Penyebab dan Efek Resesi Ekonomi Dunia + Bahaya & Perbedaannya dengan Krisis dan Depresi

Jika seandainya terjadi, apa saja penyebab resesi ekonomi dunia 2020, dan efek resesi ekonomi bagi Indonesia seperti apa? Nah, inilah yang akan kita bahas di artikel dan video ini teman2 Analis.co.id. Termasuk bahayanya dan perbedaan krisis ekonomi dan resesi serta depresi ekonomi.

Dalam ilmu ekonomi, pada dasarnya terjadinya krisis sering kali disebabkan oleh banyak faktor beruntun yang terjadi secara global.

Yang paling berpengaruh sebenarnya sering kali dikarenakan oleh kondisi negara adidaya yang menjadi kiblat tolak ukur ekonomi dunia. Bila satu hal serius terjadi di negeri Paman Sam, Ameraika Serikat, sebut saja soal perang dagang antara Cina dan Amerika Serikat, maka mau tidak mau dampaknya juga akan berpengaruh pada negara-negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Saya pribadi menilai bahwa efek terjadinya resesi ekonomi global saat ini, yang melanda Jerman, Inggris dan negara maju lainnya, lebih dikarenakan oleh efek dom1no dari perang dagang tersebut.

Dalam pengertian resesi secara umum, resesi diartikan sebagai kemerosotan pertumbuhan ekonomi yang disebabkan menurunnya pertumbuhan PDB dalam 2 kuartal atau lebih dalam setahun.

Akan tetapi, faktanya, sebagaimana saya jelaskan dalam video di bawah, resesi lebih dominan dikarenakan oleh faktor kurva imbal hasil terbalik, yakni dimana imbal hasil obligasi jangka panjang bertenor >10 tahun lebih rendah yield-nya dibanding dengan obligasi jangka pendek bertenor 2-5 tahun.

Baca: Cara Download Laporan Keuangan

Penyebab dan Efek Resesi Ekonomi Dunia 2020 serta Bahayanya

Sebagaimana disebutkan di atas bahwa umumnya kemerosotan ekonomi terjadi karena faktor beruntun dari kondisi ekonomi tertentu.

Dari hasil pengamatan penulis, terhadap kondisi perlambatan maupun penurunan pertumbuhan ekonomi di sejumlah negara, pada dasarnya skemanya terbentuk seperti berikut ini:

  • Dimulai dari perang dagang Cina vs. US  >>
  • Kemudian dari perang dagang tersebut menimbulkan Efek Masalah Perdagangan (NX = Ekspor – Impor) Sejumlah Negara di Dunia. Dilanjutkan dengan melemahnya Nilai Tukar dan Terjadinya Inflasi  >>
  • Pada Akhirnya, karena selisih perdagangan Ekspor – Impor adalah salah satu bagian dari GDP (Gross Domestic Product) atau PDB (Produk Domestik Bruto), maka pertumbuhan PDB di beberapa negara pun terhambat, bahkan menurun pertumbuhannya >>
  • Masalah pada pertumbuhan ekonomi, serta meningkatnya jumlah pengangguran, tingginya inflasi, merosotnya produksi banyak perusahaan, hal tersebut kemudian direspon oleh banyak investor sebagai tanda memburuknya perekonomian >>
  • Respon kekhawatiran, bahkan terkadang kepanikan, kemudian menyebabkan pilihan investasi para investor berubah dari yang lebih dominan memilih obligasi jangka pendek bertenor 2-5 tahun, akhirnya banyak yang beralih memilih obligasi bertenor 10 tahun ke atas. >>
  • Ujungnya, pada saat permintaan dan tekanan beli obligasi jangka panjang menjadi tinggi dan harganya naik, maka yield atau imbal hasil obligasi jangka panjang tersebut kemudian menurun karena faktor pasar. >> (Ini karena antara harga dan yield obligasi pergerakannya berbanding terbalik. Bila harga obligasi naik, maka yieldnya turun, demikian sebaliknya)
  • Bila kondisi penurunan yield terus berlangsung, hingga yield obligasi jangka panjang 10 tahun malah lebih rendah dari yield obligasi bertenor 2 tahun, maka pada saat itulah converted yield curve (kurva imbal hasil terbalik) terjadi. ||

Rentetan seperti di ataslah yang penulis maksud sebagai efek beruntun timbulnya resesi ekonomi.

Lalu kenapa ada converted yield curve juga? Lebih jelasnya baca terus artikelnya.

Baca : 10 Kesalahan Trader Saham Pemula

Pengertian Resesi & Perbedaan Krisis Ekonomi dan Resesi

Oleh Wikipedia dijelaskan bahwa:

“Resesi ialah kondisi dimana produk domestik bruto (PDB) atau Gross Domestic Product (GDP) menurun atau ketika pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama 2 kuartal atau lebih dalam satu tahun.”

Jika kita defenisikan secara sederhana maka resesi sebenarnya maksudnya adalah terjadinya pembalikan arah pertumbuhan ekonomi, dari sebelumnya meningkat menjadi menurun, dan terjadi selama minimal 2 kuartal.

Adapun perbedaan antara krisis, resesi dan depresi ekonomi adalah:

Krisis adalah panamaan kemerosotan atau penurunan pertumbuhan ekonomi secara umum. Sedangkan resesi adalah salah satu dari jenis krisis yang cirinya adalah bila penurunan pertumbuhan ekonomi tersebut terjadi selama minimal 2 kuartal atau 6 bulan.

Adapun depresi ekonomi adalah juga merupakan salah satu jenis krisis ekonomi yang baru dikatakan depresi kalau kemerosotan ekonomi tersebut terjadi minimal 6 kuartal atau 18 bulan berturut-turut.

Jadi, baik resesi maupun depresi keduanya merupakan jenis krisis. Sedangkan krisis adalah penyebutan secara umum dari dua jenis krisis tersebut.

Sudah paham kan?

Penyebab Resesi Ekonomi dan Depresi Ekonomi

Jadi bicara soal resesi global maupun lokal yang kemungkinan terjadi di 2020 atau 2021, maka sebenarnya banyak sekali penyebabnya.

Faktor utama penyebab terjadinya resesi maupun depresi adalah di antaranya sebagaimana defenisi resesi di atas, yaitu karena faktor PDB.

Apabila PDB tidak tumbuh, malah turun antara -0,3% hingga -5,1%, maka kondisi tersebut dikatakan sebagai resesi, tapi bila penurunannya hingga -14,7% sampai -38,1% maka baru dinamakan sebagai depresi ekonomi.

Jadi yang membedakan keduanya adalah pada tingkat pernurunan PDB. Depresi adalah tingkat terparah dari penurunan PDB tersebut.

Tapi itu salah satu alasan penyebab resesi, menurut sebagian besar ekonom, penyebab yang paling kuat adalah karena faktor kurva imbal hasil terbalik atau inverted yield curve.

Itulah sebabnya, mengapa penjelasan saya di atas soal rententan terjadinya resesi tersebut di ujungnya adalah kurva imbal hasil terbalik.

Berikut ini adalah contoh grafiknya:

bentuk inverted yield curve dalam resesi ekonomiDikatakan terjadi resesi, bila pergerakan grafik biru di atas (yang merupakan nilai yield obligasi bertenor jangka panjang) melewati garis merah. Itu artinya, nilai yield obligasi bertenor jangka panjang di atas 10 tahun yieldnya lebih rendah dari obligasi bertenor 2 tahun.

Tapi walau turun di bawah garis merah, resesi baru dikatakan telah terjadi bila terjadinya selama dua kuartal atau lebih, dalam setahun.

Lebih lengkapnya, simak video berikut:

Demikian penjelasan singkat soal penyebab dan efek resesi ekonomi dunia 2020 di atas. Soal perbedaan krisis dan resesi ekonomi, jika belum jelas silahkan bertanya di komentar di bawah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *