Royalti Emas dan Nikel Naik, Antam Hitung Ulang Beban Biaya Rencana pemerintah menyesuaikan tarif royalti mineral kembali menjadi perhatian pelaku pasar. PT Aneka Tambang Tbk atau Antam ikut mencermati kebijakan tersebut karena dua komoditas yang menjadi sasaran perubahan, yakni emas dan nikel, merupakan bagian penting dari portofolio perusahaan. Di tengah harga komoditas yang bergerak tinggi dan kebutuhan negara memperkuat penerimaan, Antam mulai menghitung pengaruh aturan baru terhadap biaya operasi, rencana produksi, serta arah bisnis hilirisasi.
Pemerintah Siapkan Revisi Aturan Royalti Minerba
Pemerintah berencana merevisi PP Nomor 19 Tahun 2025 tentang jenis dan tarif atas jenis penerimaan negara bukan pajak yang berlaku pada Kementerian ESDM. Materi konsultasi publik yang beredar menunjukkan adanya usulan perubahan tarif royalti untuk sejumlah komoditas strategis, termasuk emas, nikel, tembaga, perak, timah, dan kromium.
Langkah ini tidak bisa dilepaskan dari tingginya perhatian negara terhadap penerimaan dari sektor mineral. Saat harga komoditas meningkat, pemerintah ingin bagian penerimaan negara ikut bergerak sejalan dengan keuntungan yang dinikmati pelaku usaha tambang. Skema progresif menjadi pilihan karena tarif dapat naik mengikuti level harga mineral acuan.
PP Nomor 19 Tahun 2025 sendiri ditetapkan pada 11 April 2025 dan mulai berlaku pada 26 April 2025. Aturan tersebut mengatur jenis serta tarif penerimaan negara bukan pajak pada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.
Emas Masuk Sasaran Kenaikan Tarif
Emas menjadi salah satu komoditas yang paling disorot dalam rencana revisi. Pada aturan yang berlaku saat ini, tarif royalti emas disusun berdasarkan Harga Mineral Acuan. Dalam usulan baru, tarif dasar emas disebut naik menjadi 14 persen untuk harga di bawah 2.500 dolar AS per troy ounce, kemudian bergerak naik sampai 20 persen untuk harga di atas 5.000 dolar AS per troy ounce.
Perubahan tersebut penting bagi Antam karena emas menjadi salah satu penopang utama kinerja perseroan. Produk logam mulia Antam memiliki pasar besar di dalam negeri, terutama dari pembeli ritel yang menggunakan emas sebagai instrumen simpanan nilai. Bila tarif royalti naik, perusahaan perlu menghitung kembali biaya dari sisi tambang, pengolahan, pemurnian, hingga distribusi produk emas.
Meski begitu, bisnis emas Antam memiliki karakter berbeda dari penambangan murni. Penjualan emas perusahaan juga didukung jaringan Logam Mulia dan pasokan bahan baku dari pihak ketiga. Karena itu, penghitungan biaya tidak hanya melihat produksi tambang, tetapi juga struktur rantai pasok secara keseluruhan.
Nikel Berubah Lewat Batas Harga yang Lebih Rendah
Untuk bijih nikel, usulan revisi tidak hanya menyentuh persentase tarif, tetapi juga lapisan harga. Dalam PP Nomor 19 Tahun 2025, royalti bijih nikel berada di kisaran 14 persen hingga 19 persen, dengan tarif tertinggi berlaku saat Harga Mineral Acuan di atas 31.000 dolar AS per ton. Dalam usulan baru, tarif tertinggi 19 persen akan dikenakan saat harga berada di atas 26.000 dolar AS per ton.
Perubahan batas harga tersebut membuat pelaku usaha bisa lebih cepat masuk ke lapisan royalti tinggi saat harga nikel naik. Inilah yang membuat pasar menilai beban perusahaan tambang nikel dapat bertambah, walau persentase tertinggi secara umum masih berada di level yang sama.
Bagi Antam, nikel bukan komoditas kecil. Perseroan memiliki tambang bijih nikel, bisnis feronikel, serta hubungan erat dengan industri hilir dalam negeri. Bijih nikel Antam juga dipakai untuk memenuhi kebutuhan industri nikel kelas dua domestik dan mendukung pasokan bahan baku internal untuk produksi feronikel di Kolaka.
Antam Menghormati Kebijakan Pemerintah
Manajemen Antam menyatakan menghormati dan mendukung kebijakan pemerintah yang bertujuan memperkuat tata kelola pertambangan serta mengoptimalkan penerimaan negara dari sumber daya alam. Pernyataan ini disampaikan Corporate Secretary Division Head Antam, Wisnu Danandi Haryanto, saat merespons rencana penyesuaian royalti mineral.
Sikap tersebut menunjukkan Antam berusaha menempatkan diri sebagai perusahaan tambang pelat merah yang tetap mengikuti arah kebijakan negara. Sebagai anggota Holding BUMN Pertambangan MIND ID, Antam berada dalam posisi yang berbeda dari emiten tambang swasta biasa. Perseroan bukan hanya mengejar laba, tetapi juga ikut menjalankan peran strategis dalam pengelolaan mineral nasional.
Namun, dukungan terhadap kebijakan bukan berarti perusahaan tidak melakukan hitungan mendalam. Antam tetap harus memastikan struktur biaya, target produksi, belanja modal, harga jual, dan penguatan hilirisasi tetap berada dalam jalur yang dapat dikelola.
Beban Biaya Masuk Perhitungan Operasional
Antam menyebut penyesuaian tarif royalti akan menjadi salah satu faktor yang masuk dalam struktur biaya operasional dan rencana bisnis perusahaan. Manajemen juga menilai fundamental bisnis Antam saat ini masih cukup kuat karena didukung portofolio usaha terintegrasi dari hulu sampai hilir, diversifikasi komoditas, efisiensi operasional, serta penguatan bisnis hilirisasi dan produk bernilai tambah.
Kenaikan royalti biasanya langsung memengaruhi biaya per unit produksi. Semakin besar volume produksi dan semakin tinggi harga mineral acuan, semakin besar pula nilai setoran yang harus dihitung perusahaan. Pada komoditas emas dan nikel, hal ini menjadi perhatian karena keduanya memberi sumbangan besar bagi Antam.
Dari sisi operasional, perusahaan perlu melihat bagian mana yang bisa dibuat lebih efisien. Antam dapat meninjau ulang biaya tambang, logistik, konsumsi energi, biaya pengolahan, serta pola pemasaran. Dalam industri tambang, kenaikan biaya kecil pada satu titik dapat terasa besar bila dikalikan dengan volume produksi yang tinggi.
Kinerja Nikel Antam Sedang Berada di Level Tinggi
Pada 2025, kinerja bijih nikel Antam tercatat sangat kuat. Produksi bijih nikel mencapai 16,11 juta wet metric ton, tumbuh 62 persen secara tahunan dibandingkan 2024 yang sebesar 9,94 juta wet metric ton. Volume penjualan bijih nikel pada 2025 mencapai 14,58 juta wet metric ton, naik 75 persen dari 8,35 juta wet metric ton pada 2024.
Capaian tersebut membuat nikel menjadi bagian yang sangat penting dalam pembahasan royalti. Jika skema baru membuat perusahaan lebih cepat masuk ke lapisan tarif tinggi, maka peningkatan volume produksi akan berjalan beriringan dengan kenaikan kewajiban setoran negara.
Namun, tingginya volume nikel juga memberi ruang bagi Antam untuk mengatur skala operasi. Perusahaan dapat memaksimalkan tambang yang memiliki biaya lebih efisien, menjaga kualitas bijih, dan memperkuat kontrak penjualan dengan pembeli domestik agar margin tetap terkendali.
Segmen Feronikel Ikut Menjadi Perhatian
Selain bijih nikel, Antam juga memiliki bisnis feronikel. Sepanjang 2025, produksi feronikel perseroan mencapai 16.064 ton nikel dalam feronikel, lebih rendah dibanding 2024 yang berada di 20.103 ton nikel dalam feronikel. Penjualan feronikel pada 2025 tercatat 10.528 ton nikel dalam feronikel, turun dari 19.452 ton nikel dalam feronikel pada tahun sebelumnya.
Penurunan itu membuat perusahaan perlu lebih hati hati dalam membaca perubahan royalti. Bila harga produk hilir dan biaya bahan baku tidak berjalan seimbang, tekanan pada margin feronikel dapat bertambah. Apalagi pasar feronikel dipengaruhi permintaan stainless steel global, terutama dari negara industri seperti China, India, dan Korea Selatan.
Walau revisi terbaru banyak dibahas pada bijih nikel, pelaku pasar tetap menunggu kejelasan untuk produk hilirisasi. Katadata mencatat bahwa revisi royalti untuk produk seperti feronikel, nickel pig iron, dan matte belum diumumkan dalam rincian yang sama.
Emas Tetap Menjadi Penopang Penjualan
Di segmen emas, Antam mencatat produksi dari tambang sebesar 743 kilogram sepanjang 2025, turun dari 1.019 kilogram pada 2024. Meski produksi tambang turun, volume penjualan emas sepanjang 2025 masih berada di level 37.406 kilogram atau 1.202.631 ons troi.
Angka ini menunjukkan bahwa emas tetap menjadi bisnis besar bagi Antam. Kuatnya minat masyarakat terhadap produk emas batangan membuat lini Logam Mulia tetap menjadi tumpuan penting. Dalam kondisi harga emas tinggi, penjualan dapat tetap kuat karena emas sering dipandang sebagai pilihan simpanan nilai saat pasar keuangan bergerak tidak menentu.
Kenaikan royalti emas tetap perlu dihitung cermat karena tarif baru dapat memengaruhi biaya dari produksi tambang sendiri. Bagi Antam, tantangannya adalah menjaga pasokan, mutu produk, harga jual, dan daya beli konsumen ritel agar bisnis emas tetap bergerak sehat.
Pasar Saham Merespons dengan Tekanan
Rencana penyesuaian royalti ikut memberi tekanan pada saham sektor tambang. Pada perdagangan Jumat, 8 Mei 2026, saham Antam terkoreksi 6,44 persen ke level Rp 3.630 per saham.
Katadata mencatat pelaku pasar merespons negatif usulan skema royalti progresif baru untuk sejumlah komoditas tambang utama. Beberapa saham tambang turut tertekan karena investor mulai memperhitungkan potensi penyusutan margin emiten.
Respons pasar seperti ini biasa terjadi ketika ada perubahan aturan yang menyentuh biaya langsung. Investor berusaha membaca seberapa besar ruang laba perusahaan dapat bertahan setelah kewajiban setoran meningkat. Untuk Antam, perhatian investor tertuju pada emas dan nikel karena dua segmen itu punya peran besar terhadap kinerja perseroan.
Hilirisasi Menjadi Perisai Utama Antam
Antam menegaskan akan terus mengevaluasi strategi operasional, efisiensi biaya, optimalisasi produksi, serta penguatan hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah produk mineral di dalam negeri. Perseroan juga menyebut tetap menjaga disiplin biaya dan keunggulan operasional agar daya saing tetap terjaga di tengah perubahan regulasi dan harga komoditas global.
Hilirisasi menjadi penting karena perusahaan tidak hanya menjual bahan mentah. Semakin besar nilai tambah yang dibuat di dalam negeri, semakin besar pula peluang perusahaan memperoleh margin lebih baik dibanding hanya menjual produk awal. Pada nikel, hilirisasi terkait feronikel dan rantai industri baja tahan karat. Pada emas, penguatan ada pada pemurnian, fabrikasi, dan jaringan penjualan ritel.
Meski begitu, hilirisasi juga membutuhkan biaya besar. Pabrik, energi, teknologi, logistik, dan kepastian pasokan menjadi bagian yang harus terus dijaga. Kenaikan royalti membuat Antam perlu menata prioritas agar proyek bernilai tambah tetap berjalan tanpa mengganggu kesehatan keuangan.
Pemerintah Mengejar Penerimaan, Industri Menjaga Daya Saing
Dari sisi negara, kenaikan royalti dapat memperkuat penerimaan bukan pajak. Pemerintah melihat sumber daya mineral sebagai aset nasional yang harus memberi manfaat lebih luas. Saat harga global tinggi, porsi penerimaan negara dinilai perlu ikut naik agar keuntungan tidak hanya berhenti di perusahaan tambang.
Dari sisi perusahaan, ruang gerak tidak selalu luas. Tambang membutuhkan belanja besar, izin panjang, pengelolaan lingkungan, keselamatan kerja, pengolahan, transportasi, sampai pemasaran. Bila royalti naik terlalu cepat, pelaku usaha harus mengimbangi dengan efisiensi dan pemilihan proyek yang lebih selektif.
Antam berada di tengah dua kepentingan tersebut. Sebagai BUMN, perusahaan harus mendukung penerimaan negara. Sebagai emiten, Antam juga wajib menjaga kinerja agar pemegang saham dan investor tetap mendapat kepastian usaha.
Antam Perlu Menjaga Kepercayaan Investor
Kenaikan tarif royalti akan membuat komunikasi perusahaan kepada pasar menjadi semakin penting. Investor membutuhkan kejelasan tentang besaran pengaruh biaya, strategi efisiensi, target produksi, serta prioritas belanja modal. Tanpa penjelasan yang rinci, pasar cenderung menilai kebijakan baru sebagai tekanan besar pada laba.
Antam sudah menyampaikan bahwa fundamental bisnis masih kuat dan portofolio usaha terdiversifikasi. Pernyataan itu menjadi sinyal bahwa perusahaan tidak melihat perubahan royalti sebagai hambatan yang tidak bisa dikelola. Namun, pasar tetap akan menunggu angka dan langkah lebih rinci setelah aturan baru benar benar ditetapkan.
Keterbukaan informasi akan menjadi kunci. Jika Antam mampu menunjukkan bahwa margin tetap terjaga, proyek hilirisasi tetap berjalan, dan penjualan emas serta nikel tetap kuat, kepercayaan investor dapat lebih mudah dipertahankan.
Arah Bisnis Antam Akan Ditentukan Hitungan Baru
Rencana kenaikan royalti emas dan nikel membuat Antam harus melihat ulang banyak sisi bisnis. Perusahaan perlu menghitung ulang biaya tambang, pola produksi, rencana penjualan, hilirisasi, serta efisiensi rantai pasok. Semua itu diperlukan agar kenaikan setoran negara tidak mengganggu kerja operasional.
Dengan portofolio emas, nikel, bauksit, alumina, dan feronikel, Antam masih memiliki ruang untuk menyeimbangkan kinerja. Komoditas yang kuat dapat membantu menahan tekanan dari segmen yang sedang melemah. Pada saat yang sama, perusahaan tetap harus cermat karena emas dan nikel adalah dua komoditas yang langsung bersentuhan dengan rencana revisi royalti.
Pemerintah mengejar penerimaan yang lebih adil dari sumber daya mineral, sementara Antam menyiapkan perhitungan agar bisnis tetap berjalan sehat. Di tengah perubahan aturan, kemampuan membaca biaya, menjaga produksi, dan memperkuat produk bernilai tambah akan menjadi penentu posisi Antam dalam industri tambang nasional.
