Kapan Sebaiknya Mulai Beli Saham? or Waktu Terbaik Investasi Saham

Pertanyaan yang bisa dibilang hampir semua newbie soal saham menanyakan ini. Kapan sebaiknya mulai beli saham, di harga berapa atau bulan berapa bagusnya mulai transaksi dan mengoleksi saham yang prospeknya bagus?. Apa pun itu pertanyaannya, semua kembali ke pengalaman, dan sama sekali bukan dari buku saja.

Beberapa artikel yang sudah saya publikasikan hampir sering saya bilang kalau ‘Sukses investasi saham itu tidak bisa kalau dasarnya dari bacaan buku saja! Harus punya pengalaman yang cukup baru bisa kelihatan hasilnya.” termasuk soal waktu terbaik membeli saham ini, juga dari experience harusnya.

Artinya apa? Sebenarnya yang bisa membuat kita konsisten menghasilkan pertumbuhan aset investasi yang memuaskan harus ditopang dengan jam terbang yang cukup di pasar saham, dalam hal ini Bursa Efek Indonesia (BEI).

Biar gampang, saya kasi ilustrasi soal MMA (Mix Martial Arts) saja. MMA sengaja saya pilih sebagai ilustrasinya karena belakangan ini, tidak tau kenapa, saya rutin banget nonton siaran TV One ini. Selain karena acaranya lagi booming, juga karena mungkin saya suka bertengkar sewaktu masih kecil, terbawa masa lalu kali yaaa!

Kalau kamu bisa sempatkan nonton sejenak MMA OnePride, terutama pas tayangan perdana partai Selebriti Fight, maka kamu akan mendengar salah satu komentatornya yang ngomong begini: “Teknik MMA itu tidak butuh lama untuk menguasainya, yang butuh proses itu pengalamannya!”

Jadi, di investasi atau trading saham itu kurang lebih sama dengan MMA, dimana belajar analisa fundamental atau pun teknikalnya sebenarnya tidak butuh waktu lama, baik itu bagaimana menganalisa laporan keuangan dan faktor pendukung lainnya, tapi yang sulit itu di pengalamannya karena tidak bisa sebulan dua bulan saja terus langsung bisa jago main saham.

Kenapa demikian? Ya, karena pasar saham di bursa efek Indonesia punya siklus-siklus sendiri, kapan IHSG bullish dimana harga saham mulai naik dan para trader mulai belanja saham dan kapan dia bearish dimana harga-harga saham pada turun semua karena para investor mulai panic dan ramai-ramai menjual sahamnya. Keadaan-keadaan seperti inilah yang tidak bisa kita pelajari dari buku, dan kalau pun dasarnya kita beli saham dari buku saja, maka saya yakin aset Anda akan terkuras banyak dalam beberapa bulan saja.

Kembali ke Laptop (jargon mas Tukul), Kapan Sebaiknya Mulai Beli Saham?

kapan waktu terbaik mulai investasi saham

Kita kembali ke intinya nih. Jadi sebaiknya perhatikan dengan baik setiap poin-poin berikut biar bisa menambah ilmu dan sekaligus belajar dari pengalaman saya langsung, jadi proses belajar Anda bisa lebih singkat lagi.

Biar lebih gampang memetakannya, maka saya bagi dalam dua poin penting, yakni waktu belanja saham rutin dan waktu belanja saham insidentil.

Dua poin ini penting sekali karena pengalaman penulis sendiri membuktikan bahwa memang kadang ada waktu-waktu tertentu dimana kita harus melepas saham yang sudah dibeli dan harganya sudah tampak mahal untuk kemudian membeli saham lain yang kebetulan lagi turun secara tiba-tiba karena alas an-alasan tertentu.

1. Tiap Kuartal

Tiap kuartal ini dilakukan tiap 3 bulan sekali selama 4 kali dalam setahun. Kenapa? Ya, karena perusahaan-perusahaan yang diperdagangkan sahamnya di BEI diwajibkan merilis laporan keuangannya per 3 bulan sekali, adapun waktunya:

  • Mulai 1-30 April (untuk masa kinerja perusahaan dari Januari hingga Maret)
  • Mulai 1-30 Juli (untuk masa kinerja perusahaan dari April hingga Juni)
  • Mulai 1-30 Oktober (untuk masa kinerja perusahaan dari Juli hingga September)
  • Mulai 1-30 Maret (untuk masa kinerja perusahaan dari Oktober hingga Desember)

Catatan: Rentan waktu antara 1 sampai 30 April adalah waktu para perusahaan merilis laporan keuangan, tapi bila tidak mau repot mengecek tiap hari di situs IDC.co.id, maka sebaiknya setelah bulan April saja, yakni bulan Mei, demikian juga dengan periode selajutanya.

Tiap kuartal ini masuk kategori waktu belanja rutin. Rutin maksudnya ada waktu-waktu tertentu dimana kita sebaiknya mulai beli saham yang tampak murah dan fundamentalnya mendukung, ya tentunya berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan oleh perusahaan tersebut.

2. Saat IHSG mulai Rebound

Untuk yang satu ini waktunya tidak bisa kita prediksi dan siklus kejadiannya juga tidak ada waktu tertentunya, kapan pun bisa terjadi.

Di Bursa Efek Indonesia, IHSG tidak selalu naik terus, kadang ada waktu-waktu dimana IHSG mulai terkoreksi. Alasannya pun bermacam-macam, mulai karena pasar sudah sampai pada titik jenuh setelah bearish selama beberapa bulan, karena setelah para emiten merilis laporan keuangan ternyata umumnya memberikan laporan kinerja yang buruk, atau karena ada sentimen negative dari makro ekonomi Indonesia maupun global.

Jika kamu menemukan kondisi seperti ini, dimana IHSG tampak turun grafiknya, maka yang harus dilakukan adalah wait and see, artinya jangan belanja saham dulu dan perhatikan kondisi pasar lalu mulai beli saat IHSG tampak mulai bangkit lagi.

Bagaimana kita tau kalau IHSG mulai rebound lagi? Ya, pastinya dari grafiknya. Anda bisa tau grafiknya dari google langsung dengan mengetik IHSG saja atau di situs Yahoo Finance. Gampang kan?

3. Saat Saham Tertentu Mendapat Sentimen Negatif

Terkadang dalam setahun ada saja saham bagus yang kena sentimen negative dan akhirnya sahamnya langsung terjun bebas hingga menyentuh harga terendahnya, atau bahkan harga yang lebih rendah lagi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Saham bagus maksudnya adalah saham dari perusahaan besar yang memiliki kapitalisasi yang besar pula di bursa dan laporan keuangannya di kuartal tersebut sedang menunjukkan kinerja yang baik.

Jika kamu dapat saham diskon seperti ini, anggaplah PBVnya berada di bawah angka 1, padahal sebelumnya belum pernah seperti itu. Misalnya saja PBV terendahnya adalah 2 di sepanjang sejarahnya. So, kamu bisa langsung beli saham tersebut.

Tapi biar bagaimana pun, sekalipun saham sudah sangat murah bukan berarti dia tidak akan turun lagi. Jadi, strateginya adalah dengan membelinya dengan dana separuh dulu. Misalnya saja kamu menargetkan membelinya dengan uang 50 juta, maka bisa mulai beli dengan uang 25 juta dulu dan bila ternyata harganya turun lagi maka jangan khawatir karena kamu masih bisa melakukan pembelian lagi atau istilahnya ‘average down’.

Dengan melakukan teknik belanja bertahap di atas, maka kamu tidak saja main aman, tapi juga untuk menghindari pertumbuhan aset portofoliomu yang melambat.

Biasanya, saham yang harganya jatuh tiba-tiba padahal fundamentalnya bagus, apalagi dari saham BUMN, biasanya tidak perlu menunggu lama harganya langsung naik dan kembali lagi ke harga sebelumnya. Kadang, kalau beruntung, harganya bisa naik lagi kurang dari seminggu.

Cara ini kurang lebih sama kalau kita mau investasi emas, maka baiknya beli saat harganya jatuh.

4. Laba Dari Saham Berfundamental Baik Sedang Turun

Kalau di atas penyebab turunnya dari sentimen negatif dan itu bisa bermacam-macam alasannya, tapi kalau yang satu ini memang dari kinerja perusahaannya, yang mungkin kebetulan lagi sedang lesu sektornya sehingga mau tidak mau labanya pun ikut turun.

Kalau kamu ketemu saham seperti ini (saham bagus yang labanya lagi turun) yang mana sahamnya likuid, perusahaannya punya reputasi baik dan terkenal, apalagi kalau dari saham BUMN, maka saya sarankan untuk mulai mengoleksinya.

Terkadang, kalau mau dapat untung cepat, perhatikan saat perusahaannya baru merilis laporan keuangan terbarunya dan saat bersamaan banyak analis dari growth investing yang rekomendasikan untuk menjualnya dan harga sahammnya memang tampak jeblok. Saat timingnya seperti ini kamu bisa mulai masuk dengan sepertiga dari total dana yang akan kamu gunakan untuk membeli saham tersebut.

Gunanya beli bertahap, sepertiga dulu, biar kalau dia lanjut turun kamu bisa average down lagi jadi ‘merahnya’ tidak terlalu dalam.

Tapi ini cuma gambaran umum, kamu belum bisa langsung praktekkan saat ketemu keadaan seperti ini karena ada banyak pertimbangannya, termasuk value dan sektornya. Jawabaanya, tentu dengan jadi anggota premium dari Analis.co.id.

Banyak sekali contoh kasus saham yang seperti ini. Misalnya saja, saham MYOR (sekalipun ini tidak bisa kita jadikan contoh saham yang valuenya murah).

Saat laba MYOR turun, kalau tidak salah di kuartal II 2017, waktu itu harganya di 2.210an sempat turun hingga  mentok di harga 1.760. Dan apa yang terjadi? Walhasil, dalam 3 bulan kemudian sahamnya akhirnya kembali ke harga semulanya, 2.210an, dan bahkan sekarang sudah 2.380an. Itu artinya kamu bisa untung 25 persen kurang dari setahun kan? pastinya lebih tinggi dari nilai deposito bank.

Bukan cuma MYOR, ada lagi LPCK. Dan beruntungnya, karena memang LPCK saat ini mengalami hal yang sama, yakni labanya lagi turun karena sekternya yang lagi lesu. Baca selengkapnya di sini: Analisa Fundamental Saham LPCK

5. Saat Ada Rencana Right Issue

Tapi tidak semua rencana right issue ini kita tanggapi, apalagi kalau sahamnya lagi mahal dan kinerjanya kurang bagus.

Right Issue yang bisa jadi peluang adalah kalau perusahaan secara resmi menyampaikan rencana harga right issue yang lebih tinggi dari harga sahamnya saat ini.

Tapi kalau mau lebih bagus lagi, saran saya kalkulasi dulu rencan RInya dengan kalkulator right issue yang sudah saya publish.

Contohnya, saham ABCD akan right issue dengan harga 3500, padahal di pasar saat ini harganya hanya 3000, nah inilah kesempatan kita untuk mendapat keuntungan karena saat RI haganya akan menyesuaikan harga right issue tersebut.

Tapi… (ada tapinya nih), ini baru akan bekerja dengan baik kalau memang harga sahamnya sebelumnya pernah jatuh dan saat ini lagi sedang murah-murahnya. Dan kaluu ternyata harganya saat ini lagi mahal dan sahamnya juga saham yang gak jelas, maka sebaiknya tidak usah melakukan teknik ini.

6. Saat ada yang IPO

IPO adalah singkatan dari Initial Public Offering atau Penawaran Umum Perdana, yaitu penawaran saham umum sebuah perusahaan untuk yang pertama kalinya pada public. Jadi perusahaan yang melakukan IPO adalah perusahaan yang baru bergabung menjadi anggota Bursa Efek Indonesia.

Tidak semua IPO perusahaan kita beli, karena terkadang ada yang fundamentalnya kurang bagus, terutama untuk kinerjanya di lima tahun terakhir. Cara taunya? Ya lewat prospektus yang dipublikasikan perusahaan.

Perusahaan IPO yang layak dibeli tentunya yang sebaliknya, yaitu yang menunjukkan kinerja usaha yang cemerlang dalam 5 tahun terakhir.

Tapi syarat di atas belum sempurna. Untuk bisa menghasilkan keuntungan yang signifikan dari saham yang baru IPO ini, menurut pengalaman saya ada 5 hal yang mempengaruhi, yaitu

  1. Kinerja 5 tahun terakhirnya bagus
  2. Kondisi IHSG yang lagi bearish
  3. Pasar saham yang lagi ramai
  4. Sektornya lagi hot
  5. IPOnya perusahaan besar, dan akan lebih bagus kalau dari perusahaan ‘plat merah’ atau BUMN

Masih ada beberapa sebenarnya yang lebih detail soal kapan sebaiknya mulai beli saham, tapi kayaknya terlalu panjang kalau dishare disini. Jadi, penjelasan lanjutannya akan saya tulis dalam buku yang akan saya terbitkan nanti. Ditunggu saja tanggal mainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *