Analisis Rasio Solvabilitas/Leverage + Contoh, Jenis, Rumus Dan Pertanyaan Soal Leverage

Apa saja jenis-jenis rasio leverage serta rumus dan contoh rasio solvabilitas? Dalam artikel Analis.co.id kali ini akan dibahas satu per satu, termasuk analisis rasio solvabilitas, contoh soal atau perhitungannya serta pertanyaan yang terkait dengannya.

Jadi rasio keuangan yang kita bahas kali ini biasa disebut rasio solvabilitas, tapi biasa juga disebut dengan sebutan leverage atau rasio hutang.

Dikatakan demikian karena umumnya jenis rasio yang termasuk di dalamnya membandingkan antara utang dengan akun laporan keuangan lainnya, seperti aset, ekuitas dan lainnya.

Umumnya, rasio solvabilitas akan dikatakan baik bila nilainya rendah dan dikatakan kurang aman bila angkanya tinggi. Tapi ini tidak berlaku pada semua jenis perbandingan leverage.

Bagi seorang analis maupun trader saham individu, leverage dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk menilai tingkat resiko ketika membeli saham tertentu.

Tentunya hasil dari analisis tersebut tidak bisa serta merta dijadikan pertimbangan tunggal untuk memutuskan membeli saham tertentu, melainkan harus dengan analisa lanjutan yang lebih detail.

Hasil analisa fundamental baru akan dikatakan memenuhi standar bila semua rasio penting dalam laporan keuangan telah dihitung dan dipertimbangkan secara matang.

Di antara jenis rasio keuangan yang banyak dipakai dalam praktek investasi saham adalah:rumus dan jenis-jenis rasio leverage

  1. Rasio Profitabilitas
  2. Rasio Likuiditas
  3. Rasio Aktivitas
  4. Rasio Solvabilitas
  5. Rasio Valuasi atau Harga Pasar

Kelima perbandingan yang disebut di atas masing-masing terbagi lagi dalam beberapa rasio, bahkan ada yang lebih dari 10 jenis rasio di dalamnya.

Saya pribadi, seringkali memulai analisis saya dengan melihat profitabilitasnya dulu, ya tentu dari pencapaian laba bersih di periode terbarunya.

Bicara soal profitabilitas, ada satu rasio yang paling wajib dinilai, yaitu ROE (Return on Equity).

Bila diketahui bahwa ROE-nya tinggi, maka baru dilanjutkan dengan menilai valuasi atau harga pasarnya, apakah mahal atau murah. Jika masih mahal mungkin harus menunggu dulu timing yang tepat membeli saham tersebut.

Tapi sekalipun sudah tau profitabilitas dan valuasinya, itu belum cukup karena tidak mungkin kita mau berinvestasi saham yang hanya murah tapi resikonya tinggi.

Nah, rasio leverage inilah yang kemudian harus kita telaah lebih dalam untuk kemudian bisa mendapat gambaran apakah sahamnya layak invest atau tidak.

Lebih lengkapnya, mari kita bahas secara lengkap rumus, contoh soal, kelebihan dan segala yang terkait dengannya.

Artikel ini bisa dijadikan sebagai referensi makalah, skripsi atau pun tugas kuliah lainnya. Cukup sertakan sumbernya (Analis.co.id).

Pengertian Leverage / Rasio Solvabilitas Menurut Para Ahli

Rasio hutang atau leverage adalah rasio yang dipakai untuk mengetahui sebesar apakah aktiva perusahaan dibiaya dari hutang.

Atau dengan kata lain, rasio ini dihitung untuk memperlihatkan seberapa besar kebutuhan dana perusahaan disokong dengan hutang.

Artinya juga, berapa besar biaya utang yang ditanggung suatu emiten dibandingkan dengan aktiva yang dimiliki.

Dan jika seandainya suatu perusahaan tidak mempunyai leverage atau nilai rasio solvabilitasnya adalah nol, maka perusahaan dapat dikatakan beroperasi dengan hanya mengandalkan modal sendiri, tanpa terbebani hutang.

Tapi sekalipun demikian, tidak punya utang sama sekali juga tidak bisa dikatakan baik sepenuhnya.

Sebab, hutang juga merupakan salah satu cara meningkatkan pencapaian laba yang sebesar-besarnya oleh perusahaan.

Nah, berikut ini adalah definisi mengenai leverage oleh para ahli di bidangnya, diantaranya adalah:

Menurut Warren, Reeve et al (2014:174), memaknai leverage :

”Leverage is using debt to increase the return on an investment”.

Adapun Mamduh M Hanafi dan Abdul Halim (2012:75), menjelaskan makna leverage  sebagai berikut :

“Rasio leverage merupakan rasio yang mengukur kemampuan suatu perusahaan dalam memenuhi kewajiban-kewajiban jangka panjangnya.”

Menurut Fred Weston dalam buku Kasmir (2012:151), menjelaskan :

“Rasio solvabilitas atau leverage adalah merupakan rasio yang dipakai untuk   mengukur sejauh mana aktiva perusahaan dibiaya dengan hutang”

Sehingga, berdasarkan pendapat para ahli yang disebutkan di atas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa rasio solvabilitas atau leverage digunakan sebagai alat untuk mengukur sejauh mana kemempuan suatu emiten dalam memenuhi semua kewajiban jangka panjangnya, khususnya jika sewaktu-waktu perusahaan tersebut harus dilikuidasi.

Jenis-Jenis Rasio Leverage/Solvabilitas

Di bawah ini adalah jenis-jenis rasio solvabilitas berdasarkan pendapat Mamduh M Hanafi dan Abdul Halim (2012:79):

1. Rasio Total Hutang Terhadap Total Aset (DAR – Total Debt to Total Assets Ratio)

Mamduh M Hanafi dan Abdul Halim (2012:79) menjelaskan defenisi Total Debt to Total Assets Ratio sebagai rasio utang yang digunakan untuk mengukur perbandingan antara total hutang yang dimiliki dengan total aktiva perusahaan.

Oleh beliau kemudian menyebutkan rumus rasio solvabilitas ini:

DAR = Total Utang / Total Aset

Dapat juga dikatakan bahwa rasio ini untuk menilai jumlah aktiva perusahaan yang bercampur dengan hutang.

Lebih lengkapnya mengenai nilai rasio DAR yang baik, silahkan kunjungi tautan dari judul sub bab ini.

2. Rasio Hutang terhadap Ekuitas (DER – Total Debt to Equity Ratio)

Masih berdasarkan defenisi pakar yang sama, yaitu Mamduh M Hanafi. Beli menjelaskan pengertian debt to equity ratio adalah sebagai rasio untuk membandingkan antara utang dengan ekuitas emiten.

Adapun rumusnya:

DER = Total Utang / Total Ekuitas

Oleh beliau juga disebutkan bahwa rasio ini menyatakan bahwa semakin tinggi angka yang ditampilkan maka berarti modal sendiri yang disertakan dalam perusahaan semakin sedikit, dibanding dengan kewajibannya.

Dan mengenai berapa nilai rasio DER yang baik, silahkan miliki kalkulator saham yang telah dipublikasikan di blog ini. Lihat di sidebar atau ke halaman ini: Kalkulator Saham Excel.

3. Rasio EBIT terhadap Bunga (TIE – Times Interest Earned Ratio)

Menurut Mamduh lagi (2012:80), Time Interest Earned Ratio atau yang disingkat dengan (TIE) adalah:

Rasio yang menilai kemampuan suatu perusahaan dalam membayar utang dari laba sebelum bunga pajak yang dimilik.

Secara tegas, rasio ini khusus untuk menghitung besaran laba sebelum bunga dan pajak yang tersedia (atau yang sering disebut dengan EBIT) untuk membayar beban tetap bunga.”

Adapun formula dari rasio TIE adalah:

TIE = EBIT / Bunga

Untuk perusahaan yang menggunakan sistem keuangan syariah, maka interest diganti dengan margin.

Mengenai nilai yang baik, buruk dan standar untuk analisis rasio leverage yang satu ini sudah tercantum dalam kalkulator saham excel yang sudah saya sebut di atas. Silahkan miliki tools-nya.

4. Rasio EBIT dan Biaya Sewa Terhadap Bunga (FCC – Fixed Charge Coverage)

Mamduh M Hanafi dan Abdul Halim juga menerangkan mengenai defenisi dari Fix Charge Coverage ini, yaitu:

Rasio yang menghitung kemampuan suatu perusahaan dalam membayar beban tetap total yang dimiliki, termasuk biaya sewanya.

Adapun secara matematis, atau rumusnya :

FCC = (EBIT) + Biaya Sewa / (Bunga + Biaya Sewa)

Atau dalam bahasa Inggris, Investopedia membuat persamaan matematisnya juga:

(EBIT + lease payments) / (lease payments + interest) 

Sederhananya, dengan menghitung rasio ini maka seorang trader saham atau pun analis akan tau seberapa baikkah pendapatan suatu emiten dalam membayar beban fixed charges-nya, atau bunga ditambah dengan biaya sewanya.

5. Rasio Ekuitas terhadap Total Aset (EAR – Equity to Total Assets Ratio)

Equity  to  Total  Assets  Ratio adalah merupakan indikator finansial yang menilai keterikatan pemilik usaha atas kelangsungan usahanya.

Karena perbandingan ini bisa dijadikan sebagai pertimbangan untuk mengetahui seberapa besar pemilik usaha dirugikan jika bisnisnya mengalami kebangkrutan, maka rasio ini juga dimasukkan dalam analisis rasio solvabilitas / leverage.

Jadi, sederhananya, rasio ini dipakai untuk tau berapa banyak modal sendiri yang tergabung dalam seluruh aktiva perusahaan.

Jika ternyata nilai rasio EAR ini tinggi, maka itu artinya pemilik punya keterikatan yang kuat dengan usahanya.

Dibanding, jika nilai rasio EAR ini rendah, maka simpelnya bisa kita katakan kalau sang pemilik tidak memiliki peranan yang dominan pada usahanya, terutama dalam hal aset usahanya.

Dari sini bisa kita nilai kalau keseriusan, profesionalisme, dan lainnya bisa sangat dipengaruhi oleh porsi modal yang besar terhadap aset.

Rumusnya adalah:

EAR = Total Ekuitas / Total Aset

6. Rasio Penutupan Kas (CCR – Cash Coverage Ratio)

Rasio solvabilitas sering juga disebut dengan Cash Flow Coverage. Ini dikhususkan untuk mengukur kemampuan perusahan untuk memenuhi kewajiban kasnya.

Oleh accountingtools.com, rumusnya adalah sebagai berikut:

CCR = Cash & Cash Equivalents / Current Liabilities

Alasan liabilitas digunakan sebagai pembaginya karena itulah bagian aset yang dapat langsung dikonversikan menjadi kas.

Cash Flow Coverage = (Aliran Kas Masuk + Depresiasi) / (Beban Tetap + Dividen)

Dividen yang dihitung di atas adalah Dividen saham preferen / (1 – Pajak).

Manfaat Rasio Solvabilitas Menurut Kasmir

Berikut adalah tujuan dan juga manfaat menggunakan rasio leverage sebagai bahan analisis menurut Kasmir (2012:153-154), diantaranya:

  • Untuk menilai kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya yang bersifat tetap (seperti angsuran pinjaman, termasuk bunga).
  • Untuk mengetahui posisi perusahaan terhadap kewajiban kepada pihak kreditor.
  • Untuk menilai seberapa besar pengaruh utang perusahaan terhadap pengelolaan aktiva.
  • Untuk menilai seberapa besar aktiva perusahaan dibiayai oleh utang.
  • Untuk menilai atau mengukur berapa bagian dari setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan jaminan utang jangka panjang.
  • Untuk mengetahui keseimbangan antara nilai aktiva, khususnya aktiva tetap, dengan modal.
  • Untuk mengetahui berapa jumlah dana pinjaman yang segera akan jatuh tempo.

Dari sekian rasio leverage yang disebut di atas, sebenarnya rasio DER lah yang paling patut dipertimbangkan.

Kenapa, karena DER ini membandingkan antara utang dengan nilai ekuitas perusahaan yang menurut hemat penulis lebih akurat dibandingkan dengan membandingkannya dengan aset langsung.

Baca juga: 35 Jenis Rasio Keuangan

Oke, sekian artikel soal jenis jenis rasio leverage beserta pengertian dan rumus rasio solvabilitas ini. Terkait contoh soalnya, silahkan simak dari tautan yang tertera di tiap sub judul di atas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *