Analisa Saham TOWR & TBIG – Arah Prediksi dan Prospek Sarana Menara Nusantara

Cunorr fatihh sekalian….! Kali ini kita akan bahas Analisa Saham TOWR dan saham TBIG sekalian. Dan bukan cuma itu, di video kali ini juga akan ditampilkan komparasi arah prospek dan prediksi saham Sarana Menara Nusantara Tbk.

Kalau dulu hasil analisa fundamental saham TOWR dan lainnya dishare langsung analisisnya lewat artikel. Tapi sekarang beda, karena banyak yang lebih suka nonton video langsung ketimbang baca artikel yang katanya membosankan, jadi arahnya kita rubah juga.

Yang menarik dengan analisis TBIG dan TOWR ini adalah dimana kita bisa menjelaskan lebih banyak poin poin penting soal fundamental dan teknikalnya tanpa menghabiskan banyak waktu. Ya, inilah kelebihan dari video.

Sebelum itu, sepintas saya mau jelaskan bagaimana prospek model bisnis dari TOWR ini.

Bisnis utama dari 7 saham telekomunikasi di bawah ini adalah penyewaan tower atau base tranceiver station (BTS) ke provider atau perusahaan telekomunikasi di Indonesia.

1 TOWR Sarana Menara Nusantara Tbk.
2 TBIG Tower Bersama Infrastructure TBK
3 SUPR Solusi Tunas Pratama Tbk.
4 BALI PT Bali Towerindo Sentra Tbk
5 CENT PT Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk
6 LCKM PT LCK Global Kedaton Tbk
7 GHON PT Gihon Telekomunikasi Indonesia Tbk

Secara fakta, trend bisnis penyewaan tower di Indonesia makin hari makin tumbuh subur. Mengingat, perusahaan ini sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan pengguna ponsel, khususnya Smartphone dewasa ini.

Hasil riset dari Moody Investors Service, New York mengungkapkan bahwa BTS Indonesia dan India paling berkembang di asia.

Lebih lanjut diungkapkan bahwa industri telekomunikasi selular Indonesia rasio penetrasinya mencapai 158% akhir tahun 2019, dibanding dengan tahun 2013 silam. dengan permintaan atas BTS dari sekitar 178 ribu di tahun 2013 menjadi sekitar 292 ribu di tahun 2019.

Indikasi di atas jelas menunjukkan bahwa prediksi bisnis BTS ini punya prospek yang baik untuk jangka panjang.

Walau begitu, dibalik cemerlangnya bisnis penyewaan tower TOWR dan TBIG ini, tetap saja ada halangannya.

Salah satu dari beberapa tantangan usaha semacam ini adalah bila terjadi merger antara 2 atau lebih perusahaan yang sama. Misalnya, saat XL yang mengakuisisi Axis, TOWR kini tidak lagi menerima sewa menara dari XL dan Axis. Hanya saja, masih ada sisi positifnya dimana kemungkinan terjadi merger di antara perusahaan telekomunikasi akan kecil persentasinya kalau jumlah provider di Indonesia tidak bertambah signifikan.

Selain itu, hambatan lain dari prospek bisnis tower TBIG dkk adalah jika sekiranya ditemukan solusi lain dari penggunaan BTS oleh perusahaan telekomunikasi, maka trend dan pendapatan bisnis ini bisa turun, bahkan gulung tikar di masa akan mendatang. Tapi menurut hemat penulis, ini hanya akan terjadi kalau para leader di bisnis ini terus melakukan riset dan pengembangan. Karena faktanya, perkembangan jaringan telekomunikasi di Indonesia masih kalah jauh dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.analisa saham towr tbig dan prospeknya

Dan walau belum terlalu kuat sentimennya, ssu soal towerless atau tower kamuflase (seperti microcell, BTS hotel) sudah mulai diperbincangkan. Hanya saja, ini tentu masih butuh realisasi konkritnya dan juga hitung-hitungan untung rugi dari provider jika sekiranya mau beralih ke alternatif tower tersebut.

Kalau kita analisis lebih dalam, tercatat lebih efisien menyewa BTS dari pada membangun sendiri yang biayanya kata Teguh Hidayat antara 1-1,5 M. Nah, karena fakta tersebut banyak juga provider besar seperti XL memilih menyewa dibanding membangun dan mengurus towernya sendiri, ya apalagi kalau bukan karena alasan efesiensi pengeluaran operasional (Opex) tahunan mereka.

Dari data diketahui pada tahun 2016 TOWR dengan anak usahanya PT Profesional Telekomunikasi Indonesia, Protelindo, membeli 2.500 menara pada XL dengan nilai pembelian mencapai IDR3,5 triliun.

Yang menarik kita cermati di sini, seperti diungkapkan di atas soal efisiensi biaya operasional dari provider, walau XL bisa membuat menaranya sendiri, ia kemudian menjualnya ke TOWR. Namun kemudian, tercatat dari data bahwa di tahun 2018 XL Axiata merupakan penyewa terbesar dari tower milik TOWR, dengan total titik sewa 9.404. Kemudian disusul operator seluler Tri sebanyak 8.573 titik sewa, Telkomsel 5.936 titik, Indosat 1.727 titik, Smartfren 1.171 titik, dan juga First Media sebanyak 974 titik sewa.

Ini artinya, bisnis dari PT Sarana Menara Nusantara, maupun perusahaan lainnya dalam sektor yang sama, yakni TBIG, SUPR, BALI, CENT, LCKM, dan GHON, prospeknya akan terus terjaga sepanjang biaya pembuatan dan pemeliharaan menara pemancar masih lebih mahal dibanding biaya sewa per tahunnya.

Lihat juga : Analisa Fundamental Saham ERAA

Analisa Saham TOWR Dkk. (TBIG, SUPR, BALI, CENT, LCKM, dan GHON)

Seperti saya sebutkan di atas bahwa analisa fundamental maupun teknikal dari saham-saham di bursa saat ini nantinya akan lebih banyak dishare via Youtube.

Untuk itu, silahkan simak ulasannya di bawah:

Oke, sahabat cuanorr fatihh (slogan channel @AnalisSaham Syariah) semua, kalau ada yang tidak jelas soal analisa saham TOWR maupun arah prospek dan prediksi TBIG, SUPR, BALI, CENT, LCKM, dan GHON, silahkan bertanya dan jangan lupa subscribe ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *