Rumus Valuation Ratio: Cara Menghitung Harga Saham Wajar Pada Laporan Keuangan Perusahaan

Dalam analisis rasio keuangan atau analisa fundamental saham ada banyak rasio yang harus dinilai, dan salah satu yang terpenting adalah rumus valuation ratio ini. Nah, kali ini Analis.co.id akan menjelaskan Cara Menghitung Harga Saham Wajar Pada Laporan Keuangan perusahaan.

Rasio valuasi ini sebenarnya tujuannya untuk menilai harga pasar dari suatu saham, apakah harga perdagangannya saat ini tergolong mahal atau murah. Jika murah apa alasannya dan jika mahal juga demikian.

Tapi sebelum itu, saya mau menyampaikan bahwa analisis laporan keuangan bukan hanya dari valuasinya saja, ada beberapa analisa lainnya, yaitu:

  1. Rasio Profitabilitas
  2. Rasio Likuiditas
  3. Rasio Aktivitas
  4. Rasio Solvabilitas
  5. Rasio Valuasi atau Harga Pasar

Kebetulan sekali, semua jenis-jenis rasio tersebut sudah kita bahas satu per satu. Totalnya ada 35 rasio keuangan.

Tapi bila tidak mau repot menghitung sendiri rumusnya, karena mungkin juga takut salah. Maka, saran saya miliki saja kalkulator saham excel yang sudah penulis buat.

Bentuknya sederhana karena hanya menggunakan aplikasi dari Microsoft yang sudah anda kenal semua, yaitu Excel.

Tapi jangan salah, di dalamnya semua sudah termasuk untuk tujuan analisa Growth atau pertumbuhan, Trend dan 35 rasio keuangan.

Ditambah, penjelasan nilai yang baik dari tiap rasio serta bentuk penilaian tiap rasionya apakah bagus, buruk, murah, mahal, beresiko dan lainnya.

Rumus Valuation Ratio atau Cara Menghitung Harga Saham Wajar Pada Laporan Keuangan Perusahaan

Dari referensi berbagai sumber, saya menemukan 7 rasio keuangan yang masuk dalam jenis rasio valuasi saham.

Bisa jadi sebagian ahli tidak memasukkan salah satu yang saya sebut di bawah sebagai rasio harga wajar, tapi yang jelas semua memperbandingkan dengan harga pasar, jadi masih realistis untuk masuk dalam kelompok rasio ini.

Dan bila ingin tau rumus harga saham menurut para ahli dari semua yang disebut di bawah, maka baca selengkapnya saja di setiap tautan yang ada di sub judulnya.

Berikut adalah 7 rasio yang dimaksud:

1. Nilai Buku (BV – Book Value)

Sebagian menyebutkan kalau book value ini bukan rasio harga. Saya juga sepakat demikian.

Alasannya, karena nilai buku belum membandingkan dengan harga pasar, tapi hanya untuk mengetahui nilai atau valuasi yang sebenarnya dari per lembar saham perusahaan tersebut, tanpa harus tau berapa harganya di bursa saat ini.

Tujuan menilai BV ini adalah untuk mengetahui nilai perusahaan yang sebenarnya dari per lembar sahamnya yang beredar.

Maksudnya, dari sekian juta lembar saham yang dijual ke publik, kira-kira berapa harga yang sebenarnya dari tiap lembar saham tersebut.

Adapun rumusnya adalah:

BV = Total Ekuitas / Jumlah Saham yang Beredar

Untuk penjelasan yang lebih lengkapnya, kunjungi tautan pada sub judul artikel di atas. Demikian juga pada rasio selanjutnya di bawah.

2. Rasio Harga Saham Terhadap EPS (P/E atau PER – Price Earning Ratio)

Dari semua rumus harga saham perusahaan yang ada, ini adalah salah satu rasio yang paling penting diperhatikan dalam setiap kali melakukan analisa fundamental.

Terutama untuk saham blue chip atau LQ45 maka rasio PER ini wajib dihitung sebelum mengambil keputusan beli atau jual.

Kegunaan dari rasio valuasi ini adalah untuk membandingkan antara harga pasar per lembar saham dengan pendapatan per lembar saham perusahaan atau EPS nya.

Formulanya adalah:rumus valuation ratio

PER = Harga Saham Terbaru / EPS

Yang dimaksud dengan harga saham di sini adalah closing price nya di hari terakhir.

Adapun EPS, punya rumus tersendiri dan harus dihitung dulu sebelum menghitung PER ini. Silahkan simak di sini: Rumus EPS.

Mengenai berapa P/E yang baik, silahkan baca dari tautan yang tertera di sub judul ini.

3. Rasio Harga Terhadap Nilai Buku (PBV – Price to Book Ratio)

Yang ketiga ini adalah lanjutan dari yang pertama di sebut di atas. Jadi, setelah tau berapa book valuenya, selanjutnya kita sudah bisa menghitung berapa rasio PBV dari saham tersebut.

Rumusnya:

PBV = Harga Saham Terbaru / Book Value

Untuk keterangan lebih lanjut soal Book Value, silahkan baca: Cara Menghitung Nilai Buku Perusahaan

Manfaat dari menghitung valuation ratio ini adalah untuk membandingkan antara harga pasar saham dengan nilai buku atau nilai per lembar saham yang sebenarnya.

Jika kita bisa mengetahui nilai PBV dari suatu saham maka kita bisa tau berapa kali lebih mahal atau lebih murah harga saham dipasaran saat ini.

Baca dulu : 2 Cara Menilai Harga Saham Murah atau Mahal ala Warren Buffett

4. Rasio Pendapatan Deviden (DYR – Dividend Yield Ratio)

Rasio penilaian dividend yield ratio dimaksudkan untuk mengukur berapa banyak penghasilan yang dapat dihasilkan oleh setiap rupiah yang diinvestasikan ke dalam saham suatu perusahaan.

Maksud dari ‘penghasilan yang dapat dihasilkan’ di sini adalah dividen. Jadi ketika investor berinvestasi pada suatu saham, kira-kira berapa rupiah keuntungan yang bisa didapat si investor dari tiap lembar saham yang ia beli.

Rumus:

DYR = Dividen per Saham / Harga Saham Terbaru

Nah, dengan cara menghitung harga saham wajar dari dividen ini, kita bisa tau kira-kira keuntungan yang di dapat dalam bentuk dividen dari saham tersebut berapa rupiah.

5. Rasio Pembayaran Dividen (DPR – Dividend Payout Ratio)

Rasio Dividend Payout Ratio ini tujuannya untuk menghitung berapa besar yang didistribusikan dari laba bersih perusahaan kepada para pemegang saham.

Rumus rasio valuasi ini adalah

DPR = Total Dividen / Laba Bersih

Semakin tinggi nilainya maka akan semakin banyak keuntungan dividen yang didapat pemegang saham.

Tapi, bila terlalu tinggi akan berdampak pada perusahaan karena akan menurunkan kemampuan perusahaan melakukan ekspansi karena nilai laba ditahan semakin kecil.

6. Rasio Harga terhadap Penjualan (P/S atau PSR – Price to Sales Ratio)

Tujuannya untuk mengukur valuasi saham berdasarkan harga saham dengan sales per share (penjualan per saham)nya.

Lebih sederhananya, rasio ini biasa langsung saja disebut ‘price sales ratio’, tanpa ‘to’ di antaranya. Jadi untuk memudahkan saja.

Makin tinggi nilai PSR maka makin tinggi atau mahal valuasinya.

Rumus price to sales ratio adalah:

PSR = Harga Saham Terbaru / (Penjualan Bersih / Jumlah Saham Beredar)

Atau bisa juga dengan formula berikut:

PSR = Kapitalisasi Pasar / Total Penjualan Bersih Setahun

Tentunya, jika laporan keuangan per kuartal 1, 2, atau 3 yang digunakan maka harus disetahunkan dulu. Tentunya ini punya cara tersendiri, dan kebetulan dalam kalkulator saham sudah lengkap semua caranya.

Rasio ini dipopulerkan oleh Ken Fisher dimana beliau membuat standar bahwa PSR yang lebih kecil dari … (maaf angkanya dirahasiakan karena sudah ada dalam kalkulator saham excel, silahkan download dulu) kali dan maksimal … (dirahasiakan) kali berpotensi memberikan imbal hasil yang memuaskan di masa mendatang.

7. Rasio PER terhadap Pertumbuhan (PEG – Price/Earning to Growth Ratio)

Rassio PEG digunakan untuk mengukur nilai kepantasan antara harga saham, laba yang dihasilkan per lembar sahamnya, dan harapan pertumbuhan perusahaan.

Rumusnya:

PEG = PER / Growth Ratio / 100

Untuk cara menghitung valuasi saham dengan PER sudah dijelaskan di atas, sedangkan GR punya rumus tersendiri dan tidak dijelaskan di artikel ini karena artikelnya sudah terlalu panjang. Semua sudah dijelaskan dalam kalkulator saham.

Dan kenapa harus dibagi seratus? Ya, karena nilai persen dari GR atau rasio pertumbuhan EPS tersebut harus diubah ke dalam bentuk angka biasa, bukan persen lagi.

Semakin rendah nilai PEG maka akan semakin murah saham tersebut. Lynch merumuskan bahwa bila nilai PEG saham kurang dari … (angkanya dirahasiakan, sudah ada dalam kalkulator saham) kali maka saham tersebut bisa dianggap murah.

Baca Juga: Cara Mengetahui Harga Penutupan Saham

Saya akhiri sampai di sini penjelasan terkait rumus valuation ratio ini. Semoga ilmu soal cara menghitung harga saham wajar pada laporan keuangan perusahaan bisa dipahami dengan baik. Dan bila ada pertanyaan soal rumus valuasi saham silahkan berdiskusi di bawah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *