Yang harus diperhatikan dalam analisa fundamental saham dan forex?

Yang pemula dalam bermain saham pasti akan bertanya, “Apa saja yang harus diperhatikan dalam analisa fundamental saham?. Kalau forex mungkin lain lagi ceritanya, karena ini diluar dari instrumen investasi real.

Mungkin ada yang bertanya, maksudnya forex bukan investasi real itu apa?

Jadi begini, dalam pandangan hukum ekonomi Islam atau hukum syariah, forex atau foreign exchange adalah haram bila statusnya dibuat ‘seperti komoditi’.

Artinya, ia diperjualbelikan layaknya barang untuk tujuan mendapatkan keuntungan dari selisih jualnya. Bukan untuk tujuan digunakan kembali berbelanja produk real.

Berbeda dengan saham, walau yang diperjualbelikan nampak seperti nilai uang, tapi sebenarnya itu adalah harga dari saham perusahaan. Yang mana hal tersebut mewakili kepemilikan seseorang pada perusahaan yang menerbitkan saham tersebut.

Tapi bukan itu yang akan kita bahasa di sini. Sekarang ini kita hanya akan fokus mengenai kerangka atau hal-hal yang harus diketahui dalam melakukan analisa fundamental saham.

Tapi sebelum itu saya mau bercerita sedikit soal analisis ini.

Bentuk analisis ini sebenarnya lebih tepat bagi investor yang beraliran value investing. Adapun bagi yang beraliran growth investing maka umumnya cenderung pada analisa teknikal.

Hal yang banyak tidak diketahui bagi yang pemula dalam bermain saham adalah bahwa analisa saham bukan hanya soal angka-angka saja. Untuk berhasil dalam melakukan analisa maka faktor pengalaman dan insting sebagai investorlah yang banyak berperan.

Kalau soal bagaimana cara mengetahui valuasi saham dari PBV dan PER-nya mungkin mudah. Saya sering bilang kalau itu hanya seperti pekerjaan anak SD saja. Ya, hanya bermodal kali, bagi, atau tambah saja.

Namun lebih dari itu, analisa fundamental memerlukan ‘jam terbang’ yang cukup sebagai trader untuk bisa jeli melihat peluang dan prospek dari saham tertentu.

Jadi, tidak melulu kalau PBV di atas 1 kali itu mahal dan PBV di bawah 1 kali itu murah. Tapi, ada banyak faktor yang harus dianlisis dan dinilai untuk bisa memutuskan bahwa saham tersebut layak invest atau tidak.

Oke, sudah basa-basinya! Mari mulai belajar tekniknya!

Yang harus diperhatikan dalam analisa fundamental saham? (forex belum dibahas)

Karena pertanyaannya soal apa saja yang harus diperhatikan, dalam artian poin penting dalam analisis fundamental maka lebih tepat kalau kita mengulas barometer analisisnya saja. Bukan tahap-demi tahap analisanya.

Karena, untuk step by step analisa fundamental akan dirilis dalam bentuk video tutorial. Silahkan tunggu saja tanggal rilisnya atau lakukan pre-Order sekarang.

Oke, berikut ini hal penting yang wajib diperhatikan bagi value investor:

1. Tentukan mulai dari mana analisanya

Pada dasarnya melakukan analisa saham ada dua pendekatan yang bisa dilakukan ditinjau dari tahapan memulainya.

Metode yang saya maksud adalah analisis top-down dan bottom-up.

Top-down merupakan analisa “gambaran secara garis besar” (the big picture) dari perekonomian dan saham tertentu.

Adapun metodenya, dengan tiga tahap analisis berikut:

  1. Makroekonomi
  2. Sektor
  3. Emiten

Maksud dari 3 pendekatan di atas, jadi si investor sebelum memutuskan memilih saham ia akan mulai menganalisa dari kondisi makroekonomi terlebih dahulu. Setelah itu, kemudian ia akan memilih dan menentukan sektor mana yang paling baik untuk saat ini.

Barulah pada tahap terakhir, jika kondisi makroekonomi dan sektor tertentu mendukung, maka barulah dilanjutkan dengan menganalisa emiten atau perusahaan yang masuk dalam sektor pilihan tersebut.

Jika kenyataan berkata lain, dimana kondisi makroekonomi dan sektor sedang lesu, ditambah dengan IHSG yang sedang downtrend, maka bisa jadi tidak akan dilanjutkan pada tahap analisis emiten.

Tapi, ini jika investor tersebut memilih pendekatan top-down atau analisis dari hal yang besar ke hal yang spesifik. Lain halnya jika pendekatan yang dipilih adalah bottom-up, maka analisisnya dimulai dari emiten, kemudian lanjut ke sektor dan makroekonimi-nya.

Adapun analisa bottom-up, maka analisisnya dimulai dengan menilai laporan keuangan emiten, apakah menguntungkan dan bertumbuh dibandingkan periode yang sama sebelumnya.

Jika ya, maka tahap selanjutnya adalah kebalikan dari top-down di atas dimana ia kemudian menganalisa sisi sektor dan kondisi ekonomi dari emiten tersebut.

Jika sedang trend dan pasar lagi optimis maka barulah diputuskan membeli saham yang telah dianalisa. Tapi bila tidak, maka kemungkinan investor akan menunggu timing yang tepat untuk masuk di saham tersebut.

Bisa dikatakan bahwa pendekatan top-down lebih banyak dipakai oleh investor saham beraliran growth investing, sedangkan bottom-up lebih tepat untuk penganut value investing. Tapi, tidak harus selalu seperti itu, keduanya bisa dipakai oleh trader beraliran apa saja.

2. Analisa tunggal fundamentalnya terlebih dahulu

Setelah tau mau mulai dari mana analisis anda, anggaplah memilih bottom-up di atas, selanjutnya melakukan analisa fundamental, yaitu analisis pada laporan keuangan emiten langsung.

Analisa tunggal maksudnya kita menganalisa langsung apakah poin tertentu dalam laporan keuangan yang dianalisa menunjukkan performa yang baik atau tidak.apa saja yang harus diperhatikan dalam analisa fundamental

Sebagai contoh, mau mengetahui laba dari perusahaan Astra International Tbk. (ASII), maka yang dilihat langsung adalah apakah saat ini ASII sedang untung atau tidak. Caranya sederhana saja, lihat apakah labanya positif atau mines. Jika mines maka tidak usah lanjutkan analisanya, langsung saja ganti ke emiten yang lain.

Laba yang minus, begitupun bagian dari laporan keuangan lainnya seperti penjualan, aset dan lainnya, maka tandanya adalah tanda kurung pada nilainya. Contohnya laba (59.000.000) dengan 59.000.000, maka yang minus adalah yang menggunakan kurung tersebut.

3. Lakukan komparasi untuk tau growth atau tidak

Setelah melihat bagian keuangannya secara tunggal maka yang harus diperhatikan dalam analisa fundamental saham selanjutnya adalah apakah perusahaannya bertumbuh (growth) atau tidak.

Cara mengetahui growth tidaknya adalah dengan membandingkan kinerjanya di periode ini dengan periode yang sama di tahun sebelumnya.

Maksudnya bagaimana?

Jadi misalnya sedang menganalisa saham MYOR di kuartal 3 2019, maka untuk membandingkannya dengan kurtal yang sama di tahun sebelumnya, maka yang dilihat adalah laporan keuangan pada kuartal 3 tahun 2018 sebelumnya.

Bagaimana caranya?

Sederhana sekali, cukup kurangi nilai periode saat ini dengan periode sebelumnya kemudian hasilnya bagi dengan periode sebelumnya lagi maka akan terlihat berapa persentase pertumbuhannya.

Berikut adalah rumus growth yang dimaksud:

G = ((Xn / Xo) / Xo)) x 100

Keterangan:

Xn : Nilai akhir

Xo : Nilai awal

Persentase di sini berbeda-beda tiap bagian keuangan dan emiten di tiap sektor. Untuk menilai laba yang baik maka setidaknya bisa tumbuh antara 15%-30%, tapi lain lagi kalau menilai penjualan. Nah, mengenai ini silahkan order video tutorial saham soal cara melakukan analisa fundamental tahap demi tahap.

Dan akan lebih baik lagi, bila sebelum dilakukan komparasi atau pembandingan, sebaiknya dicari dulu rasio dari tiap-tiap bagian dalam laporan keuangan.

Untuk laba sendiri akan lebih pas dinilai dengan melihat berapa rasio ROE (Return on Equity)nya kemudian barulah dicari berapa growthnya.

ROE baiknya di atas 15% atau minimal di atas nilai deposito bank karena itu artinya masih lebih baik beli saham perusahaan dari pada deposito.

4. Analisa histori untuk menentukan trendnya

Banyak yang menyamakan penyebutan growth dengan trend dalam analisa teknikal maupun fundamental, tapi sebenarnya berbeda.

Kalau growth tujuannya hanya untuk menilai berapa pertumbuhan kinerja emiten saat ini dibanding dengan periode sebelumnya.

Adapun trend, ditujukan untuk menilai prospek perusahaan kedepan sehingga dasar perhitungannya dari beberapa periode sebelumnya kemudian dicari rata-rata pertumbuhannya.

Kerangka analisis pada histori kinerja, baik itu laba, penjualan, aset, ekuitas dan utang, umumnya dilakukan dalam kurun 5 hingga 10 tahun terakhir.

Rumus untuk menentukan trend atau rasio pertumbuhan ini adalah

= (Xn / Xo)^(1/n) -1

Keterangan:

Xn = Nilai terakhir

Xo = Nilai Dasar

n = Jumlah Tahun

Adapun simbol ^ maksudnya adalah ‘pangkat’. Caranya mengaktifkannya cukuk tekan Shift + 6.

Nilai yang dihasilkan dari perhitungan inilah yang menjadi dasar kita dalam menilai prospek perusahaan di masa akan datang, yakni dari kinerjanya dimasa lalu.

5. Perhatikan strategi benchmarking

Kalau benchmarking sebenarnya membandingkan perusahaan yang sedang dianlisa saat ini dengan perusahaan yang lebih mapan. Kira-kira dari perbandingan tersebut berapa selisihnya, baik itu angka-angka dalam laporan keuangannya langsung maupun pada rasio-rasio penting harus diperhatikan dalam analisa fundamental saham.

Istilah yang lebih tepat untuk ini sebenarnya ‘cross-sectional approach’. Nah, ini jelas membandingkan dengan beberapa emiten, entah itu valuasinya maupun rasio lainnya seperti rasio solvabilitas, profitabilitas dan lainnya.

Dalam tahapan analisa fundamental ini, akan lebih tepat lagi kalau dari semua emiten yang dibandingkan dicari rata-ratanya kemudian dibandingkan dengan hasil analisis kita dengan saham yang sedang dianlisa saat ini.

Caranya sederhana, misalnya ada 5 perusahaan yang dibandingkan rasio-rasionya, selanjutnya semua dijumlah lalu dibagi sesuai dengan perusahaan tersebut. Nah, hasilnya akan diketahui rata-rata rasio pada umumnya, tentunya sekaligus sebagai alat ukur menilai nilai rasio yang baik untuk sektor tersebut.

Itu artinya, dalam melakukan tahapan analisa ini, jenis perusahaan atau sektornya harus sama dan dalam periode yang sama pula.

Dengan cara inilah maka akan diketahui nilai rasio, pertubuhan atau apa pun itu yang jadi tujuan analisis Anda, yang bisa dijadikan sebagai nilai patokan yang baik.

Contoh sederhananya, misalnya telah dikumpulkan rasio PER dari 5 perusahaan dalam sektor yang sama yang masing-masing angkanya adalah 8, 10, 12, 18, dan 13.

Nah, semua angka tersebut dijumlahkan lalu dibagi 5. Dari perhitungan tersebut diketahui bahwa nilai rata-rata PERnya adalah 12,2 kali.

Dari hasil perhitungan rata-rata PER di atas maka sepintas dapat dikatakan bahwa nilai PER yang baik untuk sektor tersebut adalah 12,2 kali. Jadi bila saham yang dianalisa ternyata masih lebih rendah dari nilai tersebut maka bisa kita katakan kalau harganya masih murah.

Kelebihan dari cari pembandingan eksternal ini adalah dimana nilai rata-rata bisa menggambarkan nilai yang pas untuk saat itu. Jadi bukan hanya patokan angka mutlak saja bahwa kalau di atas 14 PERnya berarti mahal, dan kalau dibahwanya berarti murah.

6. Timbang dan putuskan

Setelah semua tahapan analisis fundamental dilakukan, maka terakhir yang harus dilakukan adalah dengan menimbang semua aspek yang telah diketahui.

Bila ingin menerapkan teori bottom-up analysis, maka sebelum itu analisa dulu sektornya dan kondisi makroekonomi, apakah lagi ‘hot’ atau tidak. Ini manfaatnya untuk mengetahui timing beli saham yang tepat.

Dan terakhir, timbang dalam-dalam dan renungkan mana saham terbaik yang harus dipilih dari hasil analisa fundamental anda.

Pada langkah terakhir ini, kemampuan analisismu diuji karena tidak lagi dihadapkan pada angka-angka.

Hasil dari perenungan ini sangat ditentukan oleh keunikan dan gaya investasi dari investor, serta jam terbangnya dalam dunia trading saham. Semakin berpengalaman maka akan semakin baik pula hasil analisanya.

Jadi inilah kerangka analisis fundamental yang bisa teman-teman pelajari di artikel ini. Buat yang menyusun makalah, skripsi atau tesis silahkan menjadikan ini sebagai rujukan dengan menyertakan sumbernya.

Semoga artikel berjudul ‘yang harus diperhatikan dalam analisa fundamental saham dan forex’ ini bermanfaat. Dan terkait bentuk ulsan analisis fundamental saham pdf, saat ini belum tersedia, baru dalam bentuk video tutorial. Silahkan order melalui halaman kontak di atas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *