ROE (Return on Equity) Lengkap! : Rumus & Pengertian serta Kelebihan dan Komponennya

Rumus ROE ini merupakan bagian dari analisa fundamental yang banyak digunakan oleh value investor dalam analisis perusahaan. Nah, di artikel ini Analis akan membahas beberapa poin, seperti apa pengertian ROE menurut para ahli, bagaimana keunggulan dan kelemahannya, termasuk cara menilai ROE yang bagus dan komponennya.

Bicara soal ROE berarti kita ingin tahu seberapa efisienkah perusahaan dalam mengelola modal pemilik. Atau lebih tepatnya, rasio profitabilitas yang digunakan untuk mengukur kemampuan suatu perusahaan dalam menghasilkan laba dari investasi yang dilakukan oleh pemegang saham di perusahaan tersebut.

Oleh banyak analis saham bahkan yang baru belajar bermain saham, ROE ini juga dijadikan sebagai tolak ukur dalam menilai future value atau nilai perusahaan di masa akan datang. Caranya adalah dengan menilai perkiraan ROE perusahaan hingga 5 tahun akan datang yang dihitung berdasarkan ROEnya dalam setahun untuk tahun sekarang.

Alasan menggunakan perhitungan hingga 5 tahun tentunya didasari dari kemungkinan bahwa perusahaan masih akan beroperasi selama kurun waktu tersebut. Dan kalau pun misalnya hanya dihitung dalam 2-3 tahun saja maka hasilnya akan sangat rendah.

Dan sebaliknya, jika lebih tinggi dari 5 tahun maka hasilnya bisa tampak tidak realistis, mengingat tidak selamanya perusahaan menghasilkan laba yang sama setiap tahunnya.

Oke, sudah ya prolognya. Anda mungkin sudah bisa paham bagaimana ROE ini. Tapi biar lebih jelas mari kita ulas satu per satu.

Seperti Apa Pengertian ROE Menurut Para Ahli

Bicara soal ahli sebenarnya banyak sekali yang bisa kita jadikan rujukan untuk memahami defenisi dari ROE ini, di antaranya:

Georgi Tsvetanov : “Return on Equity adalah mengukur seberapa banyak keuntungan yang dikembalikan sebagai persentase dari modal pemilik.

Bambang Riyanto (2010: 335): “ROE merupakan perbandingan antara laba bersih dengan ekuitas.

Mardiyanto: “Rasio yang digunakan investor untuk mengukur tingkat keberhasilan perusahaan dalam menghasilkan laba bagi para pemegang saham.”rumus dan pengertian roe

Zulbiadi Latief: “Rasio untuk menilai seberapa baik suatu perusahaan menjalankan bisnisnya dalam menggunakan modal pemilik.”

Dari 4 defenisi ROE di atas sebenarnya maknanya kurang lebih sama, bahwa dari rasio tersebut kita bisa mengetahui berapa nilai yang didapat investor dari modal yang ia setor, dalam hal ini dari saham yang ia beli.

Rumus Return on Equity

Pada dasarnya rasio ROE ini bertujuan untuk membandingkan antara perolehan laba bersih perusahaan terhadap nilai aset bersihnya atau ekuitasnya. Dengan demikian, maka RUMUS ROE = Laba Bersih / Ekuitas.

Dalam bahasa Inggris-nya maka formulanya:

Return on Equity = Net Income / Aquity

Perlu diketahui bahwa dalam menentukan laba bersih perusahaan maka laba bersihnya harus disetahunkan dulu. Caranya:

  1. Jika laporan keuangan kuartal I maka labanya dikali 4,
  2. Jika laporan keuangan kuartal II maka labanya dikali 2,
  3. Jika laporan keuangan kuartal III maka labanya dikali 4/3,
  4. Jika laporan keuangan kuartal IV maka labanya tidak perlu dikalikan karena sudah merupakan laba setahun penuh.

Dari sini anda semua sudah tau apa saja komponen dalam rasio ROE, yaitu total laba yang disetahunkan dan total aset bersih atau ekuitas perusahaan.

Sebagai contoh, berikut hitung-hitungan ROE dari saham PTBA:

Diketahui laba bersih PTBA Rp4,47 triliun, sedangkan akuitasnya Rp13,6 triliun, maka hasilnya:

= Laba Bersih / Ekuitas.

= Rp4,47 / Rp13,6

= 32,8%

Jadi ROE PTBA adalah 32,8% dari total akuitas yang ia miliki. Itu artinya, dengan modal atau ekuitas sebanyak Rp13,6, PTBA mampu menghasilkan laba hingga 32,8%. Paham kan?

Keunggulan dan Kelemahan roe

Menurut Georgi Tsvetanov, ROE memiliki kelemahan. Jika perusahaan memiliki banyak utang dalam mendanai asetnya, nilai ROEnya akan semakin tinggi karena porsi modal akan lebih rendah (semakin banyak modal, semakin sedikit ekuitas). (khusus pernyataan beliau ini, masih saya sangsikan juga karena menyebut utang dalam ekuitas atau bisa jadi penerjemahnya yang salah interpretasi)

Jadi dalam beberapa kasus, khusus untuk perusahaan yang memiliki nilai utang jauh lebih banyak dari modal dasarnya, maka kata beliau ROE bisa saja menyesatkan.

Ditambahkan, karena ROE hanya mempertimbangkan sisi ekuitas perusahaan tanpa menghitung proporsi hutangnya, maka ada solusi lain yang lebih realistis, yaitu dengan menggunakan rasio ROCE atau Return of Capital Employed.

ROCE ini dihitung dari EBIT yang kemudian dibagi dengan modal yang digunakan. Jadi, lebih realistis ketimbang dasar hitungannya dari ekuitas.

Tapi itu untuk pandangan ahli ekonom. Berbeda dengan analis saham seperti saya he he.

Kalau saya masih lebih senang menjadikan perhitungan ROE ini sebagai dasar untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menjalankan bisnisnya. Alasannya, karena sekalipun itu sifatnya modal sumbangan yang didanai oleh kreditor tetap saja itu menjadi bagian dari perusahaan sehingga wajar kalau kita hitung juga untuk menilai prifitabilitasnya.

Saya juga sedikit lebih sependapat kalau dikatakan bahwa kelemahan dari ROE adalah karena dasar perhitungannya dari modal saja, sedang hutang tidak termasuk di dalamnya.

Tapi pendapat di atas tetap tidak luput dari koreksi, karena yang namanya hutang pasti ada pengembaliannya dan jika hutang tersebut dibayarkan sedang dia masuk dalam hitungan ini maka nilai ROE yang dihasilkan tidak realistis lagi, ya karena sebagian telah dikeluarkan untuk pembayaran bunga.

Ukuran ROE yang baik

Nah, ini bagian paling penting untuk diketahui para trader saham. Karena dengan mengetahui nilai ROE yang baik kita bisa mengukur seberapa layakkah sebuah saham dikoleksi.

Saya masih mengutip pendapat Georgi Tsvetanov. Menurutnya ukuran ROE yang lazim itu adalah untuk Ritel 17%, Utilitas 9%, Finansial 8%. Tapi sekali lagi, ini pendapat ahli keuangan, beda lagi kalau ukurannya trader saham. Sekalipun ada yang bilang sama, tapi faktanya dilapangan kita tidak bisa ‘memukul rata’ bahwa dengan nilai ROE sekian sudah bagus, karena perlu pertimbangan lagi.

Tapi, secara umum, sebenarnya banyak pakar saham yang bilang kalau nilai antara 15-20% itu sudah bisa dibilang bagus. Asalkan tidak lebih rendah dari nilai keuntungan deposito katanya. Adapun pendapat saya pribadi:

Menurut hemat saya, untuk mengukur ROE yang baik maka lebih tepat kalau kita perbandingkan dengan PBV untuk menilai harga wajar saham.

Jika kamu mau menilai berapa nilai PBV yang bagus untuk satu saham maka bisa menggunakan rumus yang saya sebutkan di bawah:

  • Kalau PBVnya 1 kali maka sebaiknya ROEnya minimal 10%
  • Kalau PBVnya 2 kali maka sebaiknya ROEnya minimal 20%
  • Kalau PBVnya 3 kali maka sebaiknya ROEnya minimal 30%

Sedikit informasi tambahan, sebenarnya selain PBV, rasio PER juga bisa digunakan untuk menilai harga sebenarnya dari suatu saham.

Nah, sekarang kamu sudah tau berapa nilai ROE yang bagus kalau mau menilai seberapa baik perusahaan dalam menghasilkan laba dari usahanya.

Setelah mengetahui nilai di atas, selanjutnya lakukan analisa yang lebih mendalam lagi, jangan sampai ROE itu bukan murni keuntungan usahanya, tapi dana lain-lain yang harus lebih kita pertimbangkan.

Intinya, semua kembali ke pengalaman masing-masing investor. Jika sudah sering membaca laporan keuangan maka nantinya akan lebih paham dan jago menganalisa. Salah satu solusinya adalah sering berkunjung ke blog ini he he.

Sampai di sini dulu ulasan kita soal Rumus & Pengertian ROE (Return on Equity). Semoga setelah ini teman-teman sudah bisa komponen dan cara menilai mana ROE yang baik dan tidak, tentunya semua yang berkaitan dengan ilmu saham.

4 thoughts on “ROE (Return on Equity) Lengkap! : Rumus & Pengertian serta Kelebihan dan Komponennya

  1. Kak saya mau tanya buku yang mengkaitkan antara Roe n pbv tu apa ya .. saya mau cari.
    Sama yg bagian ini :
    “Jika kamu mau menilai berapa nilai PBV yang bagus untuk satu saham maka bisa menggunakan rumus yang saya sebutkan di bawah:

    Kalau PBVnya 1 kali maka sebaiknya ROEnya minimal 10%
    Kalau PBVnya 2 kali maka sebaiknya ROEnya minimal 20%
    Kalau PBVnya 3 kali maka sebaiknya ROEnya minimal 30% ”
    Adakah teori dari buku yg bisa mendukung penerapan yang seperti ini, mohon bimbingannya, terimakasih 🙏

      1. Tks kak ats tanggapan sebelumnya,Begini kak saya tertarik dg artikel kak Zul.. saya mahasiswi yg mau menyusun TA. Jadi maaf kalo saya sering tanya” 😂
        1.Berarti Roe bisa dikaitkan dg PBV ya ? Kalau saya susun itu lalu saya kaitkan melalui statistik lebih ccocok yg alat ukur apa kak?
        2.kak teori nya yg mendukung biasa dr buku apa , kalau boleh saya mau cari juga untuk referensi dan dasar teori tambahannya ..
        Terimakasih 😊

        1. Lebih baik analisa beberapa saham dalam sektor sama kemudian buat distribusi frekuensinya dan bandingkan dengan pengukuran PBV dan ROE tersebut, untuk bukunya silahkan hubungi kontak di di blog ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *