Intip Saham NIKL 2019 dengan Fundamentalnya Sekarang, Apakah Hasil Analisisnya Layak Beli?

Hari ini, hingga jam 2 sore saham NIKL sudah naik 17,82% di level Rp1620 per lembar. Ada apa dengan analisa fundamental saham PT Pelat Timah Nusantara Tbk? dan bagaimana juga dengan analisis teknikal NIKL di tahun 2019 ini setelah laporan keuangan kuartal II nya dirilis? Mau tau jawabannya baca terus artikel ini.

Jujur, ini tidak masuk dalam kategori saham syariah, hanya karna ingin memberikan sedikit tips investasi, jadi saya bahas juga di artikel ini. Selain itu, saya kurang kerjaan hari ini jadi iseng buat ulasan untuk saham dengan produk utamanya kaleng untuk produk-produk kalengan, seperti sarden, susu, pakan ternak, biskuit dan lainnya.

Untuk info resmi profilnya, disebutkan bahwa bidang usahanya bergerak dalam usaha baja lembaran lapis timah atau tinplate yang menggunakan proses electrolytic dan revamping. Sedangkan produk utama Latinusa adalah menyediakan produk tinplate dalam bentuk gulungan (coil) dan juga lembaran (sheet and scroll).

Mungkin buat trader yang mulai bertanya-tanya soal kenapa saham NIKL ini bisa terbang begitu tinggi dalam sehari penasaran dengan fundamentalnya kan?

PENTING: Saham NIKL tidak direkomendasikan selama harga timah masih turun. Cek harganya Disini.

Jika betul masih turun, jadikan artikel ini hanya untuk pembelajaran soal valuasi saham.

Terus terang, posting analisis NIKL ini ibarat mempertaruhkan ilmu fundamental yang selama ini saya share. Karena, NIKL secara rasio PER masih sangat mahal. Tapi karena ini sekedar ingin memberi pelajaran soal bagaimana menilai harga wajar yang sesungguhnya dari histori PBV dan PER sebuah saham, maka saya pikir tidak masalah untuk dishare.

Jadi, salah satu alasan kuat kenapa saham PT Pelat Timah Nusantara Tbk bisa naik cukup tinggi adalah karena prestasinya merubah kondisi laporan keuangannya yang di periode yang sama sebelumnya pada posisi minus, dan sekarang berhasil mencatatkan laba bersih hingga sebesar US$ 2,41 juta atau Rp 33,76 miliar. So, sepintas bisa kita katakan kalau wajar bila sahamnya yang dalam setahun terakhir terus anjlok dari harga tertingginya di level Rp4.900 per lembar menjadi ramai lagi ditransaksikan, walau jumlah transaksinya tidak begitu tinggi, yaitu hanya 15,67 juta unit saja.

Dan usut punya usut, setelah melirik catatan atas laporan keuangannya, ternyata laba tersebut sebagian juga disumbang dari keuntungan atas selisih kurs, yakni sebesar US$ 1.291. Jumlahnya memang tidak terlalu banyak, dibanding dengan penjualan scrap sebesar US$ 637.282, disususl dengan pendapatan keuangan sebesar US$82.200. Saya kira faktor utama kenaikan laba NIKL kali ini ditopang oleh penjualan scrap yang naik hingga 283% lebih dibanding periode sebelumnya yang hanya US$ 166.381.

Sedikit saya singgung soal histori pergerakan saham NIKL ini di masa lalu, NIKL ini pernah naik gila-gilaan hingga 1.600% di tahun 2016. Salah satu pemicunya adalah karena harga timah waktu itu juga bergerak naik sepanjang tahun 2016. Kalau sekarang sih, dari 2016 sampai sekarang bisa dibilang bergerak sideway di level US$ 19.000-an per metric ton, tidak turun dalam, tapi tidak naik juga di atas titik resistance-nya.

Ini pernah juga saya bahas di artikel soal analisa fundamental PTBA dimana cara trading saham komunitas yang paling penting diperhatikan adalah pada harga komoditasnya sendiri. Misal saja teman2 Analis mau trading saham PTBA maka lihat dulu harga batubara terbaru, minimal di 3 bulan terakhir. Bila naik, dan fundamental mendukung maka layak untuk dilirik, tapi bila fundamental masih oke, sedangkan harga komoditinya turun, maka saran saya stop dulu trading di saham tersebut dan carilah saham lain yang resikonya minim.

Nah, seperti ini pula yang terjadi di saham NIKL dimana fundamentalnya yang sekilas tampak membawa angin segar bagi para swing trader dan didukung dengan BUMN Effect dari KRAS (walau sebenarnya KRAS ini juga tidak bisa kita katakan emiten yang berfundamental baik), maka kalau bukan karena faktor IHSG dan nilai tukar yang melemah, ‘sulit’ untuk melihat shamnya sideway atau pun turun lagi.

Faktor pemicu lainnya yang perlu dilihat adalah masuknya PT Krakatau Steel (KRAS) pada akhir tahun 2009 dimana hingga saat ini tercatat menjadi pemegang saham hingga 20,1%, disusul oleh Nippon Steel & Sumitomo Metal Corp yang nilainya lebih tinggi, yakni sebesar 35%.

Satu pengalaman juga yang perlu saya share, dengan mengamati beberapa saham yang punya kaitan dengan saham BUMN, karena KRAS ini adalah saham plat merah juga dan merupakan induk dari NIKL, saya melihat bahwa ‘BUMN Effect‘ selalu berperan penting dalam pergerakan saham-saham seperti NIKL ini. Dimana, sedikit saja ada sentimen positif, maka sahamnya akan langsung naik, bahkan terkadang langsung terbang dan menyentuh ARA dalam sehari. Walau ini bukan alasan yang bagus, tapi sebagaimana sudah menjadi kesepakatan tidak tertulis kita para trader bahwa saham bergerak bukan hanya karena faktor fundamental dan teknikalnya, tapi juga karena faktor psikologi para trader, yakni harapan dan ketakutan mereka.

So, kuatnya sentimen positif dari saham PT Pelat Timah Nusantara Tbk ini banyak tidaknya dipengaruhi juga oleh ‘bau’ plat merah yang melekat padanya.

Analisa Fundamental Saham NIKL

Sebenarnya ini tidak bisa juga dikatakan analisis fundamental, lha yang dibahas kulitnya doang.

Dan biar lebih melek lagi, kita lihat lagi lebih detail fundamentalnya saat ini dimana penjualan segmen sheet menyumbang 44,84 persen untuk penjualan bersih NIKL, dengan kata lain tumbuh 13,53 persen secara tahunan. Sedangkan coil-nya sendiri turun 6,37% atau nilainya setara 55,16% dari total penjualan yang tercatat . Adapun perbandingan antara penjualan ekspor dan domestiknya, lebih unggul pada sisi ekspornya karena naik 78,95 persen, sedangkan untuk penjualan domestinya hanya menunjukkan pertumbuhan 2,03%.

Kembali ke inti perburuan teman2 di Google, yaitu bagaimana valuasi dari saham NIKL ini? Mengingat, biasanya kalau sudah menyangkut valuasi saham yang punya daya ungkit seperti ini sering kali dihargai mahal, terkadang walau sudah diluar dari batas kewajaran.

Dan memang demikian adanya, ketika artikel ini ditulis, harga saham NIKL yang berada di level Rp1.620 per lembar PBVnya 6,4 kali. Apakah ini mahal? Ya, kalau kita pakai standar valuasi relatif bahwa kalau di atas 1 kali itu agak mahal dan di bawah 1 kali itu murah. Hanya saja, cara analisis seperti itu hanya membuat kita masuk dalam jebakan valuasi.

Terus bagaimana caranya? Menurut hemat saya, lakukan komparasi dengan histori PBVnya beberapa tahun sebelumnya, minimal 3 tahun belakangan ini. Dan kalau kita tarik dari 2017 angkanya ada di rata-rata 18,2 kali untuk PBV wajarnya. Angka ini jelas muahaaaal banget kalau dasar analisanya dari sisi fundamental sederhana. Tapi coba bandingkan dengan PBV saat ini yang walau nilainya sampai 6,4 kali, jelas ini tampak menunjukkan selisih yang lumayan jauh. Dan kalau saja semua faktor eksternalnya mendukung termasuk sektor, IHSG, nilai tukar dan apalagi jika seandainya harga komoditinya lagi naik, maka ini bisa dianggap peluang bagi swing trader untuk masuk.

Soal valuasi PERnya jangan ditanya lagi, sekarang ini, dengan harga 1.620 maka PERnya di angka 62,3 kali. Jelas ini mahal juga. Hanya saja, saya biasanya tidak tertarik menilai saham dengan market cap kecil dari sisi PERnya, karena PER sifatnya fluktuatif tergantung kondisi perolehan laba dari perusahaan. Tapi kalau saham bluechip sih saya biasanya pakai pertimbangan valuasi dari PER dan PBV.

Nah, bagaimana dengan analisis teknikalnya?

analisa fundamental saham nikl

Saya urut saja, biar artikelnya tidak terlalu panjang:

  • Pada analisa volume perdagangan bisa dibilang cukup positif, candlestick juga cukup ‘cantik’ dengan munculnya Three White Soldiers (walau belum begitu sempurna penampakannya karena CS pertama besar body nya tidak terlalu seimbang) setelah menyentuh titik supportnya.
  • Pada sisi trend-nya, jika dilihat dengan MA20 maupun MA50 maka sudah tampak terlihat sinyal beli dimana candlestick sudah crosing ke atas MA20 dan hampir menyentuh MA50, walau baru pada up shadow-nya.
  • Indikator RSI nya sendiri masih masuk dalam trend positif karena masih berada di angka 57. Standarnya antara 50-70 bisa kita katakan positif.

Pertanyaannya: Apakah Ada Permaianan Band4r di saham ini?

Untuk saham seperti ini jelas iya. Didasari juga persentase jumlah saham beredar di publik yang jauh lebih sedikit dari yang dipegang para pemilik modal besar dan reksadana. Tapi sebenarnya fokus kita pada kinerjanya saat ini. Kalau ada saham yang naik gak karuan sedangkan posisi kinerjanya lagi tidak tampak baik, maka itu harus dihindari. Sedangkan NIKL ini, bagaimana menurut Anda? Silahkan nilai sendiri!

Intinya, bicara soal analisa fundamental NIKL, erlepas dari sisi valuasinya, maka keberhasilan NIKL membukukan laba saat ini merupakan faktor pendongkrak utama untuk sahamnya naik beberapa hari atau minggu ke depan, mengingat di kuartal sama di tahun sebelumnya PT Pelat Timah Nusantara sedang ‘berduka’ dengan raport merahnya, alias minus, walau dari sisi peningkatan penjualan tidak terlalu membanggakan juga karena angkanya tidak lebih dari 2%. Daya ungkit lain yang diperhatikan banyak trader adalah ‘bau’ BUMNnya yang kuat banget. Tapi kalau dari sisi valuasi, ‘secara penilaian relatif’ tampak mahal, dan secara histori bisa dikatakan ada selisih yang bisa jadi alasan untuk berspekulasi.

Pertimbangan-pertimbangan di atas bukan ajakan untuk membeli atau menjual saham NIKL. Saya hanya ingin memberikan contoh bagaimana menilai harga wajar saham dari historinya. Memang ini bukan contoh yang tepat, tapi momennya pas untuk kita bahas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *