Cara Menghitung Rasio Aktivitas Laporan Keuangan Perusahaan + Interpretasi & Analisisnya

Pertanyaan soal bagaimana cara menghitung rasio aktivitas laporan keuangan perusahaan sebenarnya sulit dijawab secara langsung karena interpretasi dan analisis rasio aktivitas bukan dengan hanya satu rumus saja, bahkan bisa sampai 10 rumus rasio keuangan.

Rasio keuangan dalam analisis saham sebenarnya banyak sekali. Jika teman2 Analis sudah memiliki kalkulator saham excel yang saya buat pasti sudah tau rasio apa saja yang termasuk di dalamnya.

Dan dalam analisa fundamental, di antara kelompok rasio yang sering dijadikan bahan analisa para trader saham beraliran value investing maupun growth investing adalah di antaranya:

  1. Rasio Profitabilitas
  2. Rasio Likuiditas
  3. Rasio Aktivitas
  4. Rasio Solvabilitas
  5. Rasio Valuasi

Rasio Aktivitas sendiri tujuannya adalah digunakan untuk mengukur tingkat efektifitas pemanfaatan sumber daya perusahaan dalam menghasilkan pendapatan dan cash.

Jadi yang menjadi objek analisis dalam rasio ini adalah segala aktivitas terkait aset perusahaan, seperti perputaran persediaan, piutang usaha, aset, dan juga perputaran modal kerja yang digunakan.

Dan di antara pertanyaan tentang rasio aktivitas yang sering diajukan netizen adalah berapa nilai rasio aktivitas yang baik?

Memang terkadang ada yang bisa disampaikan dengan angka rata-rata langsung, tapi ada juga yang baru bisa diketahui bila kita menghitung rata-rata rasio dari emiten yang memiliki sektor bisanis serupa.

Bila kita sudah bisa mendapatkan nilai rata-rata rasio dari para emiten yang masih dalam satu bidang usaha, maka barulah bandingkan dengan rasio dari perusahaan yang sedang fokus dianalisa.

Jika rasio untuk saham yang sedang dianalisa lebih tinggi dari saham lainnya, maka itu artinya lebih baik.

Tapi itu juga kembali pada standar umumnya, apakah kalau lebih tinggi dinilai lebih baik atau malah lebih buruk. Misalanya, selain dari rasio ini, rasio DER misalnya, jika nilainya tinggi maka malah akan semakin dinilai buruk perusahaannya.

Cara Menghitung Rasio Aktivitas Laporan Keuangan Perusahaan serta Interpretasi dan Analisisnya

Khusus untuk analisis rasio aktivitas menurut para ahli, untuk menghindari artikel yang terlalu panjang, tidak bisa dijelaskan langsung disini. Jadi harus merujuk ke tautan yang direkomendasikan di tiap rasio yang disebut di bawah.

Adapun yang menjadi fokus pembahasan kita kali ini, terkait soal pengertian, rumus dan nilai yang baik dari masing-masing rasio yang disebut.

1. Rasio Perputaran Persediaan (ITO – Inventory Turnover Ratio)

Rasio Inventory Turnover ini tujuannya untuk mengukur efisiensi pengelolaan persediaan barang dagang.

Perbandingan atau rasio aktivitas ini merupakan indikasi yang cukup popular untuk menilai efisiensi operasional, yang memperlihatkan seberapa baikkah manajemen mengontrol modal yang ada pada persediaan.

Semakin tinggi nilai ITO maka akan semakin baik.cara menghitung rasio aktivitas laporan keuangan perusahaan

Tapi, perputaran persediaan yang rendah tidak selalu berarti buruk dan perputaran persediaan yang tinggi juga tidak selalu berarti baik.

Solusinya, bandingkan perputaran persediaan Anda dengan angka rata-rata industri. Kisaran angkanya adalah …… (maaf, untuk angka baiknya dirahasiakan karena sudah tersedia dalam kalkulator saham), tapi tergantung pada industrinya juga.

Adapun rumus untuk rasio perputaran persediaan adalah:

ITO = HPP atau COGS / Persediaan Rata-rata

Persediaan atau inventory dirata-ratakan dengan menambah inventory awal tahun dengan akhir tahun, lalu hasilnya dibagi dua.

Dan karena persediaannya dari rata-rata dalam setahun maka HPP juga harus disetahunkan. Cara dan rumusnya lihat di kalkulator saham excel super lengkap yang sudah saya buat.

2. Rasio Perputaran Piutang (RTO – Receivable Turnover Ratio)

Tujuan utama dalam menggunakan rasio aktivitas ini adalah untuk mengukur efisiensi sebuah perusahaan dalam memanfaatkan aset-asetnya, khususnya perputaran piutang yang berhasil ditagih dan kembali digunakan untuk produksi barang dalam satu tahun atau periode.

Tingkat perputaran piutang suatu perusahaan dapat menggambarkan tingkat efisiensi modal perusahaan yang ditanamkan dalam piutang, sehingga semakin tinggi perputaran piutang berarti makin efisien modal yang digunakan dan berarti semakin cepat modal kembali.

Formula untuk rasio RTO adalah:

RTO = Pendapatan Bersih / Piutang Usaha

Sama dengan sebelumnya, harus disetahunkan dan dirata-ratakan dulu.

3. Rasio Rata-rata Waktu Digunakan Menagih Piutang (ACP – Average Receivable Collection Period Ratio / DSO)

Mengenai rasio yang sering juga disebut rasio average colletion period ini mengukur rata-rata waktu yang dibutuhkan perusahaan untuk menagih setiap piutang ke pembeli (customer) menjadi kas.

Semakin kecil nilai ACP maka semakin bagus, dan itu artinya perusahaan mampu menagih piutangnya dengan cepat.

Analisanya bukan berdasarkan angka baku dari rasio waktu penagihan piutang yang baik, tapi dengan membandingkan nilai rata-rata ACP dari industri yang sama kemudian barulah diketahui nilai standar untuk perbandingan ini.

Rumusnya:

ACP = 365 / RTO

RTO adalah singkatan dari rasio yang kedua di atas.

4. Rasio Perputaran Aset atas Penjualan Neto (TATO – Total Asset Turnover Ratio)

Ini fungsinya untuk mengukur tingkat efektivitas perusahaan dan manajemen memanfaatkan aset perusahaan untuk mendapatkan penjualan bersih (penjualan neto).

Semakin  tinggi  rasio  TATO ini maka akan semakin baik  karena  merupakan  pertanda  bahwa  manajemen  dapat  memanfaatkan  setiap rupiah aktiva untuk menghasilkan penjualan.

Dan untuk lebih tepatnya dalam menilai rasio aktifitas ini maka sama dengan sebelumnya, ya bandingkan dengan perusahaan lain yang memiliki bidang usaha atau sektor yang sama.

Formula cara menghitung rasio aktivitas ini adalah:

TATO = Penjualan Bersih / Total Aset Rata-rata

Juga sama dengan yang pertama, yaitu penjualan bersihnya disetahunkan dan total asetnya dari rata-rata total aset dalam setahun atau satu periode.

5. Rasio Perputaran Modal Kerja (WCTO – Working Capital Turnover Ratio)

Manfaat rasio ini untuk mengukur perputaran modal kerja dalam menghasilkan penjualan neto pada satu periode.

Makin pendek periode perputaran modal kerja, makin cepat perputarannya. Sehingga modal kerja semakin tinggi dan perusahaan makin efisien, yang pada akhirnya rentabilitas meningkat.

Untuk menghitung rasio perputaran modal kerja, maka kita harus tau dulu berapa modal kerja dari emiten tersebut. Dan kebetulan modal kerja juga ada rumusnya tersendiri, yaitu:

Modal Kerja = Total Aset Lancar – Liabilitas Jangka Pendek

Baru setelah itu kita menghitung rasio WCTO dengan formula berikut:

WCTO = Penjualan Bersih / Rata-rata Modal Kerja

Penjualan sering juga disebut pendapatan bersih atau pun net sales.

Rata-rata modal kerja didapat dengan menjumlahkan modal kerja di awal tahun dengan modal kerja di akhir tahun, kemudian hasilnya baru dibagi dua.

Dan jika modal kerja menggunakan rata-rata dalam setahun, maka itu artinya penjualannya juga harus disetahunkan. Cara menghitungnya sudah ada di file kalkulator saham excel.

6. Rasio Perputaran Aktiva Tetap (FATO – Fixed Assets Turnover Ratio)

Kegunaan menghitung rasio aktivitas yang satu ini adalah guna mengukur efektivitas penggunaan dana yang tertanam pada harta tetap seperti pabrik & peralatan, dalam rangka menghasilkan penjualan, atau berapa rupiah penjualan bersih yang dihasilkan oleh setiap rupiah yang diinvestasikan pada aktiva tetap.

Semakin tinggi nilai FATO semakin efektif penggunaan aset tetap, dan jika FATO menurun maka penggunaan aktiva tetap kurang efektif / banyak menganggur.

Jika perputarannya lambat kemungkinan terdapat kapasitas terlalu besar namun kurang bermanfaat. Penilaian terbaik adalah membandingkan rasio historisnya dan rasio rata-rata industrinya.

Adapun formula cara menghitungnya:

FATO = Penjualan Bersih / Rata-rata Aset Tetap

Soal mencari nilai rata-rata rumusnya sama dengan rasio aktivitas sebelumnya, dan untuk penjualan juga menggunakan data yang disetahunkan bila laporan keuangannya dari kuartal 1, 2, atau 3.

7. Rasio Perputaran Utang Usaha kepada Supplier (PTO – Payables Turnover Ratio)

Tujuan menghitung rasio payable turnover adalah untuk mengukur perputaran utang usaha yang dimiliki perusahaan kepada para supplier (pemasok).

Semakin cepat pembayaran utang pada pemasok, menunjukkan bahwa perusahaan bisa mengelola utang usahanya dengan tepat dan juga menunjukkan perusahaan memiliki kecukupan kas dan aset lancar untuk membayar utangnya pada pemasok.

Rumusnya:

PTO = HPP / Utang Usaha

HPP atau COGSnya disetahunkan bila LK yang dipakai bukan dari laporan tahunan dan utang usaha juga dicari rata-ratanya dulu.

8. Rasio Jumlah Hari yang Dibutuhkan untuk Melunasi Hutang Usaha (PPP – Payables Payment Period Ratio / DPO)

Yang melatarbelakangi penghitungan rasio PPP atau DPO ini dalam analisa fundamental adalah tujuannya untuk mengukur rata-rata jumlah hari yang dibutuhkan perusahaan untuk melunasi utang usaha.

Membayar terlalu cepat pemasok dapat merugikan likuiditas kas perusahaan. Dan bila terlalu lambat bisa menurunkan kepercayaan  supplier dan  berpengaruh pada supply bahan baku kedepannya.

Selain itu, lambat membayar hutang usaha juga dampaknya bisa sulit mendapat harga diskon dari supplier yang berdampak pada beban pokok pendapatan.

Khusus untuk ini, maka ada standar berapa nilai rasionya. Kebetulan merujuk pada pernyataan salah satu pakar ekonomi, Georgi. Tapi sayangnya ini juga tidak dishare secara bebas karna sudah ada dalam file kalkulator saham.

Rumus cara perhitungannya:

DPO = 365 / Hasil perhitungan Payables Turnover Ratio

9. Rasio Hari yang Digunakan Menyimpan Persediaan (AIPP – Average Inventory Processing Period Ratio/ DSI / DIO)

Dalama melakukan analisa fundamental, trader menghitung rasio aktivitas ini guna mengetahui jumlah hari yang dibutuhkan perusahaan untuk menyimpan persediaan sebelum diproses menjadi produk atau dijual.

Semakin tinggi angka AIPP, maka perusahaan dianggap kurang berhasil menekan persediaannya agar tidak terlalu menumpuk di gudang dan itu berarti pula bahwa semakin banyak modal kerja tertanam dalam persediaan.

Rasio ini disebut juga dengan Days Sales of Inventory (DSI). Dan formulanya adalah:

DSI = 365 / Hasil Perhitungan Inventory Turnover

Lihat rumus rasio pertama dulu.

10. Rasio Efisiensi Aset dan Kewajiban Lancar untuk Menghasilkan Aset (CCC – Cash Conversion Cycle Ratio)

Untuk mengukur waktu yang dibutuhkan perusahaan mulai dari saat perusahaan mengeluarkan uang untuk membeli bahan baku sampai dengan perusahaan mengumpulkan uang dari penjualan barang jadi.

Atau dengan kata lain, rasio ini untuk mengukur seberapa efisien perusahaan dalam mengelola modal kerjanya.

Semakin pendek waktu yang dibutuhkan maka akan semakin baik. Sebaliknya, semakin panjang waktu yang diperlukan, semakin banyak modal yang harus ditanamkan.

Sama dengan rasio aktifitas lainnya, diperlukan perbandingan dengan perusahaan lain untuk mengetahui rata-rata rasio CCC yang baik.

CCC = ACP + AIPP – DPO

Lebih lengkapnya mengenai kepanjangan dari bagian rumus ini, perhatikan lagi singkatan dari tiap rasio yang sudah disebut sebelumnya.

Informasi di atas bisa Anda jadikan sebagai referensi untuk makalah, ebook pdf, skripsi mapun tesis terkait rasio aktivitas. Tapi pastikan menyertakan sumbernya, yaitu Analis.co.id dan penulisnya Zulbiadi Latief.

Dan saran saya, biar tidak bingung cara menghitungnya, maka baiknya gunakan kalkulator yang saya sebut di atas (dapatkan di sidebar blog ini, di samping).

Demikian ulasan kita terkait cara menghitung rasio aktivitas laporan keuangan perusahaan serta pengertian dan rumus rasio aktivitas hari ini. Jangan sungkan bertanya, baik itu terkait analisis maupun interpretasi dari rasio ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *