai perusahaan yang untung dan tidak, yang growth atau bertumbuh dan yang tidak.

#Keempat, Mengetahui Tingkat Pertumbuhan Penjualannya

Penjualan dalam laporan keuangan sering dibahasakan dengan sales, net sales, revenue, pendapatan dan sebagainya. Tapi intinya sama saja.

Kalau bicara soal tingkat pertumbuhan penjualan maka itu artinya kita menilai growth dan average growth rate-nya. Tapi sebelum itu, sebenarnya yang perlu dilakukan adalah dengan menilai terlebih dahulu seberapa baik penjualan dari perusahaan tersebut.

Sama halnya dengan metode analisis di atas, teknikalnya ya dengan rasio juga. Karena cara penilaian dengan rasio inilah bisa dipahami dengan baik performa penjualan dari sebuah perusahaan terbuka.

Di antara rasio yang biasa dipakai untuk menilai sales atau penjualan adalah:

Selain itu, ada juga yang namanya rasio SSSG atau Same Store Sales Growth. Ini penting digunakan untuk menilai kinerja penjualan dari perusahaan perdagangan ritel seperti Matahari, kode sahamnya LPPF.

SSSG ini untuk mengetahui apakah bertumbuhnya bisnis disebabkan karena penjualan per gerai atau toko emiten atau karena adanya toko baru yang dibuka.

#Menilai Sisi Likuiditasnya. Lancarkah?

Menyangkut tahap atau metode analisis fundamental ini, maka yang paling banyak dinilai adalah yang terkait dengan kewajiban lancar emiten. Makanya, rasio ini secara umum disebut juga current ratios.

Kewajiban lancar sendiri adalah nama lain dari liabilitas lancar atau jangka pendek. Sedangkan istilah lancar sendiri maksudnya adalah utang atau kewajiban yang jatuh tempo pembayarannya dalam kurun waktu 12 bulan atau kurang dari setahun.

Manfaat dari analisis likuiditas ini adalah untuk mengukur sejauh mana kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban lancarnya. Semakin tinggi nilainya maka akan semakin baik. tapi bila terlalu tinggi juga maka prusahaan akan dinilai tidak maksimal dalam mengolah asetnya karena akan mempengaruhi penjualan maupun labanya.

Dan lagi-lagi, untuk menilai baik tidaknya likuiditas sebuah perusahaan dalam melakukan analisa fundamental saham, maka seorang investor harus menilai dari rasionya juga.

Di antara rasio finansial yang biasa digunakan dalam hal ini adalah:

Dari beberapa yang rasio likuiditas yang disebut di atas, maka Cash Ratio atau rasio kas lah yang paling tepat menggambarkan kelikuidan emiten tersebut.

Kenapa demikian?

Ya, karena dalam menghitung rasio kas maka rumus yang digunakan adalah:

CR = Kas dan Setara Kas / Kewajiban Lancar

Berbeda dengan dua rasio lainnya, yaitu CrR (Rasio Lancar) dan QR (Rasio Cepat), dimana keduanya masing-masing membandingkan liabilitas jangka pendek dengan aset lancar dan liabilitas jangka pendek dengan kas & setara kas plus piutang usaha.

Lalu kenapa rasio kas dikatakan paling tepat?

Ya, karena kas dan setara kas adalah aset lancar yang paling likuid dibanding semua bagian aset lancar yang ada. Sedangkan aset lancar sendiri masih terbagi dalam beberapa bagian keuangan yang tidak bisa langsung dikonversi ke dalam rupiah atau cash.

Demikian juga piutang usaha, ia tidak bisa dipastikan langsung bisa tertagih dari pelanggan. Bisa saja menunggak atau mungkin gagal bayar.

Intinya, baik nilainya terlalu rendah atau pun terlalu tinggi, semua punya kelebihan dan kekurangan.

Lanjut baca: Cara Analisa Fundamental Saham

Oke, masih ada 4 Metode Analisisis Fundamental dan Teknikal yang belum di bahas. Tapi biar bagaimana pun, tetap tidak mungkin untuk menyelesaikan ulasannya dalam artikel ini. Sebagai solusinya silahkan order Video Tutorial Investasi Saham yang sedang saya buat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *