Analisa Saham WSKT 2018 + Fundamental Saham WSBP, ADHI dan PTPP

Jika ditanya bagaimana prospek saham konstrusksi saat ini, mungkin terlalu bias. Tapi, bila pertanyaannya: bagaimana analisa saham WSKT 2018, beserta analisa fundamental saham WSBP, PTPP, dan ADHI sekarang, maka tidak terlalu sulitlah menjawabnya.

Ada alasan kuat mengapa penulis memilih membahas fundamental saham ini. Bukan karena kebetulan saja, tapi karena mengingat siklus pergerakan saham pada umumnya di BEI relinya akan dimulai kurang dari dua bulan lagi. Jadi, wajarlah kalau analisisnya saya share sekarang ini.

Apa itu siklus pergerakan saham?

Jadi begini, dalam setahun atau dalam kurun beberapa tahun ada waktu-waktu tertentu dimana saham-saham di bursa ramai-ramai bergerak naik atau pun turun. Umumnya, pergerakannya bersamaan atau berkelompok dalam satu sector. Ya… kalau bahasa bugis-nya: ‘ducks on the move‘. Yah ibarat itik lah, satu bergerak ke kiri maka yang lainnya akan ikut bergerak ke kiri juga, dan demikian sebaliknya.

Contoh kongkritnya pada siklus pergerakan saham di tahun politik, sebut saja ketika Jokowi menggembor-gemborkan isu program ‘tol laut’ saat kampanyenya pada pilpres sebelumnya. Waktu itu di pasar saham juga ikutan heboh dan muncul sentiment positif bahwa kedepannya saham-saham yang ada hubungannya dengan aktifitas bisnis pelabuhan prospeknya menjanjikan atau apalah… yang intinya, muncul dibenak para trader saham syariah maupun konvensional waktu itu bahwa siapa pun yang membeli saham pelabuhan akan untung banyak nantinya.

Walhasil, dengan dibantu dari postingan berbagai media online dengan bahasa hiperbola-nya yang membuat para trader terhipnotis, maka saat itu, tepatnya di pertengahan bulan November 2014, banyak saham-saham jasa transportasi laut yang sudah beterbangan tidak karuan.

Sebut saja, saham PT Pelayaran Tempuran Emas Tbk (TMAS) yang memang nyata-nyata bergerak di jasa angkutan laut, naik 817% dari harga Rp205 di bulan Februari menjadi Rp1.880 per saham pada closing price saham 14 November 2014. Kemudian ada juga saham PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) yang naik 300% pada level Rp11.600 per lembarnya, lalu disusul PT Dharma Samudera Fishing Industries Tbk (DSFI) yang naik 104%, dan PT Wintermar Offshore Marine Tbk yang loncat hingga 47% lebih waktu itu.

Artinya apa? Jadi sepakat atau tidak, di bulan tertentu dalam setahun atau di tahun tertentu seperti contoh di atas, akan selalu ada waktu dimana saham di sector tertentu akan bergerak naik atau turun secara bersamaan.

Dan khusus yang jadi objek analisis kita saat ini, yaitu saham konstruksi, juga punya siklus pergerakan juga. Umumnya para analis menyebutnya dengan sebutan ‘January Effect’ atau efek pergerakan saham pada bulan Januari di pasar saham.

Sebenarnya bukan saham konstruksi saja yang berdampak pada siklus tersebut, tapi karena WSKT dkk ini adalah saham ‘plat merah’, maka merekalah yang paling pas kita pilih saat siklus tersebut terjadi.

Biasanya pergerakan tersebut akan sangat tampak pada dua minggu pertama di bulan Januari. Tapi perlu juga diwaspadai, bila investasinya hanya untuk memanfaatkan moment ini, maka di akhir januari atau memasuki bulan Februari, saham-saham tersebut akan mulai berbalik arah pergerakannya atau turun.

Berdasarkan pengalaman selama berpuluh tahun, walau tak selamanya juga terjadi, pada bulan Januari tersebutlah saham-saham konstruksi seperti WSKT, WSBP, ADHI, PTPP, dan lainnya akan bergerak naik secara bersamaan, entah itu fundamentalnya bagus atau biasa-biasa saja.

Salah satu penyebabnya, karena setelah para fund manager melakukan window dressing di bulan Desember maupun menjual saham-sahamnya karena alasan untuk mengamankan dana atau meraup capital gain serta untuk kucing-kucingan dari beban pajak mereka, biasanya mereka akan mulai masuk (maksudnya membeli) lagi di awal-awal tahun.

Atau bisa juga karena alasan curi start pada saham-saham yang punya peluang menguntungkan saat laporan keuangannya dirilis di akhir tahun, yakni di bulan Maret. Kenapa? Ya, karena biasanya perusahaan-perusahaan konstruksi baru akan terlihat menggiurkan laporan keuangannya pada laporan keuangan akhir tahunnya, karena pada waktu itulah laba usahanya selama setahun akan nampak ‘menggemaskan’.

Tapi disamping itu, saham-saham konstruksi memang punya ritualnya tersendiri di bulan tersebut. Entah kenapa, penulis juga tidak bisa tau lebih dalam alasannya. Pokoknya, sebelum masuk januari, ‘Masuk pak Eko..ooo!’

Analisa Saham WSKT 2018 serta Analisa Fundamental Saham WSBP, ADHI dan PTPP

Kalau prolog di atas soal peluang untung dari Januari effect, sekarang mari masuk ke soal fundamental saham WSKT dkk.

Dan biar lebih detail dan teman2 Analis bisa menangkap lebih jelas kondisi keuangan dan valuasi, serta prosepek saham kedepannya, maka ada baiknya kita tampilkan dulu data finansialnya seperti apa.

Berikut datanya:

FUNDAMENTAL WSKT
No Quarter/year 3rd Quarter 2017 3rd Quarter 2018 Growth
1 Total Sales 28,534,338,087,564 36,232,526,253,441 26.98%
2 Cost of Good Sold -22,884,350,516,184 -29,158,709,318,441 27.42%
3 Gross Profit 5,649,987,571,380 7,073,816,935,000 25.20%
4 Operation Expenses -744,326,733,289 -1,165,941,341,388 56.64%
5 EBIT 4,905,660,838,091 5,907,875,593,612 20.43%
6 Other Income/Expenses -1,656,933,540,625 -587,497,793,641 -64.54%
7 Earning Before Tax 3,248,727,297,466 5,320,377,799,971 63.77%
8 Net Income After Tax 2,905,144,997,000 4,494,218,200,287 54.70%
9 Minority Interest -333,500,881,280 -767,600,070,553 130.16%
10 Net Income(NI) 2,571,644,115,720 3,726,618,129,734 44.91%
11 Earning Per Share(EPS) 189 274 44.97%
12 Book Value Per Share(BV) 948 1,285 35.55%
13 Close Price 1,775 1,700 -4.23%
14 PER(Colse Price/EPS*) 7 4.6 -34.29%
15 PBV(Close Price/BV) + 1.9 1.3 -31.58%
16 DER (X) (T.Liab/T.Eq) 5.1 6 17.65%
17 ROA (X) (NI*/T.Assrts) 3.9 3.8 -2.56%
18 ROE (X) (NI*/T.Equity) 26.6 28.5 7.14%
19 Op.Margin (%) (EBIT/Sales) 17.2 16 -6.98%

Jika mengacu pada analisis growth dari WSKT di atas, maka tampak bahwa pada kuartal III 2018 ini WSKT – secara umum – menunjukkan pertumbuhan yang signifikan di bandingkan dengan pencapaian kinerjanya pada periode yang sama tahun sebelumnya. Khususnya, acuan utama kita pada sisi laba bersih yang dihasilkan oleh persero yang mampu tumbuh hingga 44,91%.

Bagi seorang trader beraliran growth investing, tentu pertumbuhan tersebut sudah bisa menjadi alasan kuat untuk mulai membeli saham WSKT, selain analisa teknikalnya. Hanya saja, bagi anda dan saya sendiri yang beraliran value investing, maka sisi growth belum bisa dijadikan alasan utama untuk mulai masuk, melainkan harus melihat lagi bagaimana valuasinya dan fundamental lainnya.

Dan menariknya, dengan harga WSKT yang berada di level Rp1.630 per lembar saat ini dan book value-nya yang senilai Rp1.285 per lembar, maka PER dan PBV WSKT saat ini masing-masing hanya 4,5 dan 1,3 kali saja.

Secara umum rasio valuasi WSKT di atas bisa kita katakan murah, mengingat pada kuartal yang sama tahun lalu, yakni tahun 2017, PERnya hingga 7 kali, bahkan di tahun 2016 saat saham konstruksi lagi hot2nya dan menjadi buruan para trader, PER WSKT bisa sampai 31 kali dan PBVnya sendiri di tahun 2016 sampai 3,5-4 kali. Jadi kebayang kan kalau harganya bisa balik lagi seperti masa jayanya? Apalagi sebentar lagi kita sudah mau memasuki tahun politik, tahun dimana Jokowi dan tim Kabinet Kerja-nya akan mulai memaparkan beberapa keberhasilannya membangun infrastruktur selama 4 tahun terakhir. Dan saya kira itulah moment paling pas untuk ‘memancing’ saham WSKT dkk naik lebih tinggi lagi.

Hanya saja, dalam analisa fundamental saham WSKT kuartal III 2018 kali ini belum bisa terlalu detail hingga ke akar fundamentalnya, mengingat rilis laporan keuangan dari WSKT sendiri di situs IDX belum atau tidak akan menyertakan Laporan keuangan lengkapnya yang disertai catatan-catatan dari tiap akun dalam LKnya. Padahal, dalam analisa fundamental, halaman-halaman dari “Catatan atas Laporan Keuangan” adalah bagian penting yang bisa membantu kita mengetahui semua transaksi neraca maupun laba ruginya.

Tapi biar bagaimana pun, tidak lengkap rasanya kalau hanya melihat pada satu kacamata saja, sebaiknya dilengkapi dengan analisa secara bench marking atau membandingkan dengan perusahaan konstruksi sejenis lainnya.

Dan berikut adalah data perbandingan fundamental terbaru dari WSKT, WSBP, ADHI, dan PTPP yang telah penulis olah dari laporan keuangan masing-masing:

No Quarter/year WSKT WSBP ADHI PTPP
1 Total Sales 26.98% 8.53% 8.23% 7.45%
2 Cost of Good Sold 27.42% 5.82% 3.12% 6.73%
3 Gross Profit 25.20% 15.90% 47.08% 11.70%
4 Operation Expenses 56.64% 33.22% 84.51% 35.65%
5 EBIT 20.43% 14.24% 34.98% 4.88%
6 Other Income/Expenses -64.54% 75.80% 18.02% -2352.92%
7 Earning Before Tax 63.77% 5.32% 46.15% -27.88%
8 Net Income After Tax 54.70% 7.23% 63.64% 0.26%
9 Minority Interest 130.16% #DIV/0! -281.63% 92.01%
10 Net Income(NI) 44.91% 7.23% 63.05% -11.65%

Dari data di atas jelas sekali terlihat bahwa dari keempat saham konstruksi di atas, WSKT lah yang memiliki total sales yang paling tinggi. Walau dari segi net profitnya kalah dengan ADHI yang pertumbuhannya mencapai 63%.

Pertanyaannya, mengapa di awal November 2018 ini, WSKT lebih mendominasi perdagangan di bursa dan bisa masuk 20 besar saham yang paling aktif ditransaksikan?

Ditambah, kenaikannya dari 14 November 2018 hingga saat ini sudah mencapai 11,9% lebih, dibanding dengan kawannya yang lain yang tampak ‘termenung’ saja?

Oke, untuk mengetahui jawabannya, mari kita lihat perbandingan rasio utang, laba dan lainnya dari keempat saham konstruksi ini:

Key Ratios WSKT WSBP ADHI PTPP
PER (X) (ClostPrice/EPS*) 4.6 7.9 11.1 8.1
PBV (X) (ClosePrice/BV) 1.3 1.2 0.8 0.8
DER (X) (T.Liab/T.Eq) 6 1 3.6 2.8
ROA (X) (NI*/T.Assrts) 3.8 7.2 1.6 2.4
ROE (X) (NI*/T.Equity) 28.5 15.8 7.3 9.7
Op.Margin (%) (EBIT/Sales) 16 26 10.9 11

Nah, dari tabel perbandingan di atas jawaban dari pertanyaan di atas sudah terjawab. Jadi, dari sisi ROE, WSKT lah pemenangnya. Dan bagi seorang value investor, ROE merupakan salah satu rasio penting yang patut dipertimbangkan dalam hal analisis benchmarking. Ya, karena dari rasio tersebutlah kita bisa tau dengan pasti seberapa besar kemampuan perusahaan dalam memaksimalkan asetnya, khususnya equity-nya, dalam menghasilkan laba di periode saat ini maupun yang lalu.

Selain itu, dari sisi valuasi PER nya, maka bisa dibilang PER WSKT cukup murah. Dengan EPS sebesar 274 per saham, maka PER Waskita hanya 4,6 kali saja. Sedangkan, di tahun 2016 – sudah saya singgung di atas – PER Waskita bahkan bisa sampai 30 kali lebih. Dan inilah juga alasan kuat mengapa banyak trader lebih memilih WSKT. Karena hal ini juga sering digembor-gemborkan oleh para analis lainnya, entah itu Teguh Hidayat, Rivan Kurniawan atau Joeliardi Sunendar, bahwa yang namanya saham blue chip paling baik dinilai dari PERnya dibanding dengan PBVnya.

Jadi saya kira kesimpulan analisa fundamental saham WSBP, WSKT, ADHI dan PTPP adalah:

  1. Saat ini, setelah perusahaan merilis laporan keuangan terbarunya, kita sudah tau masing-masing bottomnya atau level harga terendahnya, baik itu WSBP, WSKT, ADHI dan PTPP. Sehingga, jika mau mulai masuk saat ini, disamping sudah cukup aman, kita juga tidak harus menunggu lama untuk panen di saham-saham ini, mengingat juga soal moment january effect yang penulis singgung di atas sudah tidak lama lagi.
  2. Saham-saham konstruksi di atas saat ini bukan dalam kondisi overvalued, tapi sudah mengalami masa downtrend beberapa bulan terakhir ini. Bahkan menurut saya, umumnya WKST dkk sudah dalam kondisi mengalami reversal setelah sampai pada titik jenuh penurunannya beberapa bulan sebelumnya.
  3. Berdasarkan pengalamaan penulis, jika pasar (atau dalam hal ini IHSG) mulai pulih, maka biasanya saham yang paling pertama rebound dan paling tinggi kenaikannya adalah dari saham-saham ‘plat merah’ yang punya riwayat selalu masuk dalam daftar saham LQ45.
  4. Penurunan WSKT dkk sebelumnya bukan karena kinerjanya yang buruk, tapi hanya karena di tahun 2018 ini saham konstruksi belum dapat giliran ujuk gigi saja dan juga pesimisme yang muncul dari para investor karena sahamnya yang tidak kunjung bergerak naik. Jadi, tidak ada alasan menilai buruk saham ini, terlebih karena Jokowi yang telah jor-joran mengahabiskan dana pembangunan terbilang cukup sukses mewujudkan program pembangunan infrastruktur andalannya, khususnya tol, di masa pemerintahannya.
  5. Rata-rata proyek strategis PT Waskita Karya Tbk saat ini sudah berhasil dirampungkan hingga 80% lebih dan menurut hitung-hitungannya kuartal IV tahun 2018 ini proyek seperti tol Batang-Semarang, Semarang-Solo, Salatiga-Kartasura diperkirangkan akan rampung. Ditambah proyek tol Kunciran-Serpong yang mungkin akan menyusul juga penyelesaiannya. Sekalipun begitu, dua proyek tol yang pertama disebutkan kemungkinan pembayarannya baru terrealisasi pada kuartal II 2019 nanti, dan sisanya akan dibayar bertahap hingga tahun 2020 nanti. Tapi tidak perlu khawatir karena bukan cuma itu on-going proyek Waskita saat ini, masih ada Raknamo Dam yang selesai awal Februari 2019 dan Water Treatment Plant of Maloy yang rencananya tuntas pengerjaannya akhir November ini.

Pilih saham yang mana?

Kalau ada yang bertanya, bagusnya pilih yang mana? Maka rekomendasi pertama saya mungkin jatuh ke WSKT mengingat valuasinya dan nilai kontraknya yang selalu paling besar, mulai hingga 2017 kurang lebih growthnya 235% dan demikian juga di awal tahun 2018 hingga saat ini juga selalu jadi yang tertinggi dibanding yang lainnya, yakni mencapai 55,8 triliun.

Dan yang kedua menurut saya lebih tepat kalau milih WSBP. Alasannya, karena WSBP sendiri anak usaha dari WSKT, sehingga jika kinerja WSKT cemerlang maka tentunya anak usahanya akan ikut kecipratan juga, karena kira-kira kalau Waskita butuh beton siap pakai (precast) ambilnya dimana? kan ke WSBP juga!

Tapi perlu juga dipertimbangkan, jika tujuannya untuk investasi middle term maka ADHI dan PTPP juga masih layak. Karena kita tidak tau bagaimana hasil akhir relinya pada kuartal IV nanti, bisa jadi juga Wika yang tidak dibahas di atas mengalahkan yang lainnya.analisa saham WSKT 2018

Yah, tapi semua saya kembalikan ke pilihan teman2 sendiri. Yang jelas, pilih saham mana pun tetap tidak boleh gegabah. Analisa ini hanya tambahan pertimbangan saja, bukan satu-satunya bahan pertimbangan buat anda. DISCLAIMER ON!

Hati-hati dengan saham konstruksi!

Sekalipun analisa saya di atas tampak mengarahkan teman-teman untuk mulai masuk di saham2 konstruksi, terutama WSKT dan WSBP, tapi bukan berarti sama sekali tidak ada kekhawatiran rugi dari saham ini. Apalagi yang namanya investasi saham, tentu kita tidak bisa memprediksi dengan pasti kapan saham tertentu akan naik atau turun, apalagi kalau terjadi force majure di saham tertentu.

Untuk itu, jika merasa ragu dengan analisa ini maka jauhi saja dan mungkin bisa beralih ke saham yang lebih menguntungkan menurut anda. MYOR kah? MPMX? atau apalah…!

Karena faktanya, saham konstruksi adalah salah satu saham yang punya resiko perlambatan pertumbuhan aset yang cukup tinggi jika seorang investor salah timing membelinya. Contohnya saja, dua tahun lalu begitu banyak analis saham yang memberikan analisis dan prediksinya bahwa di tahun 2017 saham WSBP akan naik banyak, tapi nyatanya, hingga akhir 2018 ini sahamnya belum keluar dari area sideway-nya, dan bahkan terus turun hingga hampir menyentuh level Rp300-an per lembar.

Jadi intinya, apa pun jenis saham yang anda pilih dan dari analis mana pun analisisnya anda dengar, maka tetaplah menerapkan prinsip manajemen resiko investasi yang aman.

Apakah menurut anda masih ada yang belum jelas soal analisa saham WSKT 2018 atau pun prospek saham WSBP dan analisa fundamental saham konstruksi lainnya seperti PTPP dan ADHI? Jika ya, silahkan berdiskusi di bawah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *